Eksistensi Kitab Kuning di Era Milenial

ADMINPESANTREN Jumat, 26 Juni 2020 06:30 WIB
54x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni Kitab Kuning

Ahmad Mu'afi Jazuli*

Bicara eksintensi kitab kuning di era milenial, saya rasa ini tidak akan ada habisnya bagaimana kita menggambarkan cikal bakal perjuangan para pendahulu kita, para Ulama' kita, pesantren-pesantren tua khususnya, di dalam menjaga dan melestarikan ajaran-ajaran ilmu agama yang ada di dalam kitab turast melalui metode sorogan atau kajian-kajian seperti pada umumnya.

Aneka ragam kejadian dan peroblematika umat akan terus berkembang sesuai zamannya. Sehingga jika yang dimaksud adalah eksintensi kandungan-kandungan tinta hitam yang ada dalam kitab kuning, saya rasa ini tidak bisa dikatakan eksintensi secara mutlak di era milenial ini. Karena tidak semua rumusan dalam kitab turast itu bisa diterapkan di masa sekarang. Ada beberapa rumusan yang memang sangat erat sekali kaitannya dengan iklim zaman. Terlebih dalam masalah transaksi jual beli. Sehingga kitab kuning terus mengalami pengembangan pemahaman yang kita kenal dengan kitab Mu'asharah (kontemporer).

Namun jika yang dimaksud adalah eksintensi kitab kuning sebagai peran sentral di dalam lestarinya intelektualitas dan kredebilitas sebuah keilmuan, maka jelas kitab kuning akan tetap terus dengan eksistensinya samapai di era milenial ini. Karena ke-tsiqahan kitab kuning yang ditulis oleh ulama-ulama terdahulu berikut munadharah (perdebatan) dan bentuk tabayun ketika ada ke-isykal-an dengan ulama lainnya, menjadi acuan utama bagaimana cara nalar pikir yang benar, perdebatan yang salim, otentitas sebuah kalam, kredebilitas, sanad, dan pertanggungjawabannya.

Lagi-lagi pesantren menjadi jantung didalam menerapkan dan mengembangkan metode yang sudah dilakukan para ulama terdahulu. Pesantren hadir sebagai wajah baru yang tidak ada pada masa sebelumnya. Pesantren-pesantren tua di Indonesia telah mewarnai corak keilmuan Islam dengan kitab kuningnya sebagai studi utama sudah jauh sebelum pendidikan formal ada. Kitab kuning sebagai keunggulan tersendiri bagi pesantren yang tidak ada dalam instansi pendidikan lainnya. Pesantren mampu memberikan nilai inovatif secara berangsur selama berabad-abad lamanya.

Literasi digital bagi kita (santri), misal hadirnya internet dan maraknya pengguna gawai di Indonesia sebagai bukti bangsa kita memasuki era globalisasi. Di kalangan pesantren, kita mengenal istilah al-Waqa’i Ghair al-Mutanahiyah (fenomena sosial yang tidak terbatas). Era sekarang ini menjadi bukti nyata fenomena sosial kita terus berkembang tak terbatas.

Namun di sisi lain, teks-teks keagamaan itu terbatas. Sehingga, kaum sarungan dalam hal ini dituntut untuk kreatif dan inovatif menyampaikan nilai keagamaan di tengah fenomena sosial yang terus berkembang ini. Era globalisasi menjadi tantangan sekaligus peluang baru bagi kaum santri untuk menyampaikan narasi-narasi keagamaan yang sesuai dengan ajaran Islam dengan tetap merujuk pada sumber yang tepat.

Bahtsul Masail menjadi ciri khas tersendiri bagi pesantren di dalam memecahkan ataupun mencari solusi dari setiap problem masyarakat yang dialami. Sejak zaman sahabat Nabi, duduk berdiskusi dalam banyak soal keagamaan sering dilakukan. Tradisi itu kemudian dilanjutkan oleh para ulama salaf, mereka berijtihad, mempelajari secara mendalam dan meneliti secara komprehensif, setelah itu mereka mengkonfirmasi temuannya kepada para pakar lainnya untuk menguji kebenaran pemahamannya. Maka muncullah istilah-istilah Ijma’, Qiyas, Qaul Rajih, Masyhur dan seterusnya. Kiai-kiai dan para santri di pesantren terus melestarikan tradisi ini dengan kemasan khas yang kita kenal dengan sebutan "Bahtsul Masail".

Kendati demikian, kita sebagai santri yang hidup di era milenial ini harus bangga dengan perjuangan pendahulu kita, tetap terus menjaga, menjunjung tinggi, melestarikan dan mengembangkannya menjadi satu jawaban atau solusi dari setiap problematika umat. Dengan tetap berpegang teguh pada Manhaj salafuna al-Shalih dengan ide-ide pikiran yang dituangkan dalam kitab-kitabnya, sehingga kitab kuning akan tetap terus eksis selamanya.

*Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, saat ini menempuh pendidikan di Ma'had Aly Jombang.