Memperkuat Karakter Santri dengan Belajar Beladiri

ADMINPESANTREN Selasa, 9 Februari 2021 07:03 WIB
412x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Muhammad Salim*

Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat dan iman yang mantap. Agar tubuh tetap sehat, maka kita harus melakukan aktivitas dengan mengacu pada pola hidup sehat, yaitu dengan cara olahraga, mengkonsumsi makanan sehat, dan juga senantiasa berpikir positif. Tips dan trik tersebut tentu telah diketahui oleh banyak orang. Namun sayangnya, jarang yang mampu melaksanakan dengan sungguh-sungguh terutama dalam hal olahraga. Banyak yang tidak menyadari pentingnya berjalan kaki, padahal ahli kesehatan menyarankan untuk melakukan seribu langkah atau lebih setiap hari. Bergeraknya tubuh dapat menyehatkan, apalagi bila dilakukan secara teratur dan proporsional.

Banyak aktivitas olahraga yang dapat dilakukan oleh manusia, mulai dari yang ringan hingga yang berat, serta dari yang gratis hingga yang berbayar. Pilihan olahraga yang digeluti hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan serta kekuatan masing-masing. Terlalu memaksakan dalam berolahraga juga kurang baik, atau malas sekalipun itu tetap membahayakan. Pada intinya aktivitas olahraga harus bisa terukur, teratur dan dilakukan dengan senang hati. Kesenangan dalam melakukan kegiatan olahraga mampu menghilangkan faktor kejenuhan dan mudah lelah. Sadar akan pentingnya olahraga juga menjadi pendorong semangat tersendiri. Kesadaran hanya dapat terbangun dari adanya pengetahuan. Pengetahuan akan pentingnya kesehatan harus senantiasa dicari.

Aktivitas beladiri bisa dijadikan sebagai wahana olahraga yang mempunyai nilai tambah. Nilai plus di sini mengandung arti bahwa, selain berolahraga, beladiri pun dapat dijadikan sebagai sarana pertahanan diri. Tak hanya itu, sikap dan karakter pun akan terlatih dengan adanya aktivitas beladiri ini. Sebab di dalam pelatihan beladiri diajarkan nilai-nilai karakter di antaranya sabar, tekun, tidak sombong, pantang menyerah, toleransi, saling menghormati, sportif, jujur, suka menolong, disiplin, dan tanggung jawab. Tentunya nilai-nilai karakter ini pula yang akan membentuk lingkungan menjadi lebih kondusif, aman, damai dan tenteram. Hal inilah yang akan menciptakan kehidupan menjadi lebih indah.

Banyak sekali jenis beladiri yang ada di dunia ini. Hampir sebagian terlahir secara khas dan memiliki keunikan serta ciri khasnya tersendiri. Secara umum, beladiri di setiap negara biasanya memiliki kemiripan, baik itu dalam segi jurus, teknik maupun tradisi dalam berlatihnya. Beladiri di sebuah negara dipengaruhi oleh keadaan alam dan juga budaya masyarakat di dalamnya. Tidak sedikit beladiri lahir di sebuah negara akibat dari penindasan dari kaum penjajah atau penguasa kala itu. Banyak negara-negara yang mempunyai beladiri yang khas dan juga terkenal di dunia, di antaranya adalah Jepang, Korea, China, Indonesia, Thailand, India, Portugal, dan lain-lain. Di masing-masing negara tersebut berkembang tidak hanya satu beladiri bahkan bisa lebih dari satu, contohnya negara Jepang. Jepang memiliki beberapa jenis beladiri, dan hampir semuanya dikenal di seluruh dunia.

Jepang adalah negara yang mengekspor banyak jenis beladiri ke belahan penjuru dunia. Beberapa beladiri yang terlahir dan tumbuh di Jepang di antaranya: karate, judo, kendo, kyudo, sumo, aikido, ninjutsu, shorinji kempo, yabusame, taido, dan laido. Setiap beladiri yang berasal dari Jepang terdapat nilai-nilai bushido. Bushido adalah sebuah kode etik ksatria golongan samurai dalam feodalisme Jepang. Bushido berasal dari nilai-nilai moral samurai, paling sering menekankan beberapa kombinasi dari kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati. Bushido dalam tradisi beladiri Jepang itu adalah nilai karakter pada saat ini yang terdapat dalam kehidupan bermasyarakat.

Di Indonesia terdapat pula satu jenis beladiri yang menjadi kebanggan negeri, yaitu pencak silat. Dalam pencak silat terkandung juga nilai-nilai karakter dan budi pekerti yang kurang lebih mirip dengan semangat bushido-nya beladiri Jepang, seperti: cobra, PSHT, IKSPI, pagar nusa, tapak suci, pamor, garuda, dan macan putih. Budi pekerti tersebut adalah taqwa, tanggap, tangguh, tanggon, dan trengginas. Taqwa berarti beriman teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tanggap berarti peka, peduli, antisipatif, proaktif dan mempunyai kesiapan diri terhadap setiap perubahan dan perkembangan yang terjadi berikut semua kecenderungannya. Tangguh berarti keuletan dan kesanggupan mengembangkan kemampuan. Tanggo dalam bahasa Jawa berarti sanggup menegakan keadilan, kejujuran dan kebenaran, tangguh, konsisten dan konsekuen memegang prinsip. Trengginas berarti enerjik, aktif, eksploratif, kreatif, inovatif, berpikir ke depan, prospektif dan mau bekerja keras untuk mengejar kemajuan.

Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata adalah pondok pesantren yang mengimpor banyak beladiri, dari beladiri nasional sampai internasional, seperti : karate, cobra, taekwondo, muaitay, boxing, dan tarung derajat. Sangat tidak masuk akal kalau mereka dapat bersatu, tapi karena mereka ada di bawah naungan pesantren dan didikan etika yang diperaktekkan maka tidak ada hal yang perlu ditakuti. Semua itu sesuai dengan motto yang ada di Bata-Bata, yaitu, “Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya Dari Pada Kecerdasan”.

Seorang santri yang berlatih beladiri akan mempunyai nilai budi pekerti yang tentunya berbeda dengan santri lainnya yang tidak berlatih. Ciri-ciri seorang santri dengan kemampuan beladiri biasanya mempunyai kepercayaan diri serta kesabaran yang tinggi. Di samping itu, akan cepat dan tepat dalam mengambil keputusan dan akan mudah untuk menyelesaikan permasalahan secara taktis.

Indonesia saat ini membutuhkan banyak problem solver dalam setiap permasalahan bangsa dan itu salah satunya diharapkan dari para pelajar yang berlatih beladiri. Jikapun ada yang malah menjadi troublemaker, maka janganlah menyalahkan beladirinya, bisa jadi karena itu hanyalah kelakuan oknum, bukan bicara beladiri secara keseluruhan.

*Penulis adalah Ketua badan otonom Karate Inkai Bata-Bata.