Santri Sebagai Local Wisdom NKRI

ADMINPESANTREN Selasa, 16 Februari 2021 07:35 WIB
857x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Alief Bilhaq*

Berbicara tentang santri sebagai pencari ilmu yang ber-asrama, juga kental akan budaya keagamaannya, menjadi pembeda dari pencari ilmu lainnya seperti siswa dan mahasiswa. Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya mayoritas muslim sekaligus menjadi negara dengan angka pesantren tertinggi sedunia. Jawa misalnya, yang setiap jengkal dari kota yang satu dengan kota yang lain, sangatlah padat dengan bangunan menjulang dan berjejer yang disebut sebagai pesantren. Meskipun masih ada sebagian kecil pesantren yang menggunakan gubuk (pondok gede) sebagai tempat inap santri.

Tidak jarang jika ada kota atau daerah yang diberi nama kampung kiai, karena daerah tersebut banyak bermukim kiai dan para ulama. Di pulau garampun, pondok pesantren juga menjamur di berbagai wilayah, meski jumlahnya masih lebih sedikit dibanding daerah Jawa. Namun, dengan begitu banyaknya pondok pesantren di Madura, menambah kentalnya nilai-nilai kegamaan Islam dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Madura.

Santri dapat dilihat dengan dwi fungsi dan sosok kepribadian dalam kacamata yang berbeda. Santri terlihat sebagai sosok yang fanatik terkait dogma dan aturan agama, namun tidak mengenyampingkan sifat toleransinya sebagai warga negara Indonesia yang kental dengan keanekaragaman, baik dari segi kultur budaya, agama, ras, dan lain sebagainya. Santri menjelmakan dirinya sebagai sosok yang multi talent dengan sikapnya yang luhur. Hanya saja masih ada beberapa oknum santri dari kalangannya yang tidak mau peduli dan acuh tak acuh terhadap keadaan negaranya. Namun santri dengan sikapnya yang sopan dan menghargai perbedaan sudah menjadi keharusan dan keniscayaan baginya. Hal itu justru berkaitan dengan perkembangan demi kebutuhan dan kemajuan lingkungan di sekitarnya, bukan lantas pada apa yang sedang trend saat ini.

Santri merupakan pesona local wisdom NKRI yang senantiasa dipelihara. Hal itu merupakan sebuah ide keniscayaan yang patut direnungkan oleh diri santri sendiri dan pemangku tampuk pemerintahan. Sebab, walau bagaimanapun negara butuh sosok yang bermoral dan berpengetahuan. Dimana bersikap luhur adalah hal yang diajarkan pertama kali pada seorang santri. Dengan begitu ia akan lebih mengerti dan menghargai sesama dalam hidupnya serta tidak gampang menyalahkan orang lain. Pengetahuan santri sendiri tidak terbatas pada ajaran agama saja, namun menyeluruh dan up to date. Terbukti santri turut mengambil peranan penting dalam kehidupan bernegara, bahkan menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan.

Seperti K.H. Abdur Rahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur. Beliau seorang santri, pemimpin besar Indonesia yang diakui kehebatannya oleh para ilmuwan dan cendekiawan dunia. Saat ini, sosok-sosk seperti beliau tengah dirindukan kehadiran dan pemikirannya. Sikapnya yang toleran, kepribadiannya multi dimensi, anti kekerasan disertai kepiawaiannya mengubah politik yang tidak berperi kemanusiaan menjadi politik yang selalu menginspirasi dan memberikan solusi yang bersendikan kemanusiaan.

Santri sudah seharusnya membuka diri dan menunjukkan dirinya pada negara dengan pembuktian pengabdiannya atas dasar kecintaan pada tanah air. Bukan lagi waktunya bagi santri untuk merenung atau hanya memperlajari keagamaan semata, namun juga mempelajari ilmu-ilmu ketatanegaraan dan menjadi kearifan lokal yang bermanfaat. Tidak hanya menulis dan membaca, tetapi juga butuh adanya action positif untuk negara.

Menjadikan santri sebagai local wisdom NKRI tidak akan menjadikan Indonesia negara yang arabisasi tapi mengusung pribumisasi Islam. Berpolitik bukan untuk memperkaya diri, tapi untuk memperkaya negara dan mensejahterakan negaranya. Sebab pemahamannya tentang agama Islam tidak lagi diragukan. Santri akan merawat masyarakat dengan spirit syari’at yang tidak memaksakan kehendak sendiri. Santri sudah terbiasa bermusyawarah, tidak pula diperbudak oleh hasrat-hasrat duniawi. Santri tidak memilih bahagia di dunia saja, namun akhiratnyalah sebagai tujuan paripurna kehidupannya. Para kiai tentunya telah mengajarkan arti hidup kepada santri, hingga pegangan hidupnya bukan materi dan sandarannyapun tidak dengan mengikis kebebasan rakyat Indonesia. Wallahu a'lam bisshawab.

*Santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Putri. Redaksi di majalah PELITA.