Bahasa Arab dan Tantangan Global

ADMINPESANTREN Selasa, 13 Oktober 2020 07:12 WIB
285x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh : Ach. Faisol*

Kekuasaan gereja Katolik yang sangat dominan pada masa kegelapan (الْعُصُوْرُ الْمُظْلِمَةُ/ dark ages) di Eropa mengakibatkan munculnya pergerakan yang berupaya untuk mengikis kekuasaan gereja yang terlalu besar pada masa itu. Pergerakan ini memunculkan aliran pemikiran yang mengharuskan terjadinya pembedaan atau pembatasan antara aktivitas agama dan aktivitas dunia, sebab munculnya aliran pemikiran keilmuan sering dianggap bertentangan dengan doktrin gereja.

Akan tetapi, hal itu tidak berlaku dalam Islam sebab Islam tidak mengenal pembedaan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Hal ini terbukti bahwa pada masa kegelapan yang terjadi di Eropa, Islam justru mengalami masa keemasan dan kejayaan. Saat itu terjadi pembaharuan dan perkembangan pemikiran oleh para ilmuwan Muslim, bahkan menjadi dasar landasan pengembangan keilmuan sampai saat ini, seperi ilmu aljabar. Ilmuwan Muslim klasik memiliki pengetahuan yang mendalam, baik dalam ilmu agama maupun ilmu yang bersifat dunia dan proses perpaduan tesebut menjadikan umat Islam berjaya ketika di Barat mengalami masa kegelapan.

Akan tetapi, hal ini tidak pernah diketahui oleh dunia, terutama oleh para generasi muda Muslim, sehingga generasi muda Muslim saat ini melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Barat –yaitu melakukan pemisahan antara aktivitas spiritual/agama dan aktiviras duniawi– yang membuat cahaya Islam semakin redup.

Saat negara Barat semakin maju ketika jauh dari agamanya, umat Islam semakin tertinggal ketika meninggalkan agamanya. Untuk itu, generasi muda Muslim saat ini harus melakukan proses penanaman nilai-nilai keislaman kembali agar mereka mampu melakukan sinergi antara ilmu agama dan ilmu duniawi.

Di antara proses penanaman nilai-nilai keislaman ialah dengan mempelajari bahasa Arab, sebab dengan bahasa Arab generasi muda Muslim akan mempu menggali nilai-nilai Islam dari sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Mereka juga akan mampu memahami kitab-kitab berbahasa Arab yang menjelaskan isi Al-Qur’an dan Al-Hadits, sehingga mereka akan menjadi generasi muda Muslim yang mampu mengembalikan cahaya Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh ilmuan Muslim klasik.

Tak diragukan lagi pentingnya bahasa Arab bagi umat Islam, terutama bahasa Al-Qur’an dan Hadits, dua pilar pokok dalam Islam. Hal yang wajar dan tak bisa disederhanakan, apalagi dituduh arabisme ketika Imam Syafi’i dan Imam Syathibi, mensyaratkan bagi siapa-siapa yang mau berijtihad untuk terlebih dahulu menguasai ilmu bahasa Arab. Bahasa Arab juga adalah bahasa ilmu, terutama keilmuan Islam klasik. Beratus-ratus ribu buku dari berbagai disiplin ilmu warisan nenek moyang kita memakai bahasa Arab. Keistimewaan lain bahasa Arab, dibanding bahasa-bahasa dunia lainnya, adanya ikatan kuat dengan agama. Karena kitab suci agama Islam diturunkan dengan bahasa Arab. Sementara bahasa asli Taurat dan Injil kini sudah punah.

Pada masanya dulu, tepatnya sebelum Barat memasuki masa kebangkitan (عَصْرُ النَّهْضَةِ/ renaissance), berabad-abad lamanya bahasa Arab menjadi bahasa dunia. Ia merupakan bahasa politik, ekonomi, bahkan dunia keilmuan. Ada beberapa sebab yang membuatnya jadi bahasa peradaban dunia, di mana setiap orang yang berkeinginan maju, merasa berkewajiban menguasainya. Di antaranya yang paling penting adalah adanya proyek arabisasi buku-buku administrasi pemerintahan pada masa dinasti Mu’awiyah (Khalifah Abd. Malik 685-705 M dan anaknya al-Walid 705-710 M) yang mau tidak mau memaksa para pegawai pemerintahan yang tidak bisa berbahasa Arab untuk belajar bahasa Arab. Selain itu, adanya proyek terjemahan secara besar-besaran, terutama buku-buku keilmuan, pada masa dinasti Abbasiyah (200 H/ 900 M), dari bahasa Yunani, India, Suryani ke dalam bahasa Arab, yang mengakibatkan orang Islam menjadi bangsa yang luar biasa kreatif dan kemudian menjadikan Islam sebagai kiblat keilmuan dan peradaban dunia.

Keadaan di atas itu terjadinya dulu. Kalau kita amati sekarang, kondisinya akan tampak berbalik. Apalagi sejak memasuki era globalisasi, keadaannya makin mengkhawatirkan. Bahasa Arab perlahan tapi pasti posisinya mulai tergusur, dan bahasa Inggris menahbiskan diri sebagai bahasa nomor satu dunia. Permasalahannya tidak berhenti sampai di situ. Akibat globalisasi zaman, dan budaya konsumtif yang tinggi di kalangan negara Arab, ditambah ledakan informasi, secara sadar atau tidak sadar, mau atau tak mau, bahasa Inggris meringsek masuk ke dalam sistem-sistem sosial di kalangan Arab sendiri. Misalnya, dalam bidang pendidikan, banyak sekolah-sekolah di sana, terutama dalam mata pelajaran eksakta: kimia, fisika, matematika dan biologi, bukunya menggunakan bahasa Inggris.

Begitu juga dalam dunia teknologi, kosa kata asing tidak bisa dibendung. Celakanya kemudian bahasa itu diterima apa adanya, karena secara level sosial akan dinggap sebagai orang modern. Perubahan kalimat asing hanya dari sisi tulisan dari latin ke arab, bunyi tetap sama: laptop, mouse, keybord, mobile, oke, dan lain-lain. Kondisinya tidak seperti abad dua Hijriah dulu. Walaupun kosa-kata asing banyak bermunculan, tapi tidak langsung dimakan mentah-mentah. Ada proses yang sangat ketat, di mana kosa kata asing sedapat mungkin dicarikan kosa kata yang semakna, kalau tidak ada dilakukan penerjemahan, kemudian kalau masih tidak bisa baru diterima apa adanya.

Adanya doktrin pemisahan antara agama dan dunia juga sangat berpengaruh terhadap eksistensi bahasa Arab, sehingga bahasa Arab yang notabene bahasa agama, dianggap hanya sebatas bahasa tahlilan, bahasa wiridan, bahasa zikiran, atau bahasa yang hanya berhubungan dengan alam akhirat.

Semua pemicu merosotnya bahasa Arab di atas, harus disadari dan dihindari oleh setiap generasi Muslim, supaya mereka tidak terjerumus dalam lubang yang sama.

Oleh karena itu, generasi Muslim sekarang harus optimis, tidak boleh pesimis. Tantangan demi tantangan yang dialami bahasa Arab harus dihadapi, karena setiap tantangan pasti memberikan peluang jika berusaha untuk menghadapi tantangan itu dengan berpikir positif (al-tafkîr al-îjâbî) dan bersikap penuh kesungguhan dan kearifan, termasuk tantangan yang kini dihadapi bahasa Arab. Dunia memang pasti berubah, tapi siapa aktornya?

*Penulis adalah Musyrif di Lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) dan Kasi. Penerbitan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata.