Santri dalam Membangun Citra Islam melalui Publisitas Media Digital

ADMINPESANTREN Selasa, 21 Juli 2020 06:52 WIB
301x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh : Mamluk MR*

Dunia digital merupakan integrasi dari berbagai peralatan teknologi komunikasi dan jaringan komputer yang dapat menghubungkan peralatan komunikasi yang tersebar di seluruh penjuru dunia secara interaktif (Wikepedia com). Digitalisasi menjadi suatu kebutuhan bagi setiap person, tidak pandang jenis, ras, suku, agama, pelajar, bisnisman, anak-anak, lansia dan dari lapisan manapun. Selain mudah penyajiannya digitalisasi juga lebih sistematis, simple, dan memiliki banyak peminat, sehingga sangat disayangkan jika disia-siakan begitu saja, tanpa ada pemanfaatan dan pengaplikasian yang tepat di dalamnya.

Pemanfaatan digitalisasi sangat beragam, di antaranya menjadi tempat untuk menambah pengetahuan, mengamalkan ilmu, mengasah kreativitas, sarana dakwah, mempererat tali silaturrahmi dan masih banyak lagi hal-hal yang dapat kita lakukan dari lahirnya digitalisasi. Hal ini sangat pas jika diaplikasikan dengan apik dan benar. Terlebih kaum terpelajar yang memiliki pengetahuan yang cukup untuk diamalkan, kreativitas yang mumpuni, dan semangat jihat yang kuat. Dari sinilah digitalisasi menjadi sarana yang tepat untuk menyebar luaskan ilmu, dan membumikan agama yang rahmat lil alamin.

Saat menyaksikan nama Islam tercemar di beberapa media, mulai dari Islam yang identik dengan teror, kekerasan, fanatisme, pemaksaan, dan tidak toleran, serta berbagai celaan lainnya yang kemudian mendefinisikan Islam sebagai agama yang tidak berperikemanusiaan, hal tersebut menjadi cambuk tersendiri bagi kita pemeluk Agama Islam. Sebab realitanya Islam tidak demikian. Islam merupakan agama cinta damai, dengan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan yang diutus untuk memperbaiki ahlak manusia. Maka menjadi hal yang mustahil jika Islam adalah agama yang memerintahkan pemeluknya untuk melakukan teror, kekerasan, dan permusuhan dengan orang yang beda keyakinan. Justru Islam merupakan agama yang sangat menganjurkan toleransi dan tidak membatasi interaksi sosial. Sebagaimana terekam dalam Al-Quran yang artinya:

“Dan tiadalah kami (Allah), mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (Q.S Al-Anbiya [21]: 107)

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan memepersekutukan-Nya. Dan, kami tidak menjadikan engkau pengawas bagi mereka: dan engkau sekali-kali bukanlah pengawas bagi mereka. Dan, janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan mereka (Q.S Al-An’am: 107-108)

Ketika dunia berganti menjadi zaman informasi, duniapun dikuasai oleh orang-orang yang piawai dalam digitalisasi, dan sayangnya pula dunia digital dikuasai oleh musuh Islam, dan kita hanya mampu menjadi penikmat saja.

Dari sinilah informasi didapat tanpa kepastian mana yang harusnya dijadikan pedoman, yang kemudian mempengaruhi mindset generasi Islam terlebih yang masih minim ilmu agamanya. Orang non muslim semakin gencar saja memporak porandakan citra Islam, dan ini bukanlah sebuah kebetulan. Pastinya ada oknum atau orang-orang tertentu yang berperan di balik hal ini. Ali bin Abi Thalib r.a berkata “Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”.

Dari sinilah sedikit demi sedikit terjadi pencucian otak, perubahan pola pikir, dari yang hak malah berubah menjadi batil, yang jelas menjadi samar, yang seharusnya dipercaya malah diragukan, dan dari Islam yang seharusnya ramah malah menjadi marah, dengan mudahnya para aktivis non Islam memutar  balikkan fakta. Sehingga menjadikan kesalah pahaman pengertian yang kemudian berakibat fatal bagi masyarakat Islam.

Dengan ini sangat perlu rasanya kita sebagai seorang muslim bertindak aktif dan respek pada lingkungan, terlebih kalangan pesantren yang memang patut berdiri di garda terdepan dalam memegang agama yang hanif ini. Membangun citra Islam yang sudah mulai luntur, menyuarakan Islam yang rahmat dan cinta damai, berpartisipasi dalam menyebarkan kebaikan, mengubah mindset buruk tentang Islam, gotong royong untuk berdakwah, dengan menggunakan teknologi sebagai sarananya dan dalil syariat sebagai rujukannya.

Berbicara mengenai dakwah yang terlintas dalam benak kita mungkin adalah nabi, sahabat, tabiin, ulama’, kiai, ustadz, lalu bagaimana dengan santri. Santri merupakan pewaris para ulama, orang yang nantinya menjadi generasi Islam dan memiliki kontribusi cukup besar dalam membumikan Islam, memperjuangkan Agama Allah, dan menjadi tumpuan harapan para pemuka agama. Mengingat santri sudah mendapat bekal agama yang cukup selama di pesantren dan santrilah yang memiliki tekad kuat untuk berjihad di jalan Allah belum lagi mental dan fisiknya yang juga kuat dan masih sehat.

Santri yang sebenarnya memang paling layak berbicara tentang Islam, dan melumpuhkan teori tak berdalil yang tersebar luas di luar sana, sehingga terwujudlah komitmen yang dibangun oleh santri sebagai generasi yang memeperjuangkan agama dan menunjukkan pada masyarakat luas akan Islam yang sebenarnya. Khoirun nas anfauhum lin nas.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, saat ini tengah menjalani pengabdian di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bira Timur Sokobanah Sampang.