Bapak, Doa Pilihan Tuhan

ADMINPESANTREN Jumat, 4 Desember 2020 06:20 WIB
515x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Milatul Qayyimah*

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (۲۳) وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا (۲٤)

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil (24)” (Q.S. Al-Isra’: 23-24)

“Ku takbirkan kata ayah. Satu kata yang disebut oleh manusia dengan macam dan corak panggilan bahkan dalam bahasa berbeda. Takbiran ini tak akan cukup memenuhi makna-makna tentangnya. Ia adalah teman yang hangat, penyimak yang sabar. Tak merasakan nikmatnya istirahat kecuali mereka telah beristirahat. Ia adalah kaki dan tonggak. Ia adalah pohon dalam memberi, tiada menunggu balasan. Ia adalah sungai dalam cinta dan ketulusan, mengalir bahkan di atas bebatuan dan liku. Ayah, adalah kata singkat yang luapan tinta tidak mampu memenuhi maknanya.”

Sepanjang pemahaman seseorang dalam urusan edukasi pada kehidupan rumah tangga pastinya selalu dikaitkan dengan keberadaan wanita, maka kita tahu bahwa peran wanita adalah peran yang urgen dan objektif. Peran wanita dalam rumah tangga hampir memenuhi seluruh ruang dan kesempatan. Namun perlu ditelaah bahwa dalam eksistensinya wanita tidak memiliki potensi penuh dalam memenuhi ruang tugas, peran, dan karirnya dalam rumah tangga. Tahukah kita bahwa ada peran yang begitu dasar dalam rumah tangga setelah seorang wanita?. Tentu laki-laki adalah jawabannya. Mengapa demikian? Mari kita ulas figur seorang lelaki yang ia adalah ayah dan tonggak kehidupan. Pertama kita mengetahui, bahwa pada era kita konsep feminisme kini menjadi tren bagi wanita urban. Konsep wanita karir yang baik dan sukses memiliki kepercayaan diri untuk hidup sendiri dan bisa mengurus kehidupan rumah tangga sendirian. Sedangkan secara psikologis, perempuan dengan karir yang cemerlang tetap membutuhkan kehadiran sosok pria untuk membuat hidupnya lebih sehat. Maka dari itu, kita paham bahwa wanita adalah ruang kosong tanpa adanya bimbingan seorang lelaki hingga keberadaannya dalam kehidupan rumah tangga terlebih dalam urusan mendidik.

Secara umum, seorang ayah merupakan konsumsi utama dalam kehidupan rumah tangga, karena ia membentuk karakter seorang anak secara internal. Gambaran yang mudah kita lihat misalnya, pengendalian diri seorang anak sejak ia dini, etika, serta tatakrama yang seluruhnya merupakan proses pertumbuhan karakter seorang anak secara internal terbentuk dari cerminan seorang ayah. Lantas tidakkah peran seorang ibu lebih penting dan menjadi tolak ukur yang lebih utama dalam pembentukan karakter tersebut?. Ya. Memang urusan domestik rumah tangga termasuk bagaimana mendampingi mereka belajar, mengembangkan kreativitas, membentuk kepribadian dan karakter, curhat dan segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, emosional, sosial hingga pembiasaan-pembiasaan yang berhubungan dengan keimanan serta akhlak ditangani seorang istri. Namun tak dapat dipungkiri bahwa hakikatnya tanggung jawab dan peran seorang ayah yang peduli dan memiliki power full sangat berpengaruh dan menjadi pondasi utama. Karena pada dasarnya, laki-laki memiliki potensi yang jauh lebih unggul dalam menerapkan belajar mengajar kepada anaknya, memiliki peluang yang jauh lebih besar dibandingkan seorang wanita dalam keilmuannya, serta berpotensi lebih layak untuk menjadi pemimpin bagi anaknya. Namun sebelum mengulas apa saja urgensi serta konteks figur seorang ayah, kita perlu mengetahui betapa keutamaannya sebagai orang tua telah disebutkan dalam Al Quran serta di beberapa hadis yang cukup banyak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan kedudukan seorang ayah dan keutamaannya setelah ibu dalam sebuah hadis:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ؟ قَالَ أُمُّكَ. قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ. قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ. قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ ثُمَّ أَبُوْكَ.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Rasulullah pun menjawab: “Ibumu”. Ditanya lagi, “Lalu siapa lagi?”, Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Ditanya lagi, “Siapa lagi?” Rasulullah menjawab “Ibumu”. Rasulullah ditanya lagi, “Siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ayahmu”.

Disebutkan pula dalam riwayat yang lain;

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيْ عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَتَاهُ فَقَالَ : إِنَّ لِيْ امْرَأَةً ، وَإِنَّ أُمِّيْ تَأْمُرُنِيْ بِطَلَاقِهَا ، قَالَ أَبُوْ الدَّرْدَاءِ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ.

Abu Abdurrahman As-Sulami meriwayatkan dari Abu Darda’, Seorang pria mendatangi beliau kemudian mengatakan, “Saya memiliki seorang istri, namun ibuku menyuruhku untuk mentalaknya. Abu Darda’ mengatakan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Orang tua merupakan pintu surga paling pertengahan, jika engkau mampu maka tetapilah atau jagalah pintu tersebut”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Apa saja yang menjadikan ayah sebagai seorang figure yang baik?

1. Mengekspresikan sikap cinta dan kasih sayang terhadap anak

Masih ingatkah kita pada riwayat yang menceritakan kecupan baginda Muhammad Shallallahu Alaihi wasallam untuk anak-anak? Suatu ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mencium cucunya, Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu. Melihat kejadian tersebut Al-Iqra bin Habis berkata: “Aku mempunyai sepuluh orang anak, tak satupun di antara mereka yang pernah ku cium”. Nabi lalu bersabda: “Barang siapa yang tidak memberi rahmat tidak dirahmati.  (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim). Dalam kesempatan lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga menyebutkan, bahwa barang siapa yang tidak menyayangi yang ada di bumi maka yang di langit tidak menyayanginya. Maka sungguh penuh dengan rahmat agama ini, mengajarkan kepada umat untuk menyalurkan kasih sayang dengan sikap serta keteladanan yang indah. Termasuk seorang ayah yang baik, ia akan membuat anak-anaknya mengenal cinta dan kasih sayang lewat sikap dan perbuatan serta pendekatan yang hangat. Terlebih dalam satu sisi anak perempuan yang sangat perlu dijaga misalnya, membutuhkan sikap yang lebih dalam hal tersebut. Mengapa? Seorang anak perempuan perlu mendapat pendekatan yang lebih serta didikan yang bijak sejak ia dini. Imbas besar yang tidak baik mungkin terjadi ketika ia sudah beranjak dewasa jika hal tersebut tidak dilakukan. Jika anak perempuan sejak kecil kurang dekat dan merasa kesepian dari pantauan serta topang sang ayah, maka kemungkinan melampiaskan kurangnya kasih sayang tersebut kepada yang bukan muhrim.

2. Sebagai pelindung

Meskipun seorang ibu selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya, namun figur seorang ayah dalam hal melindungi keluarga mempunyai peran yang lebih penting. Karena dalam beberapa keadaan yang “menakutkan” atau “menantang” seorang ibu cenderung tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan atau menangani keadaan. Maka peran seorang ayah dalam melindungi sangat dibutuhkan.

3. Sosok yang tenang

Di antara poin plus milik seorang ayah adalah ia merupakan sosok yang tenang dan rasionalis seperti yang kita tahu di atas. Adapun perempuan tak jarang pesimis dan mengedepankan rasa takut. Contoh kecil yang dapat kita petik adalah ketika seorang anak misalnya melakukan hal yang menimbulkan rasa was-was dengan menaiki meja atau kursi yang tinggi, seorang ibu cenderung berkata, “Nak…jangan ..!”. Namun seorang ayah akan berkata, “Nak.., naik di atas sana tidak aman, ayo sini turun”. Termasuk gambaran yang bisa kita petik adalah dalam hal kemandirian misalnya. Figur seorang ayah begitu penting dalam hal ini. Karena perempuan sebagai seorang ibu identik dengan sifat kewanitaannya yang mengedepankan rasa kasihan, iba, dan lain-lain. Maka seorang ibu cenderung akan membantu anaknya ketika mengalami kesulitan karena tidak tega. Namun seorang ayah akan bersikap lebih bijak dalam menangani masalah. Seorang ayah akan berpikir lebih rasional dengan membuat anaknya percaya diri bahwa ia mampu menghadapi kesulitan itu sendiri dan membuatnya terbiasa dengan kemandirian.

Maka sungguh indahlah syair yang berbunyi:

يَسْأَلُوْنِيْ مَا أَجْمَلُ عَطِرٍ لَدَيْكَ...؟

قُلْتُ: "رَائِحَةُ أَبِيْ فِيْ مَلَابِسِيْ بَعْدَ مَا أَضَمُّهُ"

“Mereka bertanya padaku tentang parfum apa yang paling wangi yang kau miliki? aku menjawab “Wanginya ayahku pada pakaianku setelah aku mendekap (memeluknya)”

Disebutkan lagi:

لَيْسَ أَرَقُّ عَلَى السَّمْعِ مِنْ كَلَامِ أَبٍ يَمْدَحُ ابْنَتَهُ

“Tidak ada yang lebih lembut dalam pendengaran ketimbang pujian ayah pada anaknya

4. Menjadi penyimak yang selalu hadir

Sebagai seorang kepala rumah tangga, tentunya seorang ayah ingin melihat keluarganya bahagia. Namun keterbatasan waktu dan kesibukannya seringkali menjadi dalang akan sempitnya peluang untuk bersama keluarga. Hal ini membuat seakan-akan mayoritas ayah di dunia tidak memiliki ruang dan waktu maupun kepedulian kepada anak-anaknya. Namun, perlu kita tahu bahwa pada hakikatnya jika kita lebih mengolah kembali, seorang ayah ketika sudah memiliki waktu luang ia akan memperjuangkan seluruh waktunya untuk keluarga, menghabiskan seluruh kesempatan untuk mereka, dan belajar banyak hal baru bersama mereka termasuk bercerita kepada mereka pengalaman apa saja yang ingin ia ceritakan kepada mereka selama berhari-hari kesibukannya.

Dari semua aspek yang disebutkan di atas, sungguh peran seorang ayah begitu menjadi titik utama yang menentukan arah seorang anak setelah ibunya. Maka sungguh adil firman Allah Subhanahu Wataala yang berbunyi tuntutan bagi kita berbakti, berkata baik, serta mendoakan mereka yang cucur keringat untuk segala pendidikan dan ajarannya tak terbayar. Semoga Allah senantiasa menjaga seluruh ayah di dunia dalam islam, iman dan sehat serta diampuni segala salah dan dosanya.

* Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, saat ini menempuh pendidikan di STAI Imam Syafi'ie Cianjur Jawa Barat