Sejarah Sosial Fiqh Syafi’i dari Masa ke Masa

ADMINPESANTREN Jumat, 13 November 2020 05:03 WIB
396x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Suud Sarim Karimullah*

Siapa yang tidak kenal dengan Imam Syafi’i? Seorang ahli fiqh yang mempunyai nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin al-Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushay adalah seorang imam besar mazhab fiqh yang moderat dalam memberikan putusan hukum. Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H di Gaza, Palestina. Beliau lahir pada zaman kepemimpinan Abu Ja’far al-Mansur (137-150 H) Dinasti Bani Abbasiyah.

Sejak usianya masih 7 tahun, Imam Syafi’i sudah hafal al-Quran dan pada usia 10 tahun sudah hafal hadis yang terkandung dalam kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik (w. 279 H). Imam Syafi’i belajar ilmu fiqh kepada Imam Muslim bin Khalid az-Zanji (w. 180 H) di Mekkah dan belajar hadis kepada Imam Malik yang merupakan pendiri mazhab Maliki di Madinah. Setelah menguasai ilmu tersebut, Imam Syafi’i pindah ke Irak untuk belajar kepada Imam Hanafi (w. 150 H) yang merupakan pendiri mazhab Hanafi. Imam Hanafi dikenal sebagai ahli ra’iy (berpegang teguh pada akal) dalam memberikan putusan hukum.  

Setelah wafatnya Imam Malik (279 H), Imam Syafi’i telah berubah haluan dari kajian keilmuan ke kajian praktik. Namun tidak mengurangi semangat keilmuan yang dimiliki oleh Imam Syafi’i. Terbukti selama berada di Yaman, Imam Syafi’i memperoleh banyak pengalaman yang memperkaya khazanah keilmuannya. Di samping itu, juga melalui diskusi-diskusi dengan tokoh utama mazhab Hanafi, yaitu Muhammad ibnu al-Hasan al-Syaibani (189 H), ia dapat pula mengenali aliran ahli ra’iy (berpegang teguh pada akal) secara dekat, memperluas wawasan serta mematangkan pemikiran pribadinya.

Kegiatan Imam Syafi’i adalah mengajar di Masjid al-Haram (184 H). Aktivitas mengajar menuntutnya meningkatkan kualitas keilmuan di samping mempertajam analisis pamahamannya. Kehadiran ulama dari berbagai daerah, khususnya pada musim haji, memberikan peluang terjadinya muzakarah.

Ketika Imam Syafi’i datang kembali ke Baghdad pada tahun 195 H, beliau datang bukan sebagai penuntut ilmu, melainkan sebagai ulama yang telah matang dengan konsep serta pemikiran-pemikirannya sendiri. Pada masa ini, Imam Syafi’i menulis kitab al-Risalah dan Hujjah, serta memperkenalkan pemikiran barunya.

Setelah itu, Imam Syafi’i pindah ke Mesir (198 H) disebabkan oleh al-Makmun yang menjabat sebagai khalifah di Baghdad. Al-Makmun banyak melibatkan orang Persia dalam menjalankan roda kepemimpinannya, sehingga cenderung pada paham Mu’tazilah yang lebih bersifat filosofis. Hal demikian yang demikian membuat Imam Syafi’i meninggalkan Baghdad.

Ketika di Mesir, Imam Syafi’i menyibukkan diri dengan melakukan istinbat hukum yang membuat pemikiran fiqhnya memiliki argumentasi yang kuat. Pada masa inilah, Imam Syafi’i menulis kitab al-Umm dan terjadinya fatwa yang baru (qauw al-Jadid) disebabkan oleh penemuan baru dalam metode istinbat hukum dan dipengaruhi oleh sosial politik di Mesir. Meskipun demikian, Imam Syafi’i menetap di Mesir hanya sebentar sekitar 4 tahunan. Imam Syafi’i wafat dalam usia 54 tahun di Mesir pada malam Jumat bulan Rajab tahun 204 H, pendapat ini diungkapkan oleh Imam Nawawi (w. 676 H).

Kemudian setelah wafatnya Imam Syafi’i sampai pada pertengahan abad kelima Hijriyah, para muridnya dan penerus mazhab Syafi’i dari berbagai generasi yang telah mencapai derajad ijtihad dalam keilmuan terus melakukan istinbat hukum dalam menghadapi problematika hukum yang ada. Berbagai karya yang dihasilkan oleh para murid Imam Syafi’i dari berbagai bentuk antara lain; Ikthisar (meringkaskan), syarah (memberi penjelasan), dan hasyiyah (komentar atas komentar).

Salah satunya dilakukan oleh Al-Muzannni (w. 264 H) dalam meringkas (iktisar) kitab al-Umm karya Imam Syafi’i dengan tujuan agar kitab tersebut mudah untuk dipahami. Al-Mawardi (w. 450 H) memberikan syarah kitab Mukhtasar al-Muzanni dalam karyanya yang berjudul al-Hawi al-Kabir. Kitab syarah karya al-Mawardi ini memiliki berbedaan penjelasan dalam persoalan fiqh dengan karya Muzanni, padahal kitab Mukhtasar al-Muzanni adalah kesimpulan-kesimpulan dalam kitab al-Umm karya Imam Syafi’i yang disusun dengan pembahasan yang ringkas dan padat. Ini menunjukkan adanya dinamika perkembangan pemikiran fiqh pada masa itu.

Beberapa kitab fiqh mazhab Syafi’i yang sangat populer dari masa beliau sampai saat ini adalah sebagai berikut;

  1. Kitab ar-Risalah, al-Hujah, dan al-Umm ditulis oleh Imam Syafi’i (w. 204 H).
  2. Kitab Muktashar al-Muzanni ditulis oleh  Imam al-Muzanni (w. 264 H).
  3. Kitab al-Hawi al-Kabir ditulis oleh Imam Mawardi (w. 450 H).
  4. Kitab al-Muhadzdab ditulis oleh Imam asr-Syairazi (w. 476 H).
  5. Kitab Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Mazhab ditulis oleh Imamul Haramin (w. 478 H).
  6. Kitab al-Basith, al-Wasith, al-Wajiz, dan al-Khulashah ditulis oleh Imam al-Ghazali (w. 505 H).
  7. Kitab al-Muharrar dan asy-Syarh al-Kabir ditulis oleh Imam Rofi’i (w. 623 H)
  8. Kitab Minhajut Thalibin, Raudhatul Thalibin dan al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab ditulis oleh Imam Nawawi (w. 676 H).
  9. Kitab Fathul Wahhab ditulis oleh Imam Zakaria al-Anshari (w. 926 H).

Terdapat beberapa murid dari Imam Syafi’i yang menjadi tokoh besar dan memberikan pengaruh dalam khazanah dunia Islam, antara lain:

  1. Ahmad bin Muhammad bin Hambali bin Hilal bin Asad al-Marwazi al-Baghdadi (w. 241 H).
  2. Imam al-Hasan bin Muhammad Ash-Shabah az-Za’farani (w. 260 H).
  3. Abu Ya’qud Ishaq bin Ibrahim bin Mukhallad al-Hazali (w. 238 H).
  4. Harmalah bin Yahya bin Abdullah bin Harmalah bin Imaran (w. 243 H).
  5. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid al-Kalbiy al-Baghdadi (w. 240 H) dan banyak ulama-ulama besar lainnya.

Ahmad al-Nahrawi Abdussalam (w. 1419 H) dalam karyanya, al-Imam al-Syafi’i fi Mazhabaihi al-Qadim wa al-Jadid telah menjelaskan pembagian sejarah pertumbuhan dan perkembangan mazhab Syafi’i kepada empat periode, anatara lain; Pertama, persiapan. Kedua, merupakan pertumbuhan lahirnya mazhab al-qadim. Ketiga, kematangan dan kesempurnaan pada mazhab al-jadid, dan Keempat, pengembangan dan pengayaan.

Corak pemikiran hukum Imam Syafi’i adalah tradisional dan rasional. Dasar pemikiran hukumnya menggunakan al-Quran, sunah (authentic hadith), ijmak (juridical consensus) dan qiyas (analogical reasoning). Penyebarannya terdapat di beberapa negara dan wilayah antara lain; (1) Suriah, (2) Bahrain, (3) Kazakhstan, (4) Yaman, (5) Arab Saudi, (6) Wilayah Arab Selatan, (7) Wilayah Afrika Timur, (8) Wilayah Asia Timur, (9) Wilayah Asia Tengah, (10) India, (11) Malaysia, (12) Indonesia dan negara serta wilayah lainnya.

Sebagian pengamat menilai bahwa Imam Syafi’i telah memberikan konstribusi besar dalam kontruksi metodelogis hukum Islam. Selain merumuskan karangka teoritis, Imam Syafi’i juga menyiapkan langkah operasional yang dilalui seorang mujtahid. Beliau juga ulama yang pertama kali menyusun ilmu ushul fiqh yang membahas mengenai kaidah-kaidah dalam memahami al-Quran dan Hadis, kitab ini diberi nama kitab ar-Risalah.

Sebenarnya sangat tidak cukup kalau tulisan ini untuk mengenalkan tentang sejarah sosial fiqh Imam Syafi’i karena keterbatasan tulisan maka penulis hanya menuliskan gambaran secara umum saja. Bagi yang hendak mengetahui secara mendalam tentang Imam Syafi’i bisa langsung merujuk terhadap kitab karya Abu Muhammad Abdurrahman bin Muhammad Abi Hatim bin Idris bin Mundzir bin Dawud bin Mihran bin Al-Handhali Ar-Razi (w. 327 H), Abubakar Ahmad bin Husain bin Ali bin Abdullah al-Baihaqi (w. 458 H), Abu Abdullah Muhammad bin Umar bin al-Husain at-Taymi al-Bakri at-Tabaristani Fakhr al-Din al-Razi Tabaristani (w. 1210 M), Ismail bin Umar al-Quraisyi bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi Imaduddin Abu al-Fida al-Hafizh al-Muhaddits asy-Syafi’i (w. 1372 M), Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi (w. 1277 M/676 H), dan Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar (w.1449 M/852 H) serta kitab-kitab ulama lainnya.

* Alumni tahun 2014 Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata dan anggota aktif IMABA Turki

gambar: republika.co.id