New Normal; Harus Tetap Produktif

ADMINPESANTREN Jumat, 10 Juli 2020 06:42 WIB
93x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni New Normal

Oleh : Hudaifi*

Baru-baru ini muncul sebuah penyakit yang tidak pernah teridentifikasi sebelumnya di kehidupan manusia, sehingga kemunculannya menyebabkan kepanikan luar biasa tidak hanya dalam negeri namun juga luar negeri. Penyakit tersebut berbentuk virus yang disebut dengan corona virus disease 19 dan penularan dari virus ini sangat cepat sehingga dalam waktu sekejap korban dari pandemi virus ini sudah ribuan bahkan jutaan orang. Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini bermacam-macam seperti flu, batuk, sesak nafas dan demam. Ratusan negara yang terserang virus ini memprioritaskan pencegahan penularan virus dan kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mencegahnyapun bermacam-macam mulai dari lock down dan social distancing. Namun hal tersebut tidak cukup efektif untuk melawan virus ini seperti halnya yang terjadi di negara kita Indonesia yang sampai saat ini korbannya masih meningkat pesat meskipun sudah beberapa kebijakan dibuat, dan pemerintah baru-baru ini memberikan kebijakan baru yang disebut dengan new normal.

Kebijakan new normal sendiri dibuat oleh pemangku kebijakan untuk mengantisipasi menurunnya beragam sektor yang ada seperti ekonomi dan pendidikan, yang dianggap mengalami penurunan setelah melakukan kebijakan PSBB besar-besaran. Hal tersebut perlu untuk dilakukan dengan mempertimbangkan segala hal yang ada khususnya dalam sektor ekonomi dan pendidikan. Meskipun pendidikan berjalan dengan sistem daring atau distance learning, namun hal tersebut hanya berlaku di beberapa daerah maju dan hal tersebut tidak cukup efektif bagi pelajar yang berada di wilayah rural yang notabenenya awam terhadap teknologi atau tidak tersedia network yang baik. Hal tersebut juga terjadi pada sektor ekonomi dimana masyarakat banyak dipaksa untuk tidak keluar yang membuat mereka tidak bisa mencari nafkah hidup. Pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid-19 telah menimbulkan kerugian ekonomi secara nasional. Kerugian itu hanya akan tertutupi apabila krisis dapat diakhiri sebelum menimbulkan kebangkrutan usaha secara massal. Maka perencanaan yang disebut new normal merupakan satu langkah yang mungkin bisa memperbaiki segalanya namun tetap pada prosedur dan protokol kesehatan yang telah dibuat oleh pemerintah.

Pandemi Covid-19 akan memperlambat roda segala sektor yang ada, namun tanpa upaya sigap dari pemangku kebijakan untuk selamatkan nyawa penduduk Indonesia, maka optimisme meningkat tidak akan pernah datang. Optimisme dan sentimen positif baru akan terjadi jika pandemi Covid-19 dapat diatasi, setidaknya menunjukkan tanda-tanda terkendali dan akhirnya dapat diselesaikan. Namun kenyataannya sampai detik ini tidak ada gejala covid-19 ini akan segera berakhir. Dibuktikan dengan statistik yang selalu meningkat pesat setiap harinya, bahkan Indonesia menjadi negara yang berada di urutan 30 dari 2015 negara yang terdampak dengan jumlah kasus 49.009, 2.573 meninggal 19.658 sembuh (worldometers.info). Hal ini menunjukkan bahwa upaya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak cukup efektif sehingga mau tidak mau kita terpaksa harus berdampingan dengan Covid-19 sebagai sebuah cara hidup di zaman new normal sampai vaksin dari virus ini ditemukan. Namun dengan semakin banyaknya presentase positif dari virus ini banyak yang beranggapan bahwa new normal akan juga gagal mencegah virus ini seperti halnya PSBB, karena new normal hanya bisa direalisasikan di sebuah daerah yang notabene korban positif covid 19 tidak terlalu masif.

Untuk merealisasikan skenario new normal ini maka pemerintah harus bisa mengajak semua elemen masyarakat agar koperatif dalam melaksanakan protokol kesehatan semacam cuci tangan sebelum dan setelah beraktivitas, memakai masker di setiap kegiatan yang ada dan menjaga lingkungan bersih. Hal tersebut perlu dilakukan tidak hanya untuk mengantisipasi penularan covid 19 namun juga demi kehidupan dan lingkungan yang sehat seperti halnya yang dilakukan beberapa pondok pesantren di Madura. Demi menjaga produktivitas pendidikan, pesantren-pesantren membuat semacam tindakan kooperatif (Pesantren Tangguh Covid 19) dengan cara mengikuti aturan yang ada sehingga proses pembelajaran tetap bisa dilaksanakan, dan pemangku kebijakan harus betul-betul bisa memberikan kesadaran ke semua elemen masyarakat akan pentingnya new normal demi menjaga produktivitas baik dari ekonomi, keagamaan dan khususnya dalam bidang pendidikan. Seperti yang dikatakan oleh juru bicara penanganan covid 19, Ahmad Yurianto bahwa penting bagi masyarakat untuk tetap produktif selama pandemi dengan sistem new normal.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Saat ini menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Pasca Sarjana Universitas Islam Malang.