Cadar dalam Framing Radikalisme Oknum Kiai

ADMINPESANTREN Selasa, 3 November 2020 06:02 WIB
1828x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Badrut Tamam*

Satu pekan terakhir ini, umat Islam Indonesia kembali diresahkan oleh rilisnya film yang lahir dari rahim ormas Islam terbesar di Indonesia. Film ini diaktori langsung oleh salah satu tokoh besar NU, Gus Muwafiq. Sebagian umat Islam menilainya, sangat provokatif dan melukai hati umat. Satu persoalan belum selesai menyerang, muncul lagi persoalan yang lain; kasus Sugik Nur Raharja (Gus Nur)—tentang pernyataannya yang dinilai menfitnah NU—belum reda, kini muncul persoalan baru yang juga dilakoni seorang tokoh. Islam saat ini betul-betul dihantam dari berbagai arah dan sisi secara bertalu-talu. Umat Muslim menjadi bingung, terombang-ambing tanpa tentu layaknya buih di lautan.

My Flag Merah Putih vs Radikalisme adalah film baru yang berdurasi hanya delapan menit lima belas detik sebagai refleksi dari Hari Santri Nasional (HSN), 22 Oktober 2020. Film tersebut diposting di channel youtube NU Channel pada Jumat 23 Oktober lalu, yang bertujuan menyampaikan pesan-pesan tentang urgensitas mencintai tanah air dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh umat Muslim, khususnya santri, di mana kadar keimanan seorang Muslim—menurut film tersebut, itu bergantung pada sejauh mana ia menjaga bangsa dan Negaranya. Tidak kalah penting untuk diketahui, film ini diaktori oleh salah satu tokoh besar NU, yaitu Gus Muwafiq.

Namun—tanpa menegasikan tujuan dan pesan-pesan positif yang terdapat di dalamnya, film ini memuat sekilas, namun fatal, tayangan yang bertendensi mendiskreditkan umat Islam lainnya yang berbeda pandangan tentang cadar. Pada menit ke 3:7-3:32, film ini menampilkan tayangan di mana sekelompok santri putra bercelana cingkrang dan santri putri bercadar menghentikan sekelompok santri putra bersarung dan santri putri tanpa cadar yang membawa bendera Merah Putih. Kemudian, dua kelompok santri ini terlibat pertikaian, yang akhirnya dimenangkan oleh kelompok santri pembawa bendera. Celakanya, santri putri tanpa cadar itu menjambret cadar yang sedang dipakai oleh santri putri bercadar dan kemudian mencampakkannya.

Tindakan demikian, dinilai sangat melecehkan umat Islam yang meyakini bahwa cadar adalah wajib, sebagaimana pendapat Imam al-Syafi’i—rahimahullah ta’alaa—atau meyakini sunnah sebagaimana madzhab Hanafi. Film tersebut juga dinilai telah mengatribusi Muslimah bercadar sebagai orang yang menentang pancasila dan NKRI dengan menggambarkannya sebagai kelompok yang menolak bendera Merah Putih sebagai lambang Negara Indonesia. Dengan kata lain, cadar dianggap dan dideskripsikan sebagai identitas radikalisme.

Framing Radikalisme pada Perempuan Bercadar

Menangkal radikalisme, bahkan mencabut hingga ke akar-akarnya, adalah harapan dan keinginan kolektif mayoritas umat Islam. Terutama, yang sangat getol dalam upaya menolak radikalisme ini adalah NU. Namun, perlu diperhatikan bentuk dan wajah dari radikalisme tersebut. Supaya, tidak sesat vonis dalam menentukan dan kemudian membasminya, seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Salah satunya adalah cadar.

Sejak awal, utamanya beberapa bulan yang lalu, cadar memang selalu menjadi sasaran utama bagi orang-orang yang tidak menyukainya untuk diasumsikan negatif. Bahkan pemerintah, dalam hal ini Kemenag, telah melarangnya bagi yang berstatus sebagai ASN. Hal demikian disebabkan adanya asumsi bahwa cadar adalah atribut radikal. Menegasikan tindakan radikal dan teror yang dilakukan sejumlah perempuan pemakai cadar, rasanya memang kurang bijak, sebab, faktanya memang ada. Namun, melakukan generalisasi terhadap semua perempuan bercadar merupakan pandangan yang sama sekali absurd, tentu saja tidak bijak.

Tidak jauh berbeda dengan itu, apa yang disuguhkan film My Flag ini, yang menarasikan cadar sebagai atribut radikalisme dan terorisme. Framing radikal terhadap perempuan bercadar dalam film ini begitu tampak dan kongkret. Yang mana, hal ini sangat amat tidak layak menjadi sikap dan tindakan seorang tokoh dari ormas Islam yang berafiliasi pada empat madzhab, yang satu di antaranya memiliki pandangan bahwa cadar adalah wajib. Atau, mungkin saja dia sudah lepas dari keempat madzhab tersebut. Jika benar demikian, maka tidak selayaknya dia berada di rumah besar ahlussunnah wal jamaa’ah itu.

Anehnya, di sisi lain, Gus Muwafiq—sebagai pemeran Kiai dalam film ini—dan beberapa tokoh NU lainnya selalu lantang menyuarakan Islam yang moderat dan toleran. Tetapi, dalam konteks bercadar, mengapa mereka tidak bisa bertoleransi, sementara cadar adalah termasuk hukum yang wajib dalam pendapat salah satu empat madzhab yang notabene madzhab primordial NU. Justeru membangun stigma dan bahkan melempar fitnah kejam dengan mengatakan bahwa cadar adalah identitas radikal-teroris.

Fanatisme dan Fobia Kelompok

Upaya framing cadar sebagai atribut radikal, pandangan saya, lebih karena didasari kebencian membabi-buta terhadap kelompok lain dan fanatisme terhadap kelompoknya sendiri. Maka, kebencian dan fanatisme itulah yang kemudian menjadikan mereka tidak dapat mengoperasikan akal sehatnya secara baik. Segala apa yang muncul dari kelompoknya adalah benar, dan pasti salah apabila muncul dari luar kelompok yang berbeda. Sikap yang demikian, sama sekali bukan kriteria madzhab ahlussunnah wal jama’ah. Lalu, siapakah yang sebenarnya mereka ikuti dan siapa sebenarnya mereka?

Entahlah. Idealisme serta objektivitas dalam menilai sesuatu, sudah tidak lagi menjadi perhatian. Sikap fanatik dan fobia kelompok menjadikan sebagian orang tidak bisa berpikir dengan benar. Ego dan kepentingan menjadi prioritas. Umat seperti sudah kehilang figur untuk kemudian dapat diteladani. Antar tokoh saling melempar kebencian, fitnah, provokasi, dan sebagainya. Masyarakat akar rumput menjadi ikut-ikutan saling mencemooh dan mengumpat, bahkan kepada Kiai, Ulama, dan Habaib sekalipun.

Hanya saja, kita harus senantiasa berharap, semoga Islam dan NU sebagai ormas Islam yang besar dan mempunyai pengaruh yang juga besar, tetap dijaga oleh Allah swt Yang Maha Besar dari segala yang keluar dari nilai-nilai keislaman dan kode etik ke-NU-an. Aamiin…

*Lulusan Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan.