Al-Qur`an Inspirator Sains dan Saintis Muslim

ADMINPESANTREN Jumat, 19 Februari 2021 06:46 WIB
248x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Muzammil Imron, S.Ag., MA.

Ilmu pengetahuan adalah merupakan salah satu isi pokok kandungan kitab suci Al-Quran. Bahkan kata ‘ilm itu sendiri disebut dalam Al-Quran sebanyak 105 kali, yang memang merupakan salah satu kebutuhan agama Islam, betapa tidak setiap kali umat Islam ingin melaksanakan ibadah selalu memerlukan penentuan waktu dan tempat yang tepat, umpamanya melaksanakan shalat, menentukan awal bulan Ramadhan, pelaksanaan haji, semuanya punya waktu-waktu tertentu. Dalam menentukan waktu yang tepat diperlukan ilmu astronomi. Maka dalam Islam pada abad pertengahan dikenal istilah sains mengenai waktu-waktu tertentu. Banyak lagi ajaran agama yang pelaksanaannya sangat terkait erat dengan sains dan teknologi, seperti menunaikan ibadah haji, berdakwah, semua itu membutuhkan kendaraan sebagai alat transportasi. Allah telah meletakkan garis-garis besar sains dan ilmu pengetahuan dalam Al-Quran, manusia hanya tinggal menggali, mengembangkan konsep dan teori yang sudah ada, antara lain sebagaimana terdapat dalam QS. Ar-Rahman ayat 33 di bawah ini. Artinya: “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” Ayat di atas pada masa empat belas abad yang silam telah memberikan isyarat secara ilmiah kepada bangsa jin dan manusia, bahwasanya mereka telah dipersilakan oleh Allah untuk mejelajah di angkasa luar asalkan saja mereka punya kemampuan dan kekuatan (sulthan). Kekuatan yang dimaksud di sini sebagaimana ditafsirkan para ulama adalah ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi. Hal ini telah terbukti di era modern sekarang ini, dengan ditemukannya alat transportasi yang mampu menembus luar angkasa, bangsa-bangsa yang telah mencapai kemajuan dalam bidang sains dan teknologi telah berulang kali melakukan pendaratan di Bulan, Planet Mars, dan planet-pelanet lainnya.

Al-Quran sebagai sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan tampaknya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan hampir semua ilmu pengetahuan yang muncul di permukaan saat ini telah termuat di dalam kitab suci Al-Quran, walaupun tidak dijelaskan secara rinci. Sebagai salah satu contoh, dalam Surat Ar-rahman ayat 33 yang saat ini ditafsirkan sebagai ayat tentang ilmu pengetahuan teknologi, yakni penemuan pesawat terbang. Semakin maju dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin menguak ilmu-ilmu yang terkandung dalam Al-Quran. Hal ini menjadi bukti akan kebenaran firman Allah yang termuat dalam Al-Quran, sebagai landasan hidup manusia guna mewujudkan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.

Al - Quran adalah inspirator, maknanya bahwa dalam Al-Quran banyak terkandung teks-teks (ayat-ayat) yang mendorong manusia untuk melihat, memandang, berpikir, serta mencermati fenomena-fenomena alam semesta ciptaan Tuhan yang menarik untuk diselidiki, diteliti dan dikembangkan. Al-Quran menantang manusia untuk menggunakan akal pikirannya seoptimal mungkin. Al-Quran memuat segala informasi yang dibutuhkan manusia, baik yang sudah diketahui maupun belum diketahui. Informasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi disebutkan berulang-ulang dengan tujuan agar manusia bertindak untuk melakukan (نظر) nazhar. Nazhar adalah mempraktekkan metode, mengadakan observasi dan penelitian ilmiah terhadap segala macam peristiwa alam di seluruh jagad ini, juga terhadap lingkungan keadaan masyarakat dan historisitas bangsa - bangsa zaman dahulu. Menurut firman Allah SWT: "Katakanlah (Muhammad): lakukanlah nadzar (penelitian dengan menggunakan metode ilmiah) mengenai apa yang ada di langit dan di bumi ..." ( QS. Yunus ayat 101). Prinsip-prinsip pandangan Islam tentang sains dan teknologi dapat diketahui dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (tulis baca). Dia Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS al-'Alaq: 1-5)

Kata Iqra' diambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik yang tertulis maupun tidak. Sedangkan dari segi obyeknya, perintah iqra' itu mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh manusia. Ayat tersebut merupakan suatu dukungan yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk terus menggali, memperdalam dan memperhatikan apa yang ada di alam semesta termasuk sains dan teknologi. Selain memuat banyak tentang pengembangan sains, Al-Quran juga dijadikan inspirasi ilmu dan pedoman dalam pengembangan pemikiran sehingga dapat terciptanya penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi kehidupan. Menurut Syaikh Jauhari Thanthawi, Guru Besar Cairo University, dalam Tafsir Al Jawahir, terdapat lebih dari 750 ayat kauniat, ayat tentang alam semesta, dan hanya ada sekitar 150 ayat tentang Fiqh.

Pandangan Islam terhadap sains dan teknologi adalah bahwa Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk melakukan penelitian dalam bidang apapun, termasuk sains dan teknologi. Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan sains dan teknologi canggih untuk mengatasi berbagai masalah kehidupannya, namun di sisi lain sains dan teknologi canggih tersebut tidak mampu menumbuhkan moralitas (akhlak) yang mulia. Untuk itu, munculnya gagasan tentang Islamisasi Sains dan Teknologi. Tujuan gagasan tersebut adalah agar sains dan teknologi dapat membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Epistimologi Islam tersebut pada hakikatnya menghendaki, bahwa sains dan teknologi harus mengakui adanya nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Dengan demikian integrasi Al-Quran dan sains dalam pendidikan modern memiliki dua misi penting, yakni pembinaan moral spiritual dan daya intelektual. Mensinergikan antara Al-Quran sebagai pedoman umat Islam dengan sains merupakan suatu keharusan, karena Al-Quran sendiri merupakan sumber pengetahuan yang mencakup seluruh aspek kehidupan, dengan ditambah ilmu pengetahuan teknologi yang saat ini berkembang pesat, bukan suatu hal yang mustahil jika nantinya dunia pendidikan akan mencetak generasi pemikir yang memiliki spiritualitas tinggi dibanding dengan masa lalu. Peserta didik saat ini dapat dikatakan berbeda dengan peserta didik masa lampau, saat ini mereka sangat kritis dan tidak begitu saja menerima pelajaran yang disampai oleh guru. Ketika disampaikan tentang haramnya perbuatan, maka mereka tidak serta merta menerima, namun mereka mempertanyakan apa yang membuat perbuatan itu menjadi haram. Dalam kasus seperti inilah peran Al-Quran dan sains diharapkan mampu memberikan jawaban dan penjelasan secara konkret. Sehingga perpaduan antara Al-Quran, sains dan dunia pendidikan dapat saling mendukung dalam memberikan pemahaman yang utuh kepada peserta didik.

Jika ditinjau historisitasnya, konsep integrasi keilmuan bukanlah barang baru, karena telah didiskusikan oleh ulama-ulama klasik Islam. Sebagai contoh, al-Syafi’i dalam karya monumentalnya al-Umm, mendasari uraian master piece-nya itu dengan memosisikan Al-Quran dan Hadis sebagai sumber utama keilmuan. Kedua pedoman tersebut menetapkan prinsip dasar dan petunjuk bagi manusia untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Senada dengannya, ulama klasik Islam lainnya memadukan tiga aspek dalam upaya integrasi keilmuan: spiritual, intelektual, dan moral. Keterkaitan ketiga aspek tersebut disejajarkan dengan eratnya kepaduan antara akidah, syariah, dan akhlak. Dalam format serupa, al-Ghazali mendeskripsikan kepaduan tiga aspek, yaitu qalb (hati), ‘aql (intelektualitas), dan nafs (nafsu). Tidak kalah menariknya adalah ketika Ibn Khaldun menjelaskan bahwa keilmuan manusia merupakan fenomena alami manusia yang bersumber dari dua rujukan utama, yaitu wahyu (revelation) dan alam (the universe). Ulasan ini menjadi dalil tak terbantahkan bahwa perbincangan tentang integrasi keilmuan juga telah lebih dulu hadir sebelum diwacanakan beberapa dasawarsa terakhir. Bahkan, wacana integrasi ilmu oleh ulama klasik sudah memperbincangkan tentang kelanjutan dari konsep itu, yang dapat disebut ‘melampaui konteks zamannya’.

Integrasi Al-Quran dengan sains dan teknologi diharapkan pembelajaran yang dilaksanakan menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami. Sehingga tujuan pendidikan dalam mengarahkan peserta didik agar menjadi pribadi yang berintelektual serta ketakwaan yang tinggi dapat terwujud. Adapun bentuk formulasi integrasi Al-Quran dan sains dapat diwujudkan dengan menjadikan kitab suci sebagai basis atau sumber utama ilmu pengetahuan, memperluas batas materi kajian Islam dan menghindari dikotomi ilmu. Tak kalah pentingnya lagi dapat menumbuhkan pribadi yang berkarakter ulul albab, menelusuri ayat-ayat dalam al-Quran yang berbicara tentang sains, mengembangkan dunia pendidikan yang sekarang dan masa yang akan datang.

Jika kita kilas balik sejarah, pada sekitar abad ke-8 sampai ke-15, lahir para ilmuwan besar sekaligus ulama kharismatik yang mengambil inspirasi dari Al Qur'an, seperti Al Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al-Khawarizmi (matematika), Al-Razi (kimia, kedokteran), dan Al Batruji (astronomi). Agenda mendesak untuk mengembalikan kejadian Islam adalah menguasai sains. Kenapa harus sains Islam? Menurut Agus Purwanto, D.Sc., tiga pilar sains Islam dibangun dari prinsip tauhid yang tersari dalam kalimat la ilaha illallah, tiada tuhan selain Allah, dan terdeskripsi dalam rukun iman dan rukun Islam. Pertama, pilar ontologis sains Islam menerima realitas material maupun nonmaterial sebagaimana QS. Al Haqqah (69): 38-39. Sementara sains modern hanya menerima realitas materi dan pikiran sebagai dua substansi yang sepenuhnya berbeda dan terpisah. Kedua, pilar aksiologis sains Islam adalah mengenal sang pencipta melalui pola-pola ciptaan-Nya, sebagaimana QS. Ali Imran (3): 191. Dengan pengamatan yang cermat terhadap ciptaan-Nya, sang ilmuwan menjadi lebih dekat dan tunduk pada Sang Pencipta sebagaimana QS Fathir (35): 28). Berbeda dengan sains modern yang abai terhadap kekuasaan Tuhan. Ketiga, pilar epistemologis sains Islam adalah Al-Qur'an. Berbeda dengan sains modern yang pada awal kelahirannya terang-terangan memproklamirkan perlawanan terhadap doktrin religius gereja, dan wahyu tidak mendapat tempat dalam bentuk sains. Buku Ayat-ayat Semesta menghimpun klasifikasi subjek ayat tentang sains, dan tafsir Al-Qur'an atas ayat tersebut. Pengajar ilmu sains di pesantren wajib membaca buku tersebut untuk mengintegrasikan Al-Qur'an dan sains.

Dalam kaitanya dengan keilmuan, eksistensi pendidikan sangatlah penting guna melahirkan bibit-bibit baru intelektual yang akan menjadi tonggak generasi yang akan datang. Namun dalam kenyataannya masih banyak dijumpai kegagalan-kegagalan dalam dunia pendidikan, sehingga kemajuan intelektual generasi baru hanya menjadi angan-angan belaka. Padahal semakin berkembangnya ilmu pengetahuan saat ini, seharusnya menjadi indikator kesuksesan dalam melahirkan kaum pemikir yang hebat. Berbanding terbalik dengan itu, kemajuan ilmu pengetahuan justru membuat kebanyakan manusia saat ini menjadi matrealistik dan individualis, dengan hasrat yang berlebihan hanya mencari kenikmatan yang bersifat semu. Banyak orang pintar namun miskin nilai-nilai spiritualitas dan moralitas. Oleh karena itu, saat ini perlu adanya sistem pendidikan yang dapat menyatukan nilai-nilai keagamaan dan ilmu pengetahuan, sehingga diharapkan akan menghasilkan individu yang tidak hanya memiliki skill di bidang sains dan teknologi, akan tetapi juga memiliki kesadaran spiritual, intelektual dan moral. Wallahu al'lam bisshawab.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, sekaligus Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan.