Tradisi Ngaji dan Modernitas Pesantren

ADMINPESANTREN Selasa, 27 Oktober 2020 04:55 WIB
1248x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Badrut Tamam*

“Tandanya santri itu, mengaji”. Demikianlah statment yang pernah diujarkan oleh KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen)—rahmatullah alaih.

***

Beberapa waktu lalu, ramai sekali upaya stigmatisasi terhadap pesantren; mulai dari sistem pendidikannya yang dipandang terbelakang zaman, hingga tuduhan sebagai sarang paham terorisme. Tentu saja, stigma-stigma tersebut terbantah oleh fakta yang ada. Sebab, pada realitanya, saat ini pesantren sudah tidak kalah inovatif daripada lembaga pendidikan di luar pesantren. Dengan beragam inovasi sistem serta disiplin keilmuan yang disuguhkan, pesantren diyakini akan lebih banyak melahirkan generasi-generasi yang multidisipliner untuk masa yang akan datang.

Pesantren sudah tidak lagi hanya berkutat pada sebatas kutubiyah saja dengan sistem klasiknya, tetapi, ia juga telah menciptakan inovasi dan kreasi baru guna mempersiapkan generasi permata yang relevan dengan kondisi zaman dan dapat memberikan kontribusi pada bangsa dan agama dengan skill dan knowledge yang dimiliki para santrinya. Seperti yang baru-baru ini, pondok pesantren kita, Mambaul Ulum Bata-Bata, membuat asrama khusus Taruna yang disertai kewajiban menghafal al-Qur’an sebagai upaya menumbuhkan bibit-bibit perwira yang berjiwa qur’ani.

Selain itu, sejumlah pesantren di Jawa Timur telah membuka sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan berbagai jurusannya (TKR, TSM, TAV, tata boga, dan tata busana) disertai dengan keharusan mengikuti bimbingan membaca kitab kuning, dengan tujuan melahirkan output yang tidak saja pandai dalam satu bidang yakni teknologi, tetapi juga mampu memahami referensi-referensi keislaman.

Hal itu mengindikasikan bahwa pesantren sudah melakukan penyesuaian dalam menyiasati modernitas dan mencanangkan diri untuk meletakkan fondasi peradaban dan islamisasi dunia. Sistem pendidikan yang modern, tapi tetap berjiwa pesantren dengan tetap menjadikan kiai sebagai sentral figur dan memprioritaskan akhlak yang mulia, pendalaman ilmu keislaman, dan penghormatan kepada guru yang sangat khas dalam pendidikan pesantren.

Meski demikian, ada satu hal yang tidak boleh tidak diketahui dalam tradisi pesantren, yaitu “mengaji”. Mengaji yang dimaksud adalah belajar tentang keislaman dengan sistem simakan dan sorogan kitab kepada seorang guru (kiai, gus, atau ustadz)—walaupun, sebenarnya, bermakna lebih luas daripada sebatas itu. Inilah yang menjadi pembeda antara pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya.

Para santri harus memiliki pengetahuan luas dan mendalam tentang Islam. Pengetahuan ini, sebagai pondasi bagi segala bidang ilmu yang dipelajari kemudian, seperti ilmu sains, teknologi, ekonomi, dan sebagainya. Sehingga, pedoman utama dalam mempraktikkan pengetahuannya,tidak lepas dari prinsip-prinsip keislaman.

Dalam tradisi pesantren, mengaji kitab merupakan kegiatan wajib bagi seluruh santri, tanpa memandang jenjang kelas dan program jurusan. Tidak satupun santri yang boleh tidak mengikutinya. Modernisasi pesantren tidak sampai menghilangkan sistem pembelajaran klasik tersebut yang memang sudah menjadi tradisi secara turun-temurun. Sebab, pesantren tidak saja mengutamakan intelektualitas, tetapi juga keberkahan dari ilmu yang didapati. Sehingga mengaji adalah salah satu upaya ngalap barakah yang sangat efektif dan signifikan.

Inovasi pembelajaran di banyak pesantren, saat ini sudah sangat variatif. Begitu banyak program akselerasi sebagai upaya mempersingkat tempuhan masa belajar satu fann ilmu. Mulanya harus ditempuh selama bertahun-tahun, dengan program akselerasi bisa menempuhnya hanya dalam masa tiga-empat bulan. Tetapi, pembelajaran dengan sistem simakan (ngaji) kitab, bagi pesantren yang masih berkomitmen pada prinsip “mempertahankan tradisi lama yang baik dan memberlakukan kreasi baru yang lebih baik”, tetap menjadi kegiatan yang primordial.

Selain karena mengaji telah menjadi tradisi, ia juga merupakan salah satu upaya menyambung mata rantai sanad keilmuan, sebab, hal itu, sebagaimana pernah diungkapkan oleh KH. Maimun Zubair, adalah pokok dan menjadi syarat bahwa ilmu itu benar-benar bersumber dari Nabi Muhammad saw sebagai pemilik otoritas penuh terhadap ilmu keislaman. Beda halnya dengan ilmu yang sifatnya duniawi. Seperti yang sudah disabdakan Nabi saw: antum a’lamu bi umuuri dunyaakum (kamu sekalian lebih tahu terhadap perkara-perkara dunia kalian).

Demikian pentingnya sanad keilmuan, hingga muncul satu maqolah al-ulama’ yang sangat populer,“barang siapa yang belajar ilmu namun tidak berguru, maka gurunya adalah setan”. Dengan maksud, bahwa belajar tanpa bimbingan seorang guru yang mahir di bidang ilmu tersebut, maka sangat dikhawatirkan sesat dalam memahaminya. Sebab, setan akan membisikkan pemahaman yang tidak benar kepadanya.

Maka dari itu, Sayyid Alawi bin Ahmad as-Segaf berkata dalam kitabnya, Fawaid al-Makkiyah, bahwa sesungguhnya guru sangat penting kedudukannya dan sangat besar peranannya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pun—yang dinobatkan sebagai pintu ilmu oleh Rasul—memberikan beberapa syarat mendapatkan ilmu, sebagaimana dikutip oleh al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Salah satunya adalah adanya bimbingan guru (irsyadu ustadzin).

Demikianlah urgensitas mengaji yang sudah menjadi tradisi yang mengakar di pesantren. Namun, bukan saja karena ia sudah menjadi tradisi, melainkan juga karena tujuan menyambung mata rantai sanad keilmuan yang tidak kalah krusial.

* Penulis adalah Penanggung Jawab Asrama Kelas Akhir Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata