Peradaban Pesantren Untuk Peradaban Islam Dunia

ADMINPESANTREN Jumat, 16 Oktober 2020 07:50 WIB
726x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Iksan K. Sahri*

Berbicara konstalasi Islam di dunia saat ini terdapat setidaknya empat negara yang saling mengkampanyekan gaya Islam ala mereka ke dunia. Pertama, Saudi Arabia dengan Islam wahabisme-nya, kedua, Iran dengan Islam Syi’ah-nya, ketiga, Turki dengan Sekularisme Islam-nya, keempat, Mesir dengan Islam al-Azharnya. Di sela-sela kedigdayaan empat negara Islam tersebut dalam mewarnai peradaban Islam kekinian tanpa menafikan negara-negara Islam lainnya, muncul kekuatan alternatif Islam dari Asia Tenggara yang diwakili oleh Indonesia dan Malaysia.

Indonesia dan Malaysia menjadi wajah alernatif Islam dunia karena setidakya tiga hal, pertama, populasi Islam yang menjadi mayoritas di kedua negara. Kedua, warna Islam yang sangat mencolok di kedua negara dalam kehidupan sehari-hari dan dalam tatanan bernegara. Ketiga, stabilitas kedua negara yang baik.

Walau begitu, kedua negara mayoritas Muslim ini memilih jalan berbeda untuk menjalankan sistem sosial kenegaraannya. Menjadi bukti akan Islam yang cair. Malaysia lebih nyaman menjadi negara monarki demokratis sedangkan Indonesia memilih jalan republik. Kabar baiknya, kedua negara memberikan tempat yang nyaman bagi tumbuh kembang dan dijalankannya agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan Islam menjadi warna dari peradaban yang dibangun oleh kedua negara, mulai dari konstitusi negara hingga bangunan-bangunan yang bernafaskan nilai-nilai atau spirit keislaman. Saat ini Malaysia dihuni oleh 19.5 juta umat Islam atau 61.3% dari total populasi sedang Indonesia dihuni oleh 209.1 juta atau 87% dari total populasi. Kedua negara Muslim ini dikenal dengan keamanannya yang baik, perekonomiannya tumbuh stabil, serta pengetahuan relatif bertumbuh ke arah yang positif.

Hanya dalam masalah isu-isu atau wacana keagamaan, Indonesia mengambil jalan yang sedikit berbeda dengan Malaysia yang masih cenderung bermain aman dan ketat dalam mengurusi masalah tersebut karena semua diatur oleh pihak kerajaan dan konstitusi Malaysia. Indonesia menjadi negara yang mengambil langkah sebaliknya. Negara mayoritas Islam yang menganut sistem demokrasi dan menjadi negara demokrasi ketiga terbesar di dunia setelah Amerika dan India menjadikan Indonesia sebagai “pasar bebas” pemikiran-pemikiran Islam walaupun masih didominasi oleh warna sunni yang begitu kental. Lebih tepatnya corak pemikiran keislaman di Indonesia adalah corak pemikiran Islam sunni yang dinamis. Wacana keislaman di Indonesia berkembang dan bahkan cenderung punya warna  pelangi, jika dibandingkan dengan negara tetangganya Malaysia.

Salah satu motor gerakan wacana keislaman di Indonesia adalah kaum santri. Kaum santri itu jika menggunakan bahasa Falikul Isbah (2016) terbagi dalam dua kategori; tradisional dan modern. Para santri tradisional ini identik dengan Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Wathan, al-Wasliyah, dan sejenisnya. Sedangkan santri modern identik dengan Muhammadiyah, Persis, dan sejenisnya. Mereka inilah yang banyak mengembangkan pemikiran-pemikiran keislaman dalam banyak bidang. Baik dalam masalah fikih, teologi, lingkungan, politik, ketatanegaraan, dan lain sebagainya. Pemikiran-pemikiran tersebut berkembang dan dapat tumbuh dalam desain negara Indonesia yang berkedamaian.

Hanya dalam konteks pergulatan pemikiran di era global, pertanyaan lanjutannya adalah di tengah pergulatan ini, apakah Islam ala Indonesia akan cenderung tereduksi, terpukul lalu menghilang ataukah ia dapat bertahan, berkembang, dan mewarnai wacana keislaman di tingkat dunia? Marilah pertanyaan sederhana tapi cenderung ambisius ini kita jawab secara perlahan dimulai dari pemetaan Indonesia di tengah-tengah percaturan Islam di dunia.

Pada masa lalu tatkala Timur Tengah telah berada dalam cahaya naungan Islam yang identik dengan masa keemasan saat itu, di Nusantara masih berdiri tegak dengan budaya Hindu Budha. Al-Ghazali dan Jayabaya misalnya, mereka hidup satu kurun, yakni abad ke-11 Masehi. Sebagaimana al-Ghazali yang meninggalkan karyanya, seperti Ihya ulum al-Din, Jayabaya pun meninggalkan karya tulis, yakni Jangka Jayabaya.

Sebagaimana banyak disebut para ahli bahwa Islam baru masuk ke Nusantara baru pada abad ke-13 melalui para pedagang Gujarat India dan pendakwah Islam asal Persia. Salah satu bukti yang masih terawat dari adanya pengaruh India dan Persia ini secara gamblang terlihat dari berbagai tradisi Islam India dan Islam Persia yang masih terjaga seperti pengucapan pees, jeer, jabar dan lain sebagainya. Budaya-budaya keagamaan kita juga mengkonfirmasi hal yang sama seperti perayaan haul, peringatan kematian, dan lain sebagainya.

Walau relatif baru, pada masa lalu, kita telah mencatat bahwa para ulama-ulama kita sudah berhasil menembus percaturan Islam global dengan ditandainya para orang-orang Nusantara yang banyak mengajar di Mekkah yang saat itu menjadi pusat peradaban dari berbagai pertumbuhan keilmuan keislaman dunia. Layaklah kemudian kita sebut Shaikh Nawawi Al banteni, Shaikh Rauf Al-Singkili, Shaikh Ahmad Khatib Sambas, dan banyak lagi yang lain. karya-karya ulama Nusantara saat itu pun juga banyak dicetak di dunia Arab dan Afrika Utara dan diajarkan di sana. Ini menjadi penanda bahwa sejak berabad lalu, kita telah memiliki modal untuk berkiprah lebih bagi dunia. Akan tetapi keterlibatan para ulama-ulama kita di dunia internasional ini menjadi semakin terdesak saat kolonialisme benar-benar mencengkram Nusantara terutama pasca perang Jawa yang dikomandani Pangeran Diponegoro yang hampir meluluh lantakkan pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Hubungan para santri dengan dunia Internasional ini mengkhawatirkan pihak kolonial Belanda, sehingga melalui politik ordonansi mereka semakin memperketat orang-orang yang hendak naik haji serta memberlakukan beberapa syarat agar para haji santri ini tidak menjadi ancaman keamanan di kemudian hari. Ketakutan mereka ini terutama setelah Hindia Belanda dilanda pemberontakan perang Jawa yang dikomandani seorang ningrat yang santri sekaligus haji yaitu Pangeran Diponegoro yang berlangsung pada 1825-1830 M. Lewat ordonansi Belanda inilah kemudian gelar haji disematkan kepada mereka-mereka yang sudah pergi haji untuk mempermudah kontrol pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Saat Kolonialisme berhenti dan negara-negara Islam muncul ke permukaan dengan ciri khasnya masing-masing, maka kita melihat bahwa orang-orang Islam tidak berada dalam satu ejawantah narasi keislaman yang sama. Berdirinya Saudi Arabia di semenanjung Arabia menjadi penanda disebarkannya wahabisme yang menjadi mazhab negara, di sebelah timur semenanjung Arab, tatkala Ayatullah Khomaini berhasil melakukan revolusi Islam Iran, Syiah pun menjadi mazhab resmi negara Iran, begitu juga cara berpikir sekularisme Islam yang dimulai sejak era Kemal Attaturk yang meruntuhkan kekhalifahan Turki Ustmani yang memang berada di ambang keruntuhannya.

Pesantren Menjadi Rujukan Alternatif

Setelah era di mana kita selalu mengirim para santri kita belajar ke Al-Azhar Mesir, Hadramaut Yaman, Saudi Arabia dan kemudian diikuti tempat-tempat lain seperti Syiria, Pakistan, Iran, dan Turki yang menjadi destinasi belajar para anak-anak muda kita. Sekarang, Indonesia juga mulai menjadi persinggahan mencari ilmu para pelajar dan anak-anak muda dari berbagai belahan dunia Islam.

Dulu pada era Orde Baru kita akan kesulitan untuk menjumpai para santri yang berasal dari luar negeri. Santri asing ada pada masa itu, tapi jumlahnya sangat sedikit. Sekarang setelah dua dekade lebih berlalu, kita akan menemukan dengan mudah para santri yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. Termasuk para santri  yang berasal dari wilayah berpopulasi Arab seperti Libya, Pakistan, Yaman, dan Mesir. Iya, Indonesia telah menjadi wilayah alernatif bagi warga muslim dunia untuk belajar tidak saja keilmuan keislaman tapi juga ilmu non-keagamaan. Di Pesantren, menurut data Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (PD Pontren), sebagaimana disampaikan oleh Mantan Direktorat PD Pontren, Ahmad Zayyadi terdapat lebih dari 9000 santri asing di seluruh pesantren di Indonesia. Ini belum termasuk mereka yang belajar di perguruan tinggi keagamaan Islam dan perguruan tinggi umum.

Hal apa yang menarik para santri asing itu untuk belajar atau nyantri di pondok pesantren di Indonesia, penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tahun 2018 ini bisa menjadi acuan, menurut temuan Puslitbang, ketertarikan tersebut terjadi karena terdapat kesamaan paham keagamaan sunni, figur pimpinan, akhlak Islami, dan praktek dakwah, yang membuat santri asing termotivasi untuk belajar di pondok pesantren Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif yang dilakukan di 14 pesantren dan 1587 orang santri asing yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, seperti Darul Habib di Sukabumi, Daruttauhid Bandung, Albahjah Cirebon, Wahid Hasyim Semarang, Sirajul Mukhlasin Magelang, Al-Irsyad Boyolali, Al Fatah Temboro, Wali Barokah Kediri, Darul Lughah Bangil, Amanatul Ummah Mojokerto, Madinatul Fata Aceh, Ar-Raudlatul Hasanah Medan, Al-Ihsan Banjarmasin, dan PMI Dea Malela Sumbawa. Negara asal dari setiap santri asing pun berbeda-beda, ada yang berasal dari Malaysia, Singapura, Jepang, China, Rusia, Jerman, Inggris, Belgia, dan negara lainnya.

Menurut pengakuan mereka, karakter pesantren sebagai pusat pengembangan Islam wasatiyah yaitu Islam yang moderat, mewarisi jejak panjang khazanah Islam global, dan hidup dalam kedamaian, nampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi santri asing. Bukan hanya itu, pesantren yang sudah memiliki budaya kosmopolitan dalam menerima santri asing juga menjadi daya tarik.

Pada awal Februari 2020, Khaerudin al-Junied, seorang peneliti keislaman dari Singapura menyatakan kepada penulis bahwa banyak pemikiran-pemikiran keislaman yang brilian di Indonesia. Tapi masalahnya menurut dia, banyak orang yang tidak membaca karya-karya para cendekiawan asal Indonesia karena tulisan mereka ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris. Para ilmuan Indonesia banyak membaca buku-buku berbahasa Arab dan Inggris, menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka tapi mereka enggan untuk menulis atau menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa Arab atau Inggris. Sehingga inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi para cerdik cendikia santri di Indonesia.

Berdasar pengalaman penulis sendiri melancong ke berbagai negeri, beberapa kali berjumpa dengan alumni luar negeri pesantren di Indonesia. Mereka bukan orang Indonesia tapi mereka belajar di pesantren Indonesia. Salah satu karakter khas yang saya lihat dari para alumni pesantren tersebut adalah kemampuan beradaptasi dan bercampur baur dengan masyarakat sekitarnya, menghormati budaya yang relatif berbeda dengan agama Islam yang mereka anut tanpa kehilangan jati dirinya sebagai orang Islam yang taat dan menjalankan rukun Islam.

Melihat semua itu, Indonesia kini, telah menjadi rujukan alternatif bagi pembelajaran Islam di tingkat global. Islam Indonesia banyak dilirik karena ia berhasil menggabungkan Islam dengan nation state (negara bangsa) di mana di banyak negara Islam masih menjadi masalah dan sering kali berhadap-hadapan. Pada akhirnya, pendidikan Islam di Indonesia lebih khususnya pesantren harus berani berpikir besar dan bertindak besar. Mempertahankan tradisi memang baik tapi ia tak lagi cukup, mengaplikasikan kebaharuan juga baik tapi kini juga tak lagi cukup. Pesantren saat ini harus berani melakukan terobosaan-terobosan baru yang bahkan belum pernah dilakukan sebelumnya bukan saja oleh orang pesantren tapi juga oleh umat manusia secara umum. Tujuan puncaknya, bukan lagi hanya untuk tegaknya agama Islam tapi juga menjadi rahmat bagi semesta alam.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata serta Direktur Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya.