Perempuan Surga: Peran Domestik Perempuan Madura dalam Menata Semesta

ADMINPESANTREN Jumat, 11 September 2020 07:06 WIB
263x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh : Henny Jufawny*

Tuhan itu indah, dan Ia menjadikan perempuan sebagai tajalli sifat jamaliahNya yang paling sempurna, pitutur seorang sufi. Klaim eksotis ini sejalan dengan sabda Sang Nabi bahwa perhiasan terindah dunia adalah seorang perempuan solehah. Itulah sebabnya, Adam masih memerlukan kehadiran Hawa di tengah kesempurnaan keindahan surga. Promosi-promosi surga sebagaimana tersurat dalam Al-Quran, tidak cukup hanya dengan taman al-Kautsar, aneka buah dan sungai-sungai, tetapi yang paling penting bidadari: sosok perempuan yang kecantikannya tak pernah terbayangkan. Mereka adalah makhluk penuh pesona dan estetik yang menjadi perburuan syahwat ukhrawi mayoritas laki-laki dalam mengabdi.

Bagaimanapun, perempuan punya peran sentral dalam kehidupan. Meskipun lebih banyak menjalankan lakonnya di balik layar, namun kehadirannya seringkali menjadi inspirasi kaum lelaki dalam berbagai gerakan-gerakan yang bernilai kearifan. Dalam beberapa sejarah para imam dan tokoh-tokoh besar, peran seorang ibu atau istri sangat signifikan. Tentu saja, perempuan yang menjadi sumber malapetaka juga ada, tapi tidak banyak. Isyarat yang menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, bukan berarti perempuan selalu cenderung salah tanpa bimbingan laki-laki. Justru hal itu menunjukkan perannya yang vital. Setiap organ tubuh yang penting, seperti otak, hati, paru-paru dan sejenisnya, selalu dilindungi oleh tulang yang bengkok dan kuat. Artinya, perempuan merupakan sebuah pelindung yang kuat bagi laki-laki (suami), sebagaimana dicontohkan oleh Siti Khadjiah kepada Nabi Muhammad.

Perempuan adalah manifestasi surga di dunia. Bukan hanya cantik, tetapi indah. Menyukai hal-hal yang indah dan melakukan sesuatu yang membuat indah. Insting estetika perempuan lebih tajam dan sesnsitif dari pada laki-laki. Banyak laki-laki yang menciptakan puisi, tapi perempuan adalah puisi itu sendiri. Qais yang pandai bersajak, lidahnya menjadi keluh dan kata-katanya luluh ketika di hadapan Laila.

Sayangnya, selama ini kerja perempuan dipandang sebagai  hal yang sepele, hanya  menyapu, ngepel, menyiram tanaman, memasak dan sebagainya. Pekerjaan itu bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa sekat-sekat gender. Benar! Tapi berbicara konsistensi, tentu perempuan punya nilai lebih. Dari aktivitas sederhana itu, perempuan telah mengambil peran penting dalam menjaga rumah dan lingkungan sekitar, untuk senantiasa rapi, bersih dan harmoni. Contoh sederhana, mayoritas perempuan lebih progresif dalam mengambil tindakan, ketika melihat sampah, pakaian, perabot rumah yang kotor atau ditaruh sembarangan, dibanding kaum laki-laki yang dalam satu hal ini, kurang bisa menjadi teladan.

Pesantren dalam Estetika Perempuan

Keindahan tidak bisa berdiri sendiri, dalam artian bebas nilai. Ia memerlukan dua perangkat nilai yang lain, yaitu kebenaran dan kebaikan. Perempuan yang bersolek terlalu lebih, tentu itu tidak baik, apalagi ketika tata riasnya sampai menanggalkan syariat agama, tentu itu tidak benar. Keindahan yang mengesampingkan satu dari, atau kedua nilai tersebut, akan mencederai konstruksi estetiknya, secara esoteris maupun eksoteris. Di sinilah pentingnya pesantren bagi seorang perempuan.

Nilai-nilai yang berhubungan dengan kebenaran dan kebaikan dalam berbagai teknis dan rupa, ditanamkan di dalam pesantren secara istiqamah. Kebiasaan yang ditanamkan oleh pesantren, meski awalnya terkesan memaksa, sangat efektif dalam membangun karakter yang diperlukan dalam keberlangsungan hidup sehari-hari, termasuk pula keseimbangan tata kosmos secara makro. Di pesantren, perebutan gelar solehah menjadi kompetisi akademik yang tiada henti. Gelar sarjana, bisa diperoleh dalam empat tahun. Sementara gelar solehah, tidak ada rumus tahun dan kompetensi yang jelas sebagai tolak ukur keberhasilan. Ia merupakan proses panjang, yang mungkin akan terus berlangsung sampai akhir hayat.

Memang besar kemungkinan, predikat solehah lebih mudah dimiliki oleh perempuan-perempuan pesantren. Solehah, adalah satu prestasi rohani yang di dalamnya berkumpul nilai-nilai kebenaran dan kebaikan, yang dipuncaki dengan keindahan. Sekali lagi: manifestasi surga dan tajalli jamaliahNya yang sempurna. Tinggal bagaimana, kesalehahan dapat terealisasi ke berbagai sektor kehidupan yang sangat kompleks dan problematis. Bukan sekedar solehah ritual yang hanya bersifat individual, juga menjadi solehah sosial, solehah profesi, solehah terhadap lingkungan alam.

Pesantren di Madura, terutama pesantren-pesantren kecil, rata-rata memiliki kedekatan primordial dengan alam. Banyak pesantren-pesantren yang dibangun di lahan-lahan yang berdekatan dengan sawah, ladang, gunung dan hutan. Tak jarang pula para santri (putera) pergi ke sawah, membajak, menanam dan memanen, sedangkan para santri perempuan selain membantu sewajarnya, juga menyiapkan makan untuk mereka. Pesantren mengajarkan para santri untuk lincah dalam segala bidang, baik urusan keilmuan atau pekerjaan sehari-hari yang bersentuhan langsung dengan alam. Pesantren merupakan lembaga keagamaan yang punya perhatian serius terhadap kelestarian alam, dan ini dapat dilihat dari beberapa santri (putera/puteri) mengabdikan diri sebagai aktivis lingkungan hidup.

Dapur dan Kelestarian Lingkungan

Feminisme telah mampu menggeser peran perempuan ke ranah yang lebih luas. Namun bagi masyarakat Madura, dapur merupakan wilayah kerja perempuan yang paling hakiki. Perempuan Madura lebih banyak mengurus rumah tangga dibanding mengejar karir. Meski kedengarannya tertinggal, kalau ikut tolak ukur modernisme, bagi masyarakat Madura, kelihaian perempuan di dapur lebih bernilai tinggi daripada lihai bekerja di luar. Bukan bermaksud mengesampingkan atau “menistakan” perempuan-perempuan yang bekerja, tapi masyarakat Madura masih memegang teguh prinsip nenek moyang: parcoma raddin mon ta’ tao atana’. Setiap orang, tentu akan membanggakan kelompok budayanya masing-masing. Biar dianggap tertinggal dan tradisional, lihai di dapur adalah “kewajiban” perempuan Madura yang super estetik.

Aktivitas di dapur memang menyita banyak waktu, dan cukup melelahkan. Di sinilah kesabaran dan kreativitas seorang perempuan dipertaruhkan. Sialnya, kadang semua itu masih dipandang sebelah mata, serta dianggap sebagai sesuatu yang kurang berdaya guna terhadap kehidupan sosial dan kosmos (alam semesta). Padahal, dari dapur itulah kelestarian dan pengrusakan lingkungan alam dapat bermula, melalui kebiasan sederhana yang disebut makan.

Makan adalah aktivitas primer yang sudah niscaya. Dapur merupakan lokusnya dan perempuan sebagai subjek sentralnya. Segala yang berkaitan dengan makanan selalu direkayasa di dapur untuk kemudian dihidangkan di meja makan. Sebelum sampai di sana, makanan melewati beragam proses dan teknik yang krusial dan dilematis: ia bisa mengandung manfaat dan mudarat sekaligus. Makanan yang sehat, bukan hanya makanan yang menyehatkan bagi konsumennya, tetapi juga menyehatkan bagi alam lingkungannya.

Misal, sebagus dan selengkap apapun kandungan gizi, protein dan vitamin dalam makanan yang disajikan, bila di balik itu menyisakan sampah yang merusak lingkungan, tentu itu bukan sesuatu yang diharapkan. Apalagi saat ini, banyak berserakan makanan-makanan yang serba instan, maka perempuan harus lebih kreatif dalam memanfaatkan SDA yang masih alami, sebagai bahan-bahan komsumsi harian. Jika hal itu tidak ditekan (mulai dari peningkatan penggunaan terhadap bahan dan makanan instan), maka bisa terjadi beberapa hal: peningkatan jumlah sampah dan pengabaian SDA yang jika dibiarkan lambat laun semakin memprihatinkan.

M. Faizi menuturkan bahwa bumi bisa saja rusak dan tercemar justru bermula dari meja makan. Dari makanan yang kita sisakan, bungkus nasi, botol air mineral, sedotan air, tisu dan sebagainya bisa menjadi pemicu kerusakan bumi jika tidak ditangani dengan benar. Maka, tangan perempuan harus cekatan membersihkannya, menghindarinya, bahkan kalau perlu mendaur ulang sampah-sampah tersebut. Jangan sampai dari aktivitas makan yang hanya berkisar 10-15 menit, menyisakan sampah yang baru bisa terurai sampai puluhan dan ratusan tahun.

Bayangkan saja: bila setiap rumah tangga menghasilkan sampah dapur yang berbahan-bahan plastik, alumunium seperti botol soft drink, yang memerlukan waktu ratusan tahun, bahkan di antaranya tak bisa diurai, seperti styrofoam, nasib bumi akan semakin sekarat di masa depan. Tentu saja, kiamat pasti terjadi dan bumi pasti rusak, tapi tidak perlu menjadi bagian dari sebab-sebab yang mempercepat kerusakan bumi dan alam semesta.

Peran ini memang terkesan sepele, dan hanya berlaku di ranah domestik. Masalahnya, terdapat jutaan rumah tangga yang setiap hari menyisakan sampah dapur, dan sampai sekarang menjadi problem lingkungan yang belum bisa ditangani dengan baik. Paling tidak, dengan kesadaran kesalehan terhadap lingkungan, perempuan bisa sedikit mengurangi penumpukan sampah, terutama yang berbahan plastik, dari aktivitas makan sehari-hari. Manusia butuh makan, dan tentu butuh pula lingkungan yang sehat dan lestari. Keduanya seharusnya membentuk simbiosis mutualisme. Sayangnya, kerakusan akan makanan, telah membuat banyak manusia mengabaikan kelestarian lingkungan.

Pada tataran ini, perempuan pesantren punya peran dan tantangan yang signifikan. Mereka tidak hanya diajari bahwa kebersihan sebagian dari iman. Lebih dari itu, diperkenalkan langsung dengan perilaku-perilaku yang dapat menjaga kelestarian dan keharmonisan lingkungan. Tinggal bagaimana tanggung jawab ini diejawantahkan dalam kegiatan komsumtif keseharian. Dalam hal ini, perempuan harus bisa mandiri, tidak perlu mengandalkan laki-laki.

Tentu masih ingat cerita Adam, bukan? Allah hendak menciptakan khalifahNya di bumi, tapi ternyata Adam ditempatkan lebih dulu di surga. Ini isyarat bahwa Allah hendak memperkenalkan kepada Adam tentang tatanan dan struktur panorama surga yang super indah, agar ia mampu menciptakan bayang-bayang surga di bumi: dengan terus menjaga kebersihan dan kelestariannya. Namun perlu dicatat: tugas itu tak bisa dilakukan Adam seorang diri, tanpa kehadiran Hawa, sang permaisuri. Wallahu A’lam!.

*Penulis adalah santri alumni tahun 2015, tinggal di perkampungan terpencil di pojok Timur Daya Madura.