Tirakat Santri Tidak Selamanya Wirid dan Puasa

ADMINPESANTREN Jumat, 23 Oktober 2020 06:46 WIB
987x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Zuyyinah*

Diibaratkan sebuah taman, Indonesia memiliki bunga-bunga indah yang bermekaran, semakin hari semakin banyak. Darinya menyeruak aroma wewangian yang khas dan elegan, yaitu pondok pesantren.  Sebuah tempat belajar yang lebih memfokuskan pada bidang keagamaan dan pada umumnya memakai sistem pembelajaran tradisional, mengutamakan kesederhanaan, menguatkan rasa kepedulian, kesetaraan, keberanian, dan tentu sikap ta’dzim. Akan tetapi alumni yang lahir dari tubuh pesantren, tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, menjadi kiai, ustadz, ibu nyai atau ustadzah. Banyak pula santri yang out of the box, karena menyuarakan kebaikan, mengenalkan Islam, tidak terbatas pada sebuah profesi dai atau penceramah. Maka dari itu, ada santri yang jadi dokter, santri jadi pengusaha, santri jadi artis, santri jadi perias, santri jadi DPR, santri jadi menteri dan santri jadi presiden. Terdapat sesuatu yang unik pada tubuh pesantren, yang (mungkin) tidak dapat ditemukan dalam pendidikan formal di luarnya.

Untuk dikatakan pesantren, harus ada kiai, santri, dan tempat yang khusus untuk belajar, biasanya berupa masjid, mushalla atau langgar. Dalam dunia pesantren, sebuah tradisi yang melekat  dan tidak dapat dipisahkan dari diri seorang santri adalah ‘tirakat’. Tirakat, merupakan sebuah lakon khusus yang bertujuan untuk mendapat kesuksesan dalam mencari ilmu. Dasar kata tirakat diambil dari bahasa Arab thariqoh yaitu sebuah jalan, yang biasa dimaknai dengan jalan menuju Allah. Pendapat yang lain mengatakan bahwa ia berasal dari bahasa Arab taroka yang berarti meninggalkan. Ini bermakna meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi, dengan menahan diri (agar tidak berlebihan) terhadap hal-hal yang mubah.

Umumnya semua kiai berpesan kepada santri-santrinya untuk tirakat. Seperti halnya dawuh kiai Abdullah Faqih Langitan, Santri iku kudu tirakat. Sebab, santri nek gelem tirakat, ilmune bakal mencorong, iso dialap manfaat karo wong akeh, tur nek ajak-ajak wong liyo, yo bakal digugu lan dipercoyo. Artinya, santri itu harus tirakat. Sebab, kalau santri mau tirakat, ilmunya akan terpancar, bisa diambil manfaat oleh banyak orang, dan jika mengajak orang lain juga akan diperhatikan dan dipercaya.

Para ulama ketika hendak menulis kitab dimulai dengan tirakat. Di antaranya Imam al-Bukhari, setiap akan menulis satu Hadis beliau melakukan shalat sunnah dua rakaat. Imam Nawawi, saat hendak menulis karya monumentalnya, Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, beliau melakukan shalat Istikharah. Ada juga Imam al-Muzani, yang merupakan salah seorang murid terbaik Imam Syafi’i, setiap kali hendak menyusun kitab Al-Mukhtashar beliau puasa tiga hari dan shalat sekian rakaat. Karena rasa tanggung jawab yang besar dan kehati-hatian mereka dalam menulis khazanah keilmuan, sehingga harus selalu memohon petunjuk dan perlindungan kepada Allah swt., demi menjaga keberlangsungan keilmuan yang ditulis. Termasuk pendahulu Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Kiai Abdul Hamid bin Itsbat beserta istrinya nyai Halimah juga menjalani tirakat selama dua puluh tahun memohon kebaikan untuk dzurriyah dan juga santri-santri beliau.

Dari situlah, seseorang yang ingin mengambil ilmu melalui karya ulama-ulama terdahulu hendaknya juga melakukan tirakat untuk menjalin hubungan bathiniah dengan para mushannif dan guru-guru yang mempunyai sanad. Tiada lain demi mendapat ilmu yang bermanfaat sebagai bekal mendekatkan diri kepada ilahi.

Salah satu tirakat yang masyhur kita dengar dilakukan orang-orang shaleh dan para santri adalah puasa. Misal puasa Senin-Kamis, Daud, Dalail Khairat, Ngrowot, Muteh dan seterusnya. Selain puasa, lakon (amaliah) yang biasa dilakukan santri adalah wirid-an dalam jumlah tertentu, terjaga saat malam, dan membaca al-Qur’an dalam jumlah khataman puluhan kali, ada juga yang melakukan praktek suluk di area makam.

Namun tirakat tidak hanya terbatas pada hal tersebut. Bahkan sebagian ulama sufi menyebutkan bahwa tirakat terbesar ialah menahan diri dari berbuat maksiat, dan kadang bukan puasa, sebagaimana dijelaskan oleh Kiai Baha’uddin Nur Salim yang akrab disapa Gus Baha’. Bagi santri, berada jauh dari orang tua, tidak hidup mewah, makan seadanya, susah air atau listrik, selalu sholat berjamaah, adalah bentuk tirakat. Apabila santri bolos sekolah alasan lemas karena berpuasa, atau telat masuk (tidak disiplin) sebab lama membaca wirid-an itu justru keluar dari makna dan tujuan tirakat itu sendiri.

Inti dari sebuah tirakat atau riyadhah adalah menahan hawa nafsu untuk mempertajam kualitas spiritual, hal ini diwujudkan dengan prilaku yang baik dan tidak menyimpang. Imam al-Ghazali menjelaskan adab belajar bagi pemula adalah dengan mensucikan jiwa, karena ilmu adalah ibadah hati. Guru saya ketika di pesantren dulu pernah berkata, bahwa santri yang ada di pesantren jika benar-benar mengikuti kegiatan sesuai yang dijadwalkan, potensi untuk melakukan maksiat itu sangatlah kecil bahkan nyaris tidak ada. Dibatasinya interaksi laki-laki dan perempuan, penekanan adab yang baik, pembiasaan wirid serta target pembacaan al-Qur’an. Maka, pengadaban (ta’dib) jiwa sangat mungkin dibentuk dalam sistem pesantren.

Tirakat tidak terikat dengan aspek intelektual, jadi tidak harus pintar untuk bisa menjalakannya.  Tradisi ini tetap berlangsung di dunia pesantren, bahkan sampai sekarang.  Hal ini pula bukanlah sesuatu yang tidak dapat dimengerti sisi rasionalitasnya, juga bukan sebuah taqlid buta yang tidak diketahui sumber rujukannya. Wallahu a’lam.

*Ketua DPP Putri IMABA