Kesadaran Sukses: Modal Sama, Nasib Beda?

ADMINPESANTREN Selasa, 10 November 2020 07:17 WIB
261x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Ach. Faisol*

Berbicara tentang kesuksesan, ‘kesadaran sukses’ selalu menjadi hal pertama yang harus kita utamakan. Kata-kata ini menekankan bahwa cara otak bekerja adalah pilihan. Jadi, untuk bisa memprogram otak supaya memiliki ‘kesadaran sukses’, kita-lah yang menentukan. Artinya, sukses itu pilihan.

Bangsa manapun di dunia – termasuk Anda, Kita, dan Mereka –, jika ditanya soal kesuksesan: Apakah Anda ingin sukses? Apakah Anda ingin menjadi orang hebat? pasti jawabannya ‘Iya’. Lalu, mengapa ada orang yang tidak sukses? Mengapa ada orang yang sukses? Mengapa yang satu lebih sukses dari yang lain? Mengapa yang satu mudah sukses, dan yang lain sulit sukses?

Kita pasti banyak tahu orang-orang sukses di dunia ini. Seperti misalnya: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Suyuthi, Imam Nawawi, Ibnu Sina, Al-Zahrawi, Al-Khawarizmi, Abbas Ibnu Firnas, Ibn Al-Haytham, Jabir Ibn Hayyan, Ahmad bin Tulun, Al-Jazari, Fathimah Al-Fitri, Ibnu Battuta, dll.

Mereka bisa sukses karena memiliki modal, yaitu: yakin, fokus, berani, ulet, meluangkan waktu, mengorbankan banyak hal, siap menanggung resiko, ikhlas, tawakkal, dan lain sebagainya. Semua modal tersebut, mereka kerahkan untuk menggapai kesuksesan. Tentunya kesuksesan yang mulia.

Pertanyaannya, apakah modal itu tidak ada dalam diri kita?

Kita paling menjawab, “Oh, mereka itu berbeda dengan kita, mereka keturunan orang mulia, kita tidak; mereka otaknya tak tertandingi, sedangkan kita otaknya pas-pasan; mereka terlahir menjadi orang sukses, sedangkan kita?” Intinya kita hanya berdalih membela kegagalan kita. Pemikiran seperti ini pemikiran yang salah yang menjadi penghalang sebuah kesuksesan. Perlu kita ubah! Sekarang! Ya, sekarang!

Ingat! Semua orang di dunia –kecuali yang sakit jiwa– pasti memiliki modal tersebut, termasuk Kita. Hanya saja, modal itu digunakan untuk apa: Untuk kesuksesan? Untuk yang sifatnya hiburan? Atau malah digunakan untuk hal-hal yang terlarang?

Intinya, dengan modal itu, semua orang pasti sukses dalam meraih apa yang mereka inginkan.

Nasib?

Ini batu sandungan pertama yang sering berkecamuk dalam benak seseorang. Ada sebuah sistem pada manusia yang namanya belief system atau ‘sistem keyakinan’. Ini ditanam di subconscious atau ‘alam bawah sadar’ seseorang. Jika sudah ditanam di posisi ini, untuk mengubahnya perlu teknik khusus. Kalau menggunakan cara biasa, tak akan pernah berubah.

Misalnya kebiasaan merokok. Dalam iklan di televisi, secara vulgar ditulis, “MEROKOK BISA MENYEBABKAN KANKER, GAGAL JANIN, PENYAKIT PARU-PARU”, dan lain sebagainya. Apakah dibaca oleh setiap perokok? Ya. Namun, apakah mereka lantas berhenti merokok kerena takut akan peringatan itu? Tidak juga. Mengapa? Inilah kerja otak.

Otak sadar (conscious) yang menguasai informasi pengetahuan, hanya menguasai 12% dari sebuah tindakan. Sedangkan 88%-nya dikuasai oleh alam bawah sadar (subconscious). Himbauan tadi hanya menempel di otak sadar. Karena, dalam basis data otak, alam bawah sadar mengatakan, “Merokok itu nikmat”. Jadi, itulah yang terus dilakukan. Alam bawah sadarnya yang berkuasa dalam menentukan tindakan.

Contohnya, Handphone (Hp) Android. Rata-rata dari kita sudah memiliki Hp Android dengan harga 1 juta, 2 juta, bahkan ada yang 3 juta. Kok bisa, padahal mahal? Pasti bisa, sebab alam bawah sadar kita berkata dengan sangat yakin, “Saya harus memiliki Hp Android! Pokoknya harus punya! Dan pasti punya!”, sehingga tindakan kita mengarah ke sana, dan pada akhirnya sukses memiliki Hp Android.

Contohnya lagi, jika kita ditanya: “Mana lebih penting –bagi pelajar– antara Hp Android dan Buku Bacaan?” Pasti akal sadar menjawab ‘lebih penting Buku Bacaan’. Namun, alam bawah sadar berkata: “Hp Android lebih penting dan lebih seru!”, sehingga dalam tindakannya kita lebih mementingkan Hp Android ketimbang Buku Bacaan.

Contohnya lagi, saat membeli buku dengan harga 60 ribu, kita mengeluh sangat mahal. Namun, saat membeli kuota internet dengan harga 75 ribu, kita sering mengatakan kurang. Membeli buku belum tentu setiap bulan; membeli kuota internet pasti setiap bulan. Lalu kenapa saat membeli buku –yang belum tentu setiap bulan– kita sering mengeluh? Dan saat membeli kuota internet –yang pasti setiap bulan– kita sering merasa kurang? Itu karena alam bawah sadar berkata, “Membeli kuota internet lebih penting ketimbang membeli buku”, sehingga tindakannya lebih mementingkan membeli kuota internet ketimbang membeli buku. Ini masih belum membicarakan masalah Hp yang harganya sampai 2 juta. Bagaimana kalau misalkan harga buku 2 juta?!

Sekarang kita kembali lagi ke ‘kesadaran sukses’. Bagi orang-orang sukses di atas, semua modal kesuksesan tersebut di-install dengan benar di dalam otaknya, sehingga mereka benar-benar meraih kesuksesan yang hakiki. Sedangkan kita yang tidak kunjung sukses, semua modal kesuksesan tersebut di-install dengan kurang benar di dalam otak, sehingga kita benar-benar sukses dalam hal yang sifatnya tidak hakiki.

Jadi intinya apa? Kalau ingin sukses, sistem di otak kita harus diprogram bagaimana menjadi sukses. Harus yakin bahwa kita pasti sukses. Ingat, tidak merencanakan sesuatu berarti merencanakan kegagalan!

Dan yang lebih penting lagi, kita harus jujur pada diri sendiri. Jika kita berkata, “Saya ingin sukses!”, maka kesadaran sukses itu harus di-install di otak atau di alam bawah sadar, sehingga tindakan yang dilakukan berjalan menuju istana kesuksesan.

Jangan sampai berkata ‘ingin sukses’, tapi kesadaran sukses tidak di-install dalam otak, sehingga semua tindakan menjauh dari kesuksesan. Itu namannya dusta. Jika pondasinya sudah dusta, maka pada akhirnya tidak akan dipercaya. Yang sangat berbahaya ialah, saat kita tidak percaya pada diri sendiri, inilah sumber masalah. Bagaimana orang lain bisa percaya pada kita, sedangkan kita tidak percaya pada diri sendiri?!

Tulisan ini akan diakhir dengan sebuah petanyaan-pertanyaan.

Apakah kita alim dalam mengoprasikan Hp, Facebook, Messenger, WhatsApp, Instagram, Game, dan yang serupa? Iya. Apakah ada yang menyuruh? Tidak. Apakah ada yang membimbing? Tidak. Apakah butuh kelas untuk mempelajarinya? Tidak juga. Lalu kenapa kita bisa betul-betul menguasai? Karena kita semangat. Pernahkan terlintas dalam hati untuk meminjam kesemangatan tersebut dan digunakan dalam semangat belajar, tekun membaca, dan hal-hal yang sifatnya ilmiah? Mikir!

Bagaimana? Bisa menerima? Masih berat? Masih bertanya di mana nasib? Masih bertanya kenapa mereka sukses dan kita tidak kunjung sukses?

Ya. Ini pertanyaan kecil dari kelompok besar. Pertanyaan kita pula. Atau mungkin pertanyaan Anda?

*Penulis adalah Manajer Pustaka Muba