Berbakti Kepada Orang Tua; Hakikat Penghambaan Kepada Tuhan

ADMINPESANTREN Jumat, 12 Februari 2021 06:51 WIB
577x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

*Muhamad Izul Ridho

Akhir-akhir ini semakin banyak sekali diberitakan di media berbagai fenomena seorang anak yang mendurhakai orang tua mereka, mereka tidak lagi segan untuk melukai orang tua mereka bahkan memenjarakan dan membunuh mereka disebabkan hal-hal sepele, semisal disebabkan orang tuanya tidak berkenan membelikan sepeda motor. Sejarah dunia memang telah mencatat berbagai kisah tentang perilaku durhaka seorang anak kepada orang tua mereka, mulai dari cerita putra nabi Nuh As hingga cerita maling kundang.

Namun bagi bangsa Indonesia yang menjadikan terbentuknya akhlak dan budi pekerti seluruh rakyat Indonesia sebagai salah satu tujuan dari pendidikan nasional, sudah seharusnya berbagai kejadian itu menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan negeri ini. Tapi dalam tulisan ini penulis enggan mengomentari terlalu banyak tentang upaya dan kebijakan pemerintah di dunia pendidikan, penulis hanya sekadar akan mengingatkan bagaimana al-Qur'an sebagai pedoman hidup berbicara mengenai berbakti terhadap orang tua.

Kesuksesan dan kegagalan seorang seseorang tidak terlepas dari peran diri masing-masing dan kedua orang tua yang telah membesarkan dan mendidik mereka. Banyak manusia yang gagal disebabkan melupakan peran keduanya. Kesuksesan dan kegagalan yang dimaksud adalah kegagalan di dunia dan akhirat. Telah banyak bukti dari berbagai kisah manusia yang telah melalui kegagalan dan kesuksesan, kesemuanya tidak terlepas dari peran kedua orang tua.

Di dalam al-Qur'an terdapat lebih dari sepuluh ayat yang menjelaskan tentang peran kedua orang tua, serta kewajiban berbakti kepada mereka. Di antaranya di dalam QS: al-Isra ayat 23-24:

وَقَضى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوالِدَيْنِ إِحْساناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُما أَوْ كِلاهُما فَلا تَقُلْ لَهُما أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُما وَقُلْ لَهُما قَوْلاً كَرِيما

وَاخْفِضْ لَهُما جَناحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُما كَما رَبَّيانِي صَغِيراً

Dalam kitab Marah Lubaid al-Tafsir karya Nawawi al-Banteni disebutkan bahwa Ali, Ibnu Abbas dan Abdullah RA. tidak membaca "Waqadha Rabbuka" akan tetapi "Wawasso Rabbuka". Perbedaan cara membaca ini juga mempengaruhi terhadap makna dan maksud ayat di atas, namun dalam pemahaman dari ayat di atas, baik dibaca wasso maupun qada tetap menunjukkan pentingnya uraian yang akan disampaikan setelahnya. Sebab secara literik kata wasso maupun qada dapat menunujukkan arti suatu kewajiban dan keharusan.

Kalimat pertama dari ayat ini telah dengan gamblangnya menyebutkan bahwa menjaga hak kedua orang tua sebagai hakikat dari ibadah, menjaga hak kedua orang tua sebagai hakikat dari ibadah karena keduanya merupakan manusia yang darinya seorang hamba berasal sehingga keduanya seakan-akan kesatuan darinya. Lantas bagaimana seorang hamba dapat menunaikan hak Tuhannya jika menunaikan hak dirinya saja tak mampu?.

Dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa terdapat tiga bentuk penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; pertama Ubudiyah al-Rububiyah, yaitu penghambaan seluruh mahluk kepada Tuhan mereka, penghambaan dalam bentuk ini disebutkan dalam Q.S. Maryam ayat 93. Kedua, adalah Ubudiyah al-Tho'ah al-Ammah, yaitu penghambaan mu'min kepada Tuhan, penghambaan dalam bentuk ini disebutkan dalam Q.S. al-Furqan ayat 63. Ketiga adalah Ubudiyah al-Rusul, yaitu penghambaan para utusan sebagai manusia pilihan kepada Tuhan. Banyak ayat yang menyebutkan penghambaan jenis ini semisal dalam Q.S. al-Isra' ayat 3 dan al-Baqarah ayat 23.

Selanjutnya ayat di atas menguraikan secara umum tentang cara untuk berbakti kepada orang tua serta larangan untuk durhaka kepada mereka. Tanpa sadar banyak orang pernah melakukan perbuatan durhaka yang disebutkan di dalam ayat di atas. Ayat di atas menguraikan cara termudah untuk durhaka adalah dengan berucap “uffin (his, cis, kata yang menunjukkan kebencian)", satu kata yang sangat mudah diucapkan namun memiliki dampak besar dan dinilai mendurhakai orang tua karena telah menyakitinya dengan ucapan tersebut.

Secara kontekstual dapat dipahami bahwa dulu perkataan seperti itu bisa menyakiti kedua orang tua di dalam adat istiadat bangsa Arab. Sehingga jika di Indonesia kata seperti itu bisa setara dengan setiap kata yang dapat membuat orang tua sakit hati karenanya. Sehingga akan banyak jenis suku kata seperti itu, tergantung konteks dari pembicaraan dengan orang tua, semisal saat orang tua bertanya "Apakah kamu sudah tidak menganggap saya orang tua kamu", jawaban kata "iya" dalam konteks pembicaraan seperti itu tentu sangat menyakiti hati orang tua, maka kata "iya" setara dengan kata "uffin".

Terakhir penulis akan uraikan sedikit tentang cara mudah berbakti dan membuat orang tua bahagia. Pertama, berikan perhatian dengan meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan bercengkrama bersama mereka. Kedua, berikan yang terbaik untuk mereka sebagaimana mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, perlakukan mereka selayaknya ratu dan raja. Ketiga, libatkan mereka dalam segala aktivitas dengan meminta doa dan restu mereka, sebab dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa ridha Tuhan bersama dengan ridha mereka.

Adapun jika orang tua sudah mangkat, maka cara termudah membahagiakan mereka adalah dengan mendoakan mereka agar Tuhan mengasihi mereka sebagaimana mereka mengasihi kita waktu kecil dulu. Do'a adalah hadiah terbesar seorang anak kepada orang tua mereka di akhirat. Semoga penulis dan para pembaca yang budiman dapat menjadi manusia yang berbakti kepada orang tua.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, sekaligus alumni Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan.