Resolusi Jihad sebagai Pengibar Perjuangan Ulama’ & Santri dalam Mempertahankan Kemeredekaan

ADMINPESANTREN Selasa, 2 Februari 2021 13:04 WIB
384x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Nuriyah Hifani*

Pendahuluan

Setelah melakukan proklamasi, Indonesia kedatangan pasukan sekutu yakni Allied Forces Nederland East Indies (AFNIE) dan pasukan Sipil Hindia Belanda yakni Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang membuat kondisi pemerintah Indonesia menjadi terganggu. Adapun alasan yang membuat Belanda menganggap bahwa Indonesia tidak akan bisa hidup, jika tidak ada Belanda yang mengurusi semua perekonomian yang ada di Indonesia. Dari sini pula dapat diambil maksud bahwa Belanda ingin menguasai kembali kedaulatan negara Indonesia.

Maka dengan hal itu rakyat Indonesia dari seluruh lapisan golongannya melakukan pembelaan dan menyatakan siap melakukan pertarungan senjata untuk mempertahankan kedaulatan negara. Para ulama’ dan santri dari seluruh pondok pesantren yang ada di Indonesia akhirnya membentuk kumpulan masa untuk melawan pihak sekutu dan NICA. Organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdatul Ulama’ (NU) juga dengan sigap menanggapi keadaan negara yang terancam tersebut. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari membacakan sendiri hasil keputusan dari tanggapan NU terhadap kondisi negara yaitu Resolusi Jihad. Dimana dalam resolusi ini, berisi pernyataaan yang mewajibkan setiap umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seruan jihad ini akhirnya menjadi kibaran semangat bagi rakyat Indonesia untuk membela tanah air, terutama dari kalangan ulama’ dan santri. Mereka berjuang dengan gigih dan berani tanpa rasa takut melawan pasukan Sekutu dan pasukan Belanda yang waktu itu datang dengan perlengkapan senjata, perjuangan tersebut demi membela tanah air tercinta.

Resolusi Jihad sebagai Pengibar Semangat Ulama’ dan Santri

Nahdlatul Ulama’ (NU) merupakan Organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi wadah perjuangan untuk menentang segala jajahan yang bermaksud merebut kemerdekaan Negara Republik Indinesia. Sebelum Indonesia merdeka, para pemuda di berbagai daerah mendirikan organisasi yang bersifat kedaerahan, seperti Jong Cilebes, Pemuda Betawi, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra dan sebagainya. Akan tetapi para Ulama’ NU justru menggiring para pemuda pesantren untuk mendirikan organisasi yang lebih bersifat nasionalis. Pada tahun 1924 para pemuda pesantren mendirikan Shubban al-Wataan (pemuda tanah air). Organisasi pemuda itu kemudian menjadi Ansor Nahdatoel Oelama’ (ANO) yang salah satu tokohnya adalah kiyai Muhammad Yusuf Hasyim. Setelah itu dari NU lahirlah laskar-laskar perjuangan fisik diantaranya Laskar Hizbullah (tentara Allah) dengan panglima KH. Zainal Arifin, laskar Fisabilillah (jalan menuju Allah) yang dikomando oleh KH. Masykur. Laskar-laskar tersebut siap berjihad untuk membela dan mempertahankan kedaulatan Agama  dan Negara.[1

Pada tanggal 8 september 1945, pasukan sekutu yakni pasukan AFNIE (Allied Forces Nederland East Indies) yang merupakan bawahan dari SEAC (Inggris) tiba di Indonesia, pasukan yang dipimpin oleh mayor Geenhalgh ini bertugas untuk mencari tahu tentang keadaan yang ada di Indonesia waktu itu. Pada tanggal 29 september di bawah komando jendral Philips Crhistison pasukan sekutu untuk gelombang kedua datang ke Indonesia. Belanda ingin kembali menguasai Indonesia. Namun untuk meyakinkan dan tindakannya dibenarkan oleh hukum internasional, Belanda menyatakan bahwa Indonesia bukan lagi koloni, melainkan wilayah yang sejajar denagn Belanda dan Eropa. Pernyataan tersebut diterima oleh dunia Internasional, bahkan sesudah perang dunia ke II selesai, pengakuan itu masih berlaku seperti yang terbukti dalam konferensi posdam.[2]

Dalam kerja sama antara belanda dan Inggris, Inggris sangat berharap bahwa apa yang diharapkan oleh Belanda dapat terselenggara. Akan tetapi rakyat Indonesia yang pada waktu itu sudah menyatakan merdeka memiliki kesadaran tentang arti dan hak kemerdekaan itu sendiri. Mereka tidak akan serta merta menyerah pada pasukan-pasukan yang mengancam kemerdekaan Indonesia. Hal itu dibuktikan pada saat pasukan AFNIE mendarat di Jawa. Pasukan ini mendapatkan perlawanan yang cukup sengit di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Di dua daerah ini para pejuang Indonesia dari berbagai kalangan, baik nasionalis Islam, atau pun sosialis lebih memilih menempuh jalan bertempur. Munculnya perlawanan keras di Jawa tengah dan Jawa timur ini seolah mengulangi dan menguatkan tipikal dua kawasan ini di masa lampau yang tercatat sebagai kawasan paling keras dan memiliki tradisi perlawanan terhadap unsur-unsur asing (barat).[3]

Jawa Timur dan Surabaya sudah sejak lama dikenal sebagai basis dari kelompok Islam, terutama Islam tradisional yang tersatukan dalam Organisasi NU. Di kawasan ini terdapat pondok pesantren dari pinggiran kota hingga ke polosok desa dengan jumlah santri yang mencapai puluhan ribu. Apapun ungkapan dan tindakan para kiai dijadikan sebagai teladan bagi para santrinya, hal itu telah membuat fonomena sosial yang cukup unik dan patut diperhitungkan.[4]

Keadaan mulai mengalami pergolakan yang cukup hebat ketika pasukan Sekutu dan NICA masuk ke Surabaya. Pada tanggal 19 september 1945 di hotel Yamato, bendera Belanda berkibar dengan warna merah putih biru, bendera itu dikibarkan oleh Indo Belanda.[5] Hal ini menyebabkan terjadinya bentrokan antara pemuda Surabaya dengan pihak Belanda. Warga Surabaya tidak terima dengan pengibaran bendera itu, mereka menuntut untuk menurunkan bendera yang dikibarkan oleh Belanda.

Melihat kondisi Surabaya yang semakin pelik. Para Ulama’ NU segera bertindak guna membangkitkan dan mengobarkan semangat para pejuang. Langkah awal yang dilakukan oleh pengurus NU yaitu memanggil para konsul-konsulnya untuk menentukan sikap menghadapi aksi yang dilakukan NICA, yang membonceng Inggris.[6] Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari Roisul Akbar, Tebuireng mengeluarkan fatwa hukum berjihad atas permintaaan Bung Karno.

Pertemuan para konsul berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 21-22 Oktober di kantor PBNU, Bubutan Surabaya. Pertemuan itu dihadiri para konsul se Jawa dan Madura, juga dihadiri oleh panglima Hizbullah yaitu KH. Zainul Arifin. Terdapat perbedaaan mengenai siapa yang memimpin rapat konsul NU. Hasyim Latief, seorang yang terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya, menyatakan bahwa yang memimpin rapat adalah KH. Wahab Hasbullah. Sementara beberapa sumber menyebutkan bahwa yang memimpin rapat penting itu adalah Kiai Hasyim Asy’ari.[7] Dari rapat itu kemudian menghasilkan satu keputusan dalam bentuk resolusi, yang kemudian disebut dengan Resolusi Jihad. Resolusi ini menyebar dan menjadi pegangan moral bagi badan perjuangan Islam terutama untuk wilayah Jawa dan Madura.

Resolusi ini diserukan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari selaku pimpinan tinggi NU, yang mana resolusi ini berisi pernyataan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan hukumnya adalah wajib ‘ain bagi umat Islam. Semangat serta keberanian rakyat Indonesia untuk melawan Sekutu dan NICA membara dimana-mana. Pondok-pondok pesantren berubah menjadi markas Hizbullah dan Sabilillah. Para pemuda semakin siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Bahkan mereka bertekad lebih baik mati dari berkalang tanah dari pada menyerah kepada penjajah.[8]

Kesimpulan

Ulama’ dan Santri banyak mengambil peran dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Para Ulama’ dan Santri terus maju pantang mundur dengan bersenjatakan bambu runcing dan kalimat Allahu Akbar. Mati dalam melawan penjajah diyakini sebagai mati syahid. Bagaimanpun kekuatan yang dimiliki oleh para penjajah, tidak akan pernah mampu memadamkan semangat perjuangan para Ulama’ dan Santri yang sedang didera rasa cinta terhadap agama dan tanah air.

* Penulis adalah santri aktif di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Putri, Menempuh Pendidikan di Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

sumber gambar: www.goodnewsfromindonesia.id

[1] Lukman hakim, dkk. 2004, Perlawanan Islam Kultural:Relasi Asosiatif Pertumbuhan Civil Society Dan Doktrin Aswaja NU (surabaya: pustaka Eureka Benger, peter I. 1991) hlm. 97

[2] IR.H.A Saleh, Mari Bung Rebut Kembali (jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 200) hlm.22

[3]Zainul Milal Bilawie, Laskar Ulama’- Santri dan Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia 1945-1949 (tanggerang: Pustaka Compas, 2014) hlm. 197

[4] Ibid. hlm, 199

[5] Hasyim Latif, Laskar Hizbullah Berjuan Menegakkan Negara RI (Jakarta: PT. Lajnah Ta’alif Wan Nasyr Pengurus Besar Nahdatul Ulama’ (PBNU), 1995). Hlm 49

[6] Zainul Milal Bilawie, Laskar Ulama’-Santri dan Resolusi Jihad. Hlm. 206

[7] Ibid.

[8] Hasyim Latif, Laskar Hizbullah Berjuang Menegakkan Negara RI. Hlm. 54