Idul Adha, Hari Raya Cinta

ADMINPESANTREN Jumat, 31 Juli 2020 09:46 WIB
412x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh : Zuyyinah*

Allah telah menetapkan untuk kita, hari, minggu, dan juga bulan yang dua belas sebagai petunjuk waktu. Empat di antaranya ditentukan sebagai bulan-bulan pilihan, yang disebut dengan asyhur al-hurum (bulan di mana orang-orang Arab bersepakat untuk tidak berperang atau melakukan pembunuhan). Dzul Hijjah termasuk salah satu di dalamnya. Pada bulan ini terdapat suatu peringatan hari besar Islam yang disebut Idul Adha, Idul Kurban, Hari Raya Haji, atau Yaumun Nahr.

Idul Adha tentu tidak lepas dari sejarah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di mana ia dan juga istirnya, Siti Hajar diuji dengan ujian yang begitu berat. Melalui mimpi, ia diperintah menyembelih buah hatinya yang sudah berpuluh-puluh tahun didambakan, Ismail. Anak merupakan simbol kegandrungan, kecintaan setiap orang (berdasarkan akal sehatnya) kepada duniawi. Namun Nabi Ibrahim berhasil memutus hal itu dari dirinya, atas dasar ketaatan yang tulus dan cinta kepada Allah yang melebihi segala-galanya, dengan menunjukkan kesediaan melaksanakan perintah tersebut. Hingga pada akhirnya Allah tiba-tiba memerintah untuk menggantinya dengan seekor kambing. Sungguh sesuatu yang di luar nalar. Begitulah, karena dalam agama tidak harus selalu rasional, ada beberapa aspek di dalamnya yang memang tidak mampu dijangkau oleh akal manusia yang serba terbatas. Ta’abbudi begitulah Islam menyebutnya.

Kisah ini bukan semata-mata cerita atau sejarah yang menegangkan, tentu ada ‘ibrah atau pelajaran yang dapat diambil. Di antaranya, sebagai simbol sebuah pengorbanan. Spirit kesungguhan melawan hawa nafsu, kecenderungan untuk menikmati segala bentuk kesenangan tanpa batas, dan merasakan segala jenis keindahan yang sifatnya duniawi, harus kita tanamkan dalam diri masing-masing. Melihat kebahagiaan hanya tampak pada hubungan yang baik dan kedekatan dengan Allah. ماعندكم ينفد وما عند الله باق, apa yang di sisimu itu akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah itulah yang kekal. (Q.S. 16:96)

Mengganti objek kurban dari manusia menjadi hewan adalah bentuk pembelajaran bahwa manusia berhak untuk hidup, dan manusia yang lainnya atas nama apapun tidak boleh menghilangkannya. Penegasan akan hak hidup dan hak-hak dasar kemanusiaan lainnya kemudian hari disampaikan oleh Nabi agung Muhammad Saw. pada tanggal 10 Dzulhijah tahun ke 10 H dalam khutbahnya, “Wahai umat manusia, sesungguhnya darah kalian, harta, dan harga diri kalian itu mulia, sebagaimana mulianya hari ini dan bulan ini. Maka hendaklah yang menyaksikan, menyampaikannya pada yang tidak hadir, dan janganlah kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku, dan janganlah kalian saling memukul tengkuk satu sama lain (saling membunuh)”  (HR. al-Bukhari, no.1623). Hal ini menegaskan bahwa Islam sejak awal merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Ketika berkurban, berarti kita berusaha melepas sifat primordial yang cenderung mencintai dan menyayangi apa yang dianggap milik kita, untuk menunjukkan cinta pada Yang Maha Kuasa. Pada saat yang bersamaan, kurban menumbuhkan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Hal ini dalam rangka menumbuh kembangkan semangat berbagi dengan lain dan membentuk karakter masyarakat dan bangsa yang beradab. Maka, cinta dan ketaatan kepada Allah merupakan solusi bagi kehidupan keluarga dan juga sosial.

Hari ini memang kita tidak perlu “berkorban anak” sebagaimana Ibrahim hendak mengorbankan Ismail atas kepatuhan kepada Tuhannya. Namun, Ismail dalam kehidupan kita bisa berupa kedudukan, uang, mobil, keluarga, kelas sosial, ketenaran, pengetahuan, keremajaan dan segala hal yang kita cintai. Keikhlasan merelakan kepunyaan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah jalan pengorbanan kita. Seperti dikatakan Dr. Nur Rofiah, “Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail telah memberi teladan bagaimana menjaga jarak aman dengan apa/siapapun yang sangat kita cintai selain-Nya, termasuk cinta pada diri sendiri.” Mereka berhasil menujukkan kecintaannya pada Allah, iya, cinta mereka teruji.

Maka sudah selayaknya Idul Adha ini tidak hanya menjadi hal yang sifatnya rutinitas saja, melainkan sebagai bentuk refleksi diri kita agar menjadi lebih cinta; cinta kepada Tuhan sebagai pencipta dan juga cinta kepada sesama. Pesan cinta yang terkandung di dalamnya akan selalu relevan untuk diimplementasikan dalam kehidupan, tentu tidak berlebihan jika menyebut Idul Adha sebagai sebuah hari raya cinta.

*Penulis adalah ketua DPP Puteri Imaba dan alumni Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.