Mari Hormati Guru Kita!

ADMINPESANTREN Jumat, 9 Oktober 2020 07:39 WIB
329x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Ismawati*

“Para siswa sekarang tentu saja berbeda. Sekarang sudah banyak teknologi informasi. Indonesia bahkan masuk sepuluh besar pengguna media sosial di dunia. Anak-anak kita bisa jadi fisiknya ada di kelas, tetapi imajinasinya sedang di New York atau belahan dunia lainnya,” Sultan Babullah. Peran guru tentunya juga berbeda, lebih tepatnya bukan berbeda akan tetapi bertambah peran dalam menghadapi dinamika para siswa.

Flashback pada zaman jahiliyah adalah zaman yang kita kenal dengan zaman kebodohan dan kesesatan, penuh dengan kebobrokan moral dan akhlak. Pada saat itu bangsa Arab menyembah berhala yang dianggap tuhan padahal mereka sendiri yang membuatnya (logikanya di mana?), paham animisme, bertukar istri dengan sesuka hati, menganggap perempuan tidak berguna sehingga mereka tanpa berdosa mengubur bayi perempuannya, cahaya kebenaran datang dengan diutusnya Rasulullah yang mengajarkan mereka (kita sekarang) untuk lepas dari kebodohan dan kesesatan itu. Singkatnya itulah salah satu di antara peran guru, bahwa guru ibarat lilin yang memberikan penerangan bagi sekitarnya. Tugas guru bukanlah menebang hutan, tetapi mengairi gurun (some1).

Pada zaman Rasulullah itu pula banyak perilaku para sahabat terhadapa gurunya, seperti yang dicontohkan oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib “Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja maka aku siap menjadi budaknya”. Ia mencontohkan bahwa sekecil apapun ilmu yang kita dapatkan maka jangan smapai menyepelekan. Ungkapan ini menjelaskan bahwa guru tidak hanya wajib dihormati, dihargai dan dimuliakan. Karena pernyataan beliau di atas menunjukkan bahwa guru mempunyai kedudukan yang sangat tinggi.

Imam Syafi’i juga pernah mencontohkan perilaku memuliakan gurunya. Pada saat itu ia bertemu dengan seorang lelaki tua dan tiba-tiba menyalami dan memeluk hangat lelaki tua itu. Hal itu membuat para murid dan sahabat lainnya heran pada Imam Syafi’i hingga salah satu dari mereka bertanya “Wahai Imam, mengapa engkau mau mencium tangan dan memeluk lelaki tua yang tak dikenal itu? Bukankah masih banyak ulama yang lebih pantas diperlakukan seperti itu dari pada dia?" Imam Syafi'i menjawab dengan lugas "Ia adalah salah seorang guruku. Ia kumuliakan karena pernah suatu hari aku bertanya kepadanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah dewasa. Ia pun menjawab, untuk mengetahuinya dengan melihat apakah anjing itu mengangkat sebelah kakinya ketika hendak kencing. Jika iya, ketahuilah bahwa anjing itu telah berusia dewasa." Hanya setetes ilmu itu yang Imam Syafi’i dapatkan dari lelaki tua itu, namun ia tidak membedakan perilaku penghormatannya dengan guru-guru besar lainnya.

Alkisah juga tentang Syeikh Jalaluddin Rumi, di mana kisah ini bermula ketika murid dari Syams Tabrizi ini mengundang gurunya itu ke rumah. Sang guru pun memenuhi undangannya dan mendatangi kediaman Syeikh Jalaluddin Rumi. Namun tanpa disangka tiba-tiba si guru meminta Syeikh Jalaluddin Rumi untuk membeli arak hingga si guru berkata “Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur” karena penghormatan dan kecintaannya pada guruya, akhirnya Syeikh Jalaluddin Rumi berangkat untuk membeli arak bagi gurunya dan masuk ke perkampungan yang biasa menjual arak, hingga akhirnya Syeikh Jalaluddin Rumi dilihat oleh orang-orang Nasrani, kemudian dibuntuti sampai di depan masjid yang biasa Syeikh Jalaluddin Rumi menjadi imam. Salah satu dari kaum itu berteriak dan menyibak jubah besar Syeikh Jalaluddin Rumi dan terlihatlah botol arak yang dipegang oleh Syeikh Jalaluddin Rumi, ia hanya bisa diam tanpa melakukan pembelaan yang dengan sikap itu menguatkan persepsi kaum Nasrani bahwa Syeikh Jalaluddin Rumi benar membeli arak.

Kemudian mereka silih berganti meludahi wajah Syeikh Jalaluddin Rumi dan memukulinya hingga surban yang dipakai di kepala jatuh ke lehernya, sembari mengatakan bahwa Syeikh Jalaluddin Rumi adalah pembohong. Tiba-tiba si guru datang dan menjelaskan “Hai orang-orang yang tidak tahu malu. Kalian telah memfitnah seorang alim dengan tuduhan minum arak. Ketahuilah bahwa botol itu hanya berisi cuka untuk memasak.”

Tujuan dari si guru hanya untuk mengajarkan hikmah pada si murid, dengan meminta melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh si murid. Dan hikmah dari kisah di atas, sang guru hanya ingin Syeikh Jalaluddin Rumi menyadari bahwa “Supaya kau paham kalau wibawa itu hanyalah khayalan saja. Mungkin kau selama ini berpikir kalau penghormatan dari orang-orang seperti mereka adalah sesuatu yang abadi. Sekarang kau lihat sendiri bukan? Hanya karena satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka mulai menghajarmu sampai hampir membunuhmu. Ini kebanggaan yang selama ini kau kejar sepenuh tenaga dan hilang sekejap. Bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman.” Pesan Tabrizi

Pada zaman millennial ini, masih adakah di antara kita yang sebegitu hormatnya kepada guru-giru kita? seperti bagaimana Sayyidina Ali bin Abi Thalib rela menjadi budak demi gurunya dan Imam Syafi’i hanya dengan secuil ilmu yang didapat dari si lelaki tua memperlakukannya tanpa beda dengan guru-gurunya yang lain. Juga kisah Syeikh Jalaluddin Rumi yang dipaksa melakukan hal tidak baik menurutnya namun si guru hanya ingin mengajarkan hikmah baik baginya.

Pada kisah-kisah di atas saya teringat beberapa kasus, yang pertama adalah di mana guru dianiaya oleh murid dan wali murid hanya karena guru meminta PR muridnya, kemudian si murid membentak si guru dan si guru menampar si murid. Padahal tujuannya tidak lain hanya untuk menegur si murid. Juga guru dipidanakan orang tua karena mencubit muridnya, padahal tujuan guru hanya mendisiplinkan murid agar dia ikut sholat berjamaah. Ada juga guru dikeroyok karena memulangkan muridnya, padahal semua itu karena si murid bertengkar dengan teman sekolahnya. Dan masih banyak lagi kasus serupa, seolah kasus seperti ini adalah hal yang wajar dan biasa-biasa saja.

Semoga kisah-kisah di atas bisa menjadi teladan bagi generasi saat ini, karena sungguh sangat ironis melihat generasi saat ini yang kurang menghargai sosok gurunya. Selamat Hari Guru Sedunia (Senin, 5 Oktober 2020).

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata dan mahasiswa pasca sarjana ilmu psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.