Antara Perintah Tuhan dan Usaha Penanggulangan Covid-19

ADMINPESANTREN Jumat, 14 Agustus 2020 06:16 WIB
143x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh : Abd. Rahman*

Bencana, dari sudut pandang teologi yang sering dipahami oleh manusia sebagai bahasa tuhan untuk “menegur” bahkan “memarahi” manusia. Dalam sudut pandang seperti ini, korban kerap kali mengalami dua kerugian. Pertama, kerugian materi yang mengakibatkan sebagian atau bahkan semua hartanya habis. Kedua, kerugian karena “disuudzoni” sebagai manusia yang diazab oleh tuhan.

Dalam hal ini, seperti yang telah terjadi di Provinsi Wuhan, China pada bulan Januari lalu, yaitu terjangkitnya virus Corona. Tidak sedikit komentar dari Netizen mengenai penyakit tersebut, mereka menganggap penyakit tersebut merupakan sebuah azab dari tuhan (Kumparan.com/27/01). Bukan hanya itu, kecaman juga datang kepada mahasiswa Indonesia yang dipulangkan dari Wuhan dan diisolasi di pulau Natuna, banyak komentar bahkan sempat terjadi demo atas pemulangan tersebut, mereka “warga setempat” tidak setuju apabila mahasiswa yang dipulangkan dari Wuhan diisolasi di Natuna, mereka khawatir mahasiswa tersebut membawa virus dan menyebar di Natuna.

Tentunya, terlepas dari semua itu, tuhan telah mewahyukan ayatnya melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad SAW.  Seperti yang dijelaskan dalam Surat al-Syu’arā’: 80 “dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku”. Mengenai ayat tersebut, Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab dalam kitab tafsir al-Misbah menjelaskan “Bila aku menderita sakit, Dialah yang menyembuhkan aku dengan mempermudah pengobatan sambil berserah diri kepada Allah”.

Segala penyakit yang Allah turunkan ke muka bumi akan selalu bersamaan dengan obatnya, tugas manusia sebagai makhluk yang diberi akal adalah berusaha, berpikir, dan mencari obat dari penyakit tersebut. Karena dengan usaha, Allah berjanji akan mempermudah segala urusan manusia, tentunya, tidak boleh lupa berserah diri atau tawakkal kepada Allah.

Indonesia, tidak sedikit tim medis yang gugur dalam proses penyembuhan rakyat Indonesia yang terpapar Covid-19, melalui ikhtiarnya, Bapak Presiden RI Ir. H. Joko Widodo memerintahkan Kemenkes agar segera mengatasi penyebaran Covid-19. Bukan hanya itu, pemerintah juga mengalokasikan bantuan dana melalui kemendes untuk masyarakat yang terkena pandemi corona sebesar 600.000,00 perbulan, selain itu bantuan juga berupa Program Keluarga Harapan (PKH), Program Kartu Sembako (PKS), Program Pra Kerja, Diskon Tarif Listrik bagi pelanggan 450 VA dan 900 VA Subsidi Jakarta, Jumat (10/04/2020).

Selain dari pemerintah, bantuan untuk masyarakat yang terkena pandemi juga datang dari lembaga-lembaga sosial seperti ACT-MRI, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Dompet Dhuafa, Dapur Masyarakat yang berbegerak dalam bidang bagi-bagi makanan. Dari organisasi Kemahasiswaan seperti Persatuan Pelajar Indonesia Dunia (PPI-Dunia), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), dan Forum Komunikasi Tafsir Hadis Indonesia (FKMTHI).

Dalam mengatasi covid-19, tidak sedikit komentar baik dari lembaga-lembaga kepada pemerintah Indonesia dengan menggandeng China dan Korea Selatan sebagai negara pembuat vaksin Covid-19. Namun, walaupun Indonesia sudah menggandeng kedua negara tersebut, menurut Slamet selaku ketua pelaksana kepala Badan Penelitan dan Pengembangan Kesehatan “Belum ada negara atau lembaga manapun di dunia yang berhasil membuat vaksin secara spesifik bisa menanggulangi Covid-19, walaupun ada, tetapi belum selesai melaksanakan uji coba. Sehingga belum bisa dipastikan bahwa vaksin tersebut bisa menyembuhkan Covid-19.

Tidak hanya dari sektor kesehatan, pada masa pendemi ini, pemerintah tidak hanya menginginkan masyarakat Indonesia sembuh dari covid-19, tetapi juga melihat dari sektor perekonomian, setelah sekian banyaknya komentar kepada pemerintah “Kenapa Indonesia tidak Lockdown?” tidak mengikuti jejak negara-negara tetangga seperti Malaysia, China, akhir-akhir ini Jerman juga menyatakan Lockdown, karena Indonesia juga tidak ingin perekonomian negara turun, sehingga berbagai cara diterapkan di Indonesia seperti WFH, PSBB, dan PJJ untuk para pelajar dan mahasiswa.

Dalam rangka stabilisasi sektor perekonomian di Indonesia, langkah pemerintah untuk tidak mengambil tindakan lockdown merupakan pilihan yang tepat. Namun, ketika berkenaan dengan urusan agama akan menjadi perbincangan yang sangat seksi ketika Kementerian Agama melarang untuk melaksanakan shalat jumat di masjid, bukan hanya larangan dalam pelaksanaan shalat jumat, tetapi larangan dalam melaksanakan shalat tarawih di masjid bahkan larangan dalam melaksanakan shalat Idul Fitri di masjid. Tidak sedikit yang pro terhadapat pemerintah sehingga harus melaksanakan shalat Jumat, Tarawih, dan Idul Fitri di rumah dan tidak sedikit pula yang kontra terhadap pemerintah, sehingga mereka tetap melaksanakan peribadatan seperti biasanya. Namun, perlu digarisbawahi bahwa larangan-larangan pemerintah di atas khusus untuk daerah yang berada di zona merah sehingga tidak ada larangan untuk daerah yang berada di zona kuning atau hijau.

Ketika ditarik sedikit dan kembali pada kutipan ayat di atas bahwa, langkah pemerintah Indonesia dalam berusaha sekuat tenaga dalam menaggulangi penyebaran Covid-19 sudah tepat dengan tidak melupakan sektor-sektor yang lain seperti sektor perekonomian. Walaupun pemerintah tidak sampai menyatakan Lockdown, namun masih ada banyak cara yang dilakukan pemerintah untuk menanggulanginya seperti mengikuti protokol kesehatan yang diwajibkan pemerintah dalam setiap kegiatan baik di luar rumah maupun di dalam rumah dengan tidak lupa memakai masker, handsanitizer, dan tentunya menjaga jarak dari orang lain.

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta