Hari Literasi Internasional

ADMINPESANTREN Selasa, 8 September 2020 07:13 WIB
203x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh : Badrud Tamam*

Sekitar 55 tahun yang lalu, 8 September sudah ditetapkan sebagai hari literasi atau aksara internasional yang digagas oleh UNESCO (United nation educational, scientific, and cultural organization). Tanggal yang diresmikan pada  17 November 1965 tersebut melibatkan semua negara untuk ikut andil dalam memberdayakan budaya baca dan melek huruf.

Arti sebuah pendidikan sangat berpengaruh dalam maju mundurnya suatu organisasi besar atau kecil. Dilansir dari data pendidikan dan literasi untuk sekolah yang diteliti oleh UNESCO, sebanyak 700 juta lebih warga di seluruh dunia masih buta huruf, termasuk dua pertiganya adalah wanita. Lebih parah dan mengerikannya lagi, sebanyak kurang lebih 70 juta anak banyak yang tidak sekolah atau putus di tengah jalan. 

Literasi atau aksara pada umumnya biasa diidentikkan dengan sebuah tulisan, tempat berbagi curahan, uneg-uneg, dan segala hal yang berhubungan dengan kegiatan menulis. Semuanya bisa dituangkan dalam bentuk aksara atau literasi; mulai dari meresensi, menulis puisi, menulis di majalah, blog, dan sebagainya. Sebagaimana kata pepatah Arab mengatakan, ما حفظ فرّ، ما كتب قرّ apa yang dihafal akan hilang, dan apa yang ditulis akan kekal. Seperti orang-orang terdahulu yang namanya tetap ada karena tulisannya masih ada. Imam abu Hamid Muhammad Al-Ghazali seorang yang multidisipliner keilmuannya sekaligus seorang sufi besar mengatakan, "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis".

Pada peringatan kali ini, dengan berbagai media yang bisa ditampung dan berbagai hal yang bisa diinovasikan, sebagai santri yang ada di lingkungan pesantren, dekat dengan semua sumber ilmu, harusnya kita lebih memperhatikan dengan baik terhadap peringatan ini. Lebih banyak menulis, membaca, dan menuangkan ide serta gagasan sebagai bentuk upaya untuk mengikat tradisi leluhur pejuang.

Hari aksara internasional adalah hari dimana semua negara memperingatinya secara serentak, mengakuinya sebagai bentuk kesemangatan untuk bisa lebih berkarya dan pembuktian bahwa literasi adalah salah satu tradisi untuk membentuk kreasi dan inovasi. Kata Napoleon Bonaparte, seorang kaisar sekaligus pemimpin militer dan politik Prancis yang menjadi terkenal saat perang revolusioner mengatakan, “Aku lebih takut pada orang yang memegang pena (penulis) daripada prajurit yang bersenjatakan lengkap”.

Hari literasi internasional harusnya ada perayaan yang lebih dan bisa membuat berarti di setiap tahunnya, seperti lomba menulis tingkat nasional atau seminar tentang kepenulisan dengan mendatangkan pakar-pakar penulis yang sudah hebat di bidangnya. Harapannya adalah agar budaya literasi tetap berjalan dan abadi sehingga selalu melahirkan orang-orang hebat di dalamnya. Di zaman yang tidak harus menggunakan senapan api atau senjata berkuda ini, menulis atau berliterasi lebih berguna dan efektif untuk menghindari ketertinggalan dari masa-masa keterpurukan.

Selamat Hari Aksara Internasional.

*Penulis adalah santri aktif sekaligus wakil penanggung jawab asrama kelas akhir Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata