Tahun Ajaran Baru; Pandemi dan Aktivasi Pendidikan

ADMINPESANTREN Jumat, 17 Juli 2020 06:11 WIB
428x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh : Hafidatul Millah*

Sejak China pada akhir bulan Desember 2019 mengumumkan adanya virus baru, dengan nama Corona virus atau dikenal juga sebagai Covid-19, hingga saat ini penyeberannya terus meluas begitu cepat. Tak membutuhkan waktu lama, virus endemik dari Wuhan China ini dalam beberapa bulan saja suda ditetapkan sebagai pandemik, dan menjadi permasalahan seluruh dunia. Di Indonesia sendiri penyebaran Covid-19 baru terdeteksi pada bulan Maret 2020 lalu. Sejak awal kemunculannya hingga dalam waktu beberapa bulan terakhir ini, dampak yang ditimbulkan luar biasa besar dan signifikan terhadap berbagai aspek. Mulai dari aspek perekonomian, pariwisata, aktivitas sosial, hingga dunia pendidikan.

Pendidikan di era pandemi ini cukup susah untuk dilakukan secara optimal. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna  memutuskan penularan Covid-19, dunia pendidikan pun terpaksa harus melakukan pembelajaran secara daring. Tentu bukan hal mudah bagi segala pihak untuk melaksanakan metode yang terbilang baru ini. Guru harus memutar otak menemukan metode pengajaran yang efektif, dan siswa pun harus mampu beradaptasi dengan metode pembelajaran baru ini.

Pada awal bulan Juni, Indonesia mulai menerapkan new normal, dimana masyarakat kembali beraktivitas seperti sebelumnya, tentu dengan beberapa aturan yang harus dipatuhi sesuai dengan protokol kesehatan. Begitu juga dengan kegiatan sekolah, kembali ke sekolah untuk menyambut akademik tahun ajaran baru menjadi topik yang banyak diperbincangkan, setelah beberapa bulan dilakukan secara jarak jauh. Kegiatan belajar mengajar secara daring membuat semua pihak harus ikut bertanggung jawab, mulai dari pemerintah, pendidik, dan orang tua. Dalam menyambut akademik tahun ajaran baru tak sedikit orang tua dari peserta didik yang merasa khawatir jika anaknya harus kembali ke sekolah (belajar secara tatap muka), mengingat orang yang positif corona masih terus bertambah. Pada tanggal 15 Juni lalu, melalui webinar yang diadakan langsung di YouTube Kemendikbud RI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Anwar Makarim akhirnya memberi keputusan, bahwa akademik tahun ajaran baru 2020/2021 di tengah pandemi akan dimulai pada tanggal 13 Juli 2020, dan akan dibuka secara bertahap. Nadiem menjawab rasa kekhawatiran para orang tua, dan memutuskan bahwa hanya zona tertentu saja yang diperbolehkan melakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka,  untuk zona kuning, orange, dan merah tetap dihimbau untuk melakukan pembelajaran jarak jauh, dan pembelajaran secara tatap muka hanya diperbolehkan bagi daerah yang berzona hijau, tentunya dengan terus mematuhi protokol kesehatan dan pengawasan ketat. Akan tetapi keputusan utama akan dikembalikan kepada orang tua, apabila orang tua masih merasa khawatir atau merasa berat hati untuk mengizinkan anaknya kembali ke sekolah, maka pembelajaran diperbolehkan untuk tetap dilakukan secara daring. Ada 85 kota/ kabupaten di Indonesia atau hanya 6% saja yang boleh membuka kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Begitu juga di pesantren, beberapa hari yang lalu Kemenag memberikan keputusan, bahwa pesantren diperbolehkan untuk masuk seperti semula (dilakukan secara tatap muka).

Dilansir dari CNN Indonesia, dengan keputusan kembalinya santri ke pesantren dan menjelang akademik tahun ajaran baru di tengah pandemi, menteri agama (menag) Fachrul Razi memberikan beberapa ketentuan utama kepada pendidikan keagamaan yang tidak berasrama, pesantren, serta pendidikan keagamaan berasrama. Berikut ketentuan utama yang harus diterapkan, pertama institusi pendidikan diharuskan membentuk gugus tugas percepatan penanganan covid-19, ketentuan kedua institusi pendidikan harus memiliki fasilitas yang memadai untuk mematuhi protokol kesehatan, ketiga madrasah atau pesantren dinyatakan bebas dari covid-19 dengan bukti surat keterangan dari gugus tugas percepatan penanganan covid-19 atau dari pemerintah daerah setempat, yang ke empat pimpinan, pengelola, pendidik, dan peserta didik dalam keadaan sehat, dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari pelayanan kesehatan setempat. Fachrul juga meminta setiap orang yang ada di lingkungan pendidikan keagamaan untuk mematuhi protokol kesehatan, seperti tetap menggunakan masker, menjaga jarak, dan mengecek suhu setiap siswa sebelum masuk ke dalam kelas, menghindari keramaian, dan dihimbau untuk rajin berolahraga.

Bagi pesantren yang sudah melakukan tatap muka dalam kegiatan belajar mengajar selama pandemi, kemenag meminta agar pesantren melakukan koordinasi dengan gugus tugas percepatan penanganan covid-19 daerah dan dinas kesehatan setempat. Koordinasi sangat penting agar mengontrol tempat tersebut apakah benar-benar aman dari covid-19. Jika pesantren tersebut baru akan diadakan tatap muka maka pihak pesantren agar melakukan pengecekan untuk memastikan apakah benar-benar aman dari covid-19 dan apakah sudah memadai protokol kesehatan, dan diminta berkoordinasi dengan satgas daerah dan dinas kesehatan setempat. Bagi pesantren yang belum menggelar pembelajaran tatap muka pada masa pandemi, pesantren diminta untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar dengan daring, dengan memberikan panduan, seperti meminta siswa agar memliki paket internet.

Terkait kembalinya santri setelah libur idul fitri, Gubernur Jawa Timur tak tinggal diam. Dilansir dari CNN Indonesia, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberi keputusan bahwa pondok pesantren di Jawa Timur kembali dibuka secara bertahap dimulai tanggal 15 Juni 2020 lalu. Khofifah menghimbau  kegiatan di pesantren harus menerapkan protokol pencegahan Covid-19 secara ketat. Protokol kesehatan sangat penting untuk diterapkan di pesantren, sebagaimana yang kita ketahui kondisi pesantren merupakan tempat yang sangat rentan persebaran Covid-19, kepada pihak pengelola pesantren atau madrasah lainnya yang akan menerapkan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dihimbau untuk benar-benar mengawasi secara ketat agar tetap bebas dari penyebaran Covid-19.

Dunia pendidikan tidak akan putus begitu saja, pemerintah, serta pendidik tidak akan pernah kehabisan cara dalam menyikapi tantangan pendidikan di tengah pandemi ini. Meskipun beberapa persyaratan tidak mudah kita jalankan, dan tentunya perlu adaptasi, kita berharap untuk tetap semangat agar kegiatan belajar mengajar terus berjalan secara maksimal. Beberapa keputusan dan ketentuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sesuai dengan protokol kesehatan serta himbauan dari Kemenag semua dilakukan untuk memprioritaskan keselamatan peserta didik, pendidik, orangtua, anak didik, serta masyarakat.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Linguistik Universitas Brawijaya Malang.