Membumikan Alquran di Indonesia Abad 21; Tantangan dan Peluang

ADMINPESANTREN Selasa, 20 Oktober 2020 06:43 WIB
1598x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh : Hasan Abrori*

Istilah membumikan Alquran bagi publik Indonesia memang terbilang baru muncul ke permukaan sejak Prof. M. Quraish Shihab menulis karya monumental pada 1994 dengan tajuk Membumikan Alquran; Fungsi dan Kedudukan Wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat. Kalimat itu lantas populer di kalangan cendekiawan, mahasiswa, dan tak terkecuali para juru dakwah. Membumikan Alquran maknanya mengimplementasikan nilai-nilai luhur Kitab Suci tersebut di kehidupan sehari-hari. Begitulah tujuan risalah agar nilai-nilai Qurani teraplikasikan dalam kehidupan riil di bumi, bukan mengawang-awang di langit. Sebagaimana Umar bin Khattab ra berkata, “tak pernah satu pun ayat yang sahabat pelajari langsung dari Rasul kecuali telah mereka praktekkan”.

Alquran adalah kitab suci umat Islam dan diturunkan Allah SWT pada tanggal 17 Ramadan sebagai hudan (petunjuk), bayyinah (penjelas) dan furqan (pembeda antara yang benar dan salah) dari Lauh al-Mahfuzh ke Bait al-Izzah (langit dunia) secara sekaligus (30 juz). Demikian menurut jumhur ulama berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas ra. (HR ath-Thabarani)[1].

Allah SWT berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 184;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan  (antara yang haq dan yang bathil)”.

Al-Hafizh Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Bashrawi Ad-Dimasyqi (700-774) yang lebih terkenal dengan sapaan Ibnu Katsir –rahmatullah ‘alaih-, berkata mengenai ayat ini dalam Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim (I/460-461 –Darul Hadits), “Allah menyanjung bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lain dengan dipilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Quran Al-‘Azhim. Karena hal ini pula Dia mengistimewakannya, demikian juga Allah memuliakan kitab-kitab suci yang seperti Taurat dan suhuf (lembaran) yang diturunkan kepada Ibrahim as juga pada bulan yang sama sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah– [Al-Musnad VI/107] berkata, Abu Sa’id Maula Bani Hasyim telah bercerita kepada kami, ‘Imran Abul ‘Awwam telah bercerita kepada kami, dari Qatadah, dari Abul Malih, dari Watsilah yaitu Al-Asqa’, bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda;

أنزلت صحف إبراهيم في أول ليلة من رمضان ، و أنزلت التوراة لست مضين من رمضان و الإنجيل لثلاث عشر خلت من رمضان و أنزل الله القرآن لأربع و عشرين خلت من رمضان

“Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada enam Ramadhan, Injil diturunkan pada tiga belas Ramadhan, dan Allah menurunkan Al-Quran pada dua puluh empat Ramadhan.”.

Berbicara tentang "membumikan Alquran", tentu kita sudah mengenal buku yang dikarang oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, juga buku yang dikarang oleh Dr. Hamka Azka yang berjudul "Membumikan Alquran di Sekolah". Menurut beberapa sumber, ungkapan “membumikan Alquran” secara implisit mengandung makna bahwa Alquran kini masih “melangit” sehingga karenanya perlu dibumikan. Tentunya dalam pengertian hakikinya, Alquran sebenarnya telah membumi begitu Allah menurunkan ayat Alquran yang terakhir kepada Rasulullah SAW. Maka yang dimaksud dengan ungkapan “membumikan Alquran” sebenarnya adalah maknanya yang majazi (metaforis), bukan makna hakikinya.

Dalam makna metaforisnya, perkataan “membumikan Alquran” mengisyaratkan “jauhnya” Alquran dari kenyataan kehidupan yang kita hadapi. Padahal, idealnya Alquran itu “dekat” dengan kita. Dekat dengan kehidupan kita di sini, dan saat ini. Jadi “membumikan Alquran” mengandung pengertian adanya upaya untuk mewujudkan “yang jauh” menjadi “yang dekat”, yakni mendekatkan dua kondisi yang berbeda, kondisi ideal Alquran di satu sisi, dan kondisi nyata kehidupan umat di sisi lain. Sekarang –katakanlah– yang diterapkan hanya 5% saja dari Alquran, padahal seharusnya 100% Alquran harus diterapkan. Untuk dapat mewujudkan kondisi ideal ini, diperlukan upaya konkrit yang mendasar berupa aktivitas memahami dan menerapkan Alquran itu ke dalam realitas yang ada. Memahami adalah aktivitas yang pertama, sedang buahnya adalah penerapan dalam kenyataan. Berangkat dari sini, maka “membumikan Al-Quran” dapat diberi arti sebagai upaya memahami dan menerapkan Alquran secara sempurna dalam realitas. Lalu bagaimana peluang dan tantangan dalam "membumikan Alquran" tersebut di abad 21 ini.

A. Peluang

1. Keumuman Alquran

Bagi kaum muslimin, isi Alquran bahkan semua kitab suci pada dasarnya merupakan “pesan ketuhanan”. Kaum muslimin mempercayai bahwa Alquran adalah pesan ketuhanan terakhir. Dalam kaitannya dengan pesan-pesan sebelumnya, Alquran berfungsi sebagai penerus, pengoreksi, bahkan penyempuma. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang yang menerima pesan Alquran agar berupaya semaksimal mungkin untuk membumikan isi kandungan Alquran[2]. Inti pesan ketuhanan di atas yang disampaikan kepada Nabi dan Rasul untuk umat manusia tanpa perbedaan menjadi salah satu aspek keumuman Alquran. Semua itu dibuktikan dengan beberapa hal: pertama, seruan Alquran tertuju kepada seluruh umat manusia; kedua, fakta bahwa Alquran menyeru semata-mata kepada akal manusia, karenanya tidak merumuskan dogma, yang diterima hanya atas dasar kepercayaan buta; ketiga, fakta bahwa Alquran seluruhnya tidak berubah sejak ia diturunkan.  

2. Indonesia Masyarakat Beragama

Indonesia dikenal sebagai bangsa religius dengan agama yang beragam. Dalam suasana kehidupan keagamaan yang semakin marak di tanah air kita, usaha untuk memahami kembali ajaran agama secara lebih utuh merupakan sebuah keharusan. Sebab, jika tidak, kita akan terjebak dalam pemahaman turun temurun yang belum tentu semuanya benar yang tidak seluruhnya mampu menjawab tantangan zaman, dalam menyikapi hal ini, maka tugas seorang santri dan cendekiawan muslim untuk menjawab semua tantangan zaman. Apa yang bisa diperjuangkan oleh Islam sekarang ini adalah menjadikan Islam sebagai etika bangsa dengan cara pembumian Alquran secara utuh dan menyeluruh. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya agar negara Indonesia yang berasaskan Pancasila tidak terjerembab ke dalam sekuler. Sebab bangsa Indonesia adalah bangsa beragama. Di sisi lain keberadaan pondok pesantren yang tumbuh subur dan berkembang di bumi Indonesia sejak zaman Majapahit sampai sekarang ini merupakan warisan sistem pendidikan nasional yang paling merakyat.

3. Peran Cendekiawan Muslim

Setiap masyarakat dalam pandangan hidupnya masing-masing mempunyai kaum cendekiawannya. Di lingkungan umat Islam, mereka berfungsi sebagai pemberi penjelasan tentang ajaran-ajaran Islam dengan dampak yang diharapkan berupa tumbuhnya sikap-sikap keagamaan yang lebih sejalan dengan makna dan maksud hakiki kehidupan beragama. Dalam sebuah hadits Nabi, kaum cendekiawan adalah para ulama, orang-orang yang berilmu sebagai pewaris Nabi[3], oleh karena itu salah satu tugas yang dipikulkan kepada para cendekiawan (ulama) adalah menjaga moralitas dan etika sosial. Berkembangnya pemikiran Islam di Indonesia sejalan dengan tampilnya para cendekiawan muslim itu sendiri dalam kiprahnya menjaga dan memelihara moralitas bangsa, khususnya umat Islam. Hal ini menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan, sekalipun secara substanstif masih perlu dikembangkan lebih jauh lagi. Artinya pemikiran Islam yang hendak ditawarkan dan dikembangkan kepada bangsa Indonesia adalah pemikiran Islam yang memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan. Berdasarkan pandangan ini, maka umat Islam dituntut untuk melahirkan pemikiran-pemikiran yang besar dan relevan dengan persoalan-persoalan yang muncul di tengah-tengah umat Islam di Indonesia. Keberadaan umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia menjadi modal dasar penting dalam pembumian Alquran.

B. Tantangan

1. Perbedaan antara Norma dengan Pengamalan Agama

Berbagai problem umat Islam Indonesia adalah adanya kesenjangan antara ajaran (teori) dan kenyataan (praktek). Agama hanya dijadikan sebagai “bungkus” dan formalitas keagamaan karena sebagian masyarakat. Pengetahuan agama tentang benar dan salahnya dalam berbuat dan bertindak, hampir sudah menjadi pengetahuan umum, tetapi kesadaran untuk melakukan yang benar dan menjauhi perbuatan yang salah belum tertanam pada sebagian masyarakat Islam Indonesia. Oleh karena itu, menanamkan tentang kesadaran dalam beragama perlu menjadi prioritas.

2. Agama dan Sekularisme

Di Indonesia proses sekularisasi sebagai bagian dari proses modemisasi tak bisa dielakkan. Sekarang ini bangsa Indonesia sedang memasuki era industrialisasi, suatu proses yang menyebabkan terjadinya transformasi sosial dan kultural yang pesat akibat diterapkannya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam kaitan ini, Selo Sumarjan beranggapan bahwa dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam proses industrialisasi akan menyebabkan peranan agama tereduksi dalam proses-proses pengambilan keputusan di bidang sosial, ekonomi, politik dan sebagainya, sehingga akan menggeser pertimbangan-pertimbangan agama dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan sosial. Islam tidak memberikan tempat bagi sekularisasi, karena agama wahyu ini tidak mengenal dikotomi antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi, antara yang profan dan yang sakral, antara yang immanen dan transendental, dan lain sebagainya. Universalitas dan sentralitas Islam bagi kaum muslimin dalam kehidupan mereka merupakan ajaran terpenting yang tidak dapat ditawar lagi.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa makna istilah membumikan Alquran mengimplementasikan nilai-nilai luhur Kitab Suci tersebut di kehidupan sehari-hari, sebagaimana tujuan dasar dari risalah Islam agar nilai-nilai Qurani teraplikasikan dalam kehidupan riil di bumi, bukan mengawang-awang di langit. Sebagaimana Umar bin Khattab ra berkata, “tak pernah satu pun ayat yang sahabat pelajari langsung dari Rasul kecuali telah mereka praktekkan”.

Peluang membumikan Alquran di Indonesia dapat dilihat dari sisi pesan keuniversalan Alquran, adanya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragama, tumbuh dan munculnya cendekiawan-cendekiawan muslim di Indonesia dengan berkembangnya pesantren-pesantren di Indonesia merupakan potensi besar dalam pembumian Alquran. Sedangkan tantangannya adalah masih rendahnya pemahaman agama sehingga mengakibatkan kesenjangan antara teori dan pengamalan, seiring dengan pembangunan menjadi berpotensi paham agama dan paham sekularisme. Wallahu a'lam bish shawwab.

“Jika kalian menginginkan ilmu, maka selamilah Alquran karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang”. (Abdullah bin Mas'ud ra)

*Penulis adalah Juara I Musabaqah Makalah Alquran MTQ XXVIII tingkat Kabupaten Pamekasan


[1] Abu ja’far at-Thabari, Tafsir at-Thabari, juz 24, hal. 531.

[2] M. luthfi, membumikan Al-Qur’an, vol. 20, hal. 31.

[3] al-Bukhari, shahih al-Bukhari, juz. 1, hal. 24.