Visi Sejarah dalam Bingkai Kemajuan Peradaban Islam

ADMINPESANTREN Selasa, 23 Februari 2021 06:12 WIB
178x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Alhsani*

Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin. Banyak yang menafsirkan ”lil alamin” sebagai agama yang moderat dan ada pula yang menafsirkannya sebagai agama penyelamat umat. Terlepas dari itu, kita semua harus menjadi umat Islam yang cermat, dan tentunya menjahui ilmu yang tak bersanad, agar di tengah jalan tidak tersesat.

Adapun istilah ‘sejarah’ diambil dari kata syajarun yang bermakna pohon kayu. Sedangkan pohon senantiasa tumbuh besar lalu bercabang, kemudian lambat laun layu dan tumbang. Fakta itu selaras dengan fenomena sejarah baik sejarah peradaban, keilmuan, bahkan sejarah kehidupan yang menyedihkan. Apapun itu, kita lupa terhadap awal mula dari sebuah sesuatu. Saya yakin bahwa hanya segelintir orang yang paham akan sejarah Islam. Pahamilah bahwa kita harus mengetahui terhadap peradaban dari masa ke masa, tujuannya tidak lain hanya untuk menyelaraskan kehidupan dengan sejarah yang telah berlalu.

Contoh kecil adalah sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Kapan, dimana, oleh siapa dan juga buat apa menjadi pertanyaan paling mendasarnya. Hal-hal tersebutlah yang penting untuk dikaji oleh orang-orang terpelajar. Sebab, buntunya pemahaman makna sejarah, akan membuat umat Islam mudah sekali terkena trik sulap orang-orang orientalis. Maka tidak jarang banyak terjadi perdebatan antara sesama umat Islam dengan sejarah mereka sendiri, disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap sejarah.

Diakui atau tidak, umat Islam yang sering disebut sebagai bangsa Timur oleh orang-orang Barat adalah bangsa yang mempunyai banyak sekali keilmuan yang terpendam. Oleh karena itu, banyak orang Barat yang mencari ilmu ke daerah Timur, mempelajarinya, mengembangkannya, tanpa diketahui oleh mayoritas umat Islam. Dan disitulah umat Islam telah banyak mengalami kebutaan sejarah. Alpa kesadaran bahwa keilmuan yang mentereng di Barat merupakan hasil adopsi kekayaan peradaban timur di masa silam.

Cikal bakal peralihan ilmu pengetahuan dari Timur ke Barat disebabkan oleh kekalahan Islam di perang Salib. Saat itu, ketika Islam mengalami kekalahan pada perang Salib, banyak kitab-kitab atau buku-buku Islam yang sudah tentunya dikarang oleh ilmuwan muslim, diambil lalu diterjemahkan selama ratusan tahun. Karya-karya orsinilnya kemudian dibakar dengan mengubah nama penulis beserta isi karya salinannya.

Sebab itulah, umat Islam harus bangkit dari keterpurukan ini. Dimulailah dari mempelajari sejarah. Sebagai contoh, di masa kemerdekaan Indonesia dahulu, ada seorang tokoh Islam yang namanya melegenda sampai sekarang, yaitu Prof. Buya Hamka. Beliau adalah orang asli Indonesia yang namanya diakui oleh negara-negara Barat karena kepandaiannya dalam bidang ilmu sejarah. Beliau sudah banyak mengarang buku yang berbau sejarah, baik sejarah Islam maupun sejarah secara general. Setelah wafatnya Buya Hamka, sejarah kita mulai tumpul kembali gara-gara peradaban Barat yang merajalela begitu keras. Tidak ayal jika orang Barat mengatakan bahwa bangsa Timur adalah macan yang sedang tertidur.

Apalagi, jika melihat dari keadaan sekarang, banyak orang-orang yang bertopeng keislaman. Mereka menggunakan nama Islam agar bisa mendapatkan kemanfaatan dari orang Islam, padahal sejatinya adalah untuk merugikan. Tidak jarang pula mereka menjadi provokator, pengadu domba antara sesama umat Islam, dan itulah yang sekarang terjadi. Umat Islam sekarang belum bisa memadupadankan antara sejarah, agama dan sikap. Ada yang bisa bersejarah dan beragama tapi tak bisa bersikap selayaknya orang yang bersejarah dan beragama. Ada pula yang bisa bersikap dan beragama tapi tak bisa bersejarah dan begitupun seterusnya. Sedang dulunya, para Wali Songo bisa memadukan ketiga-tiga faktor tersebut. Contohnya, Sunan Gunung Jati. Beliau bisa bersejarah dengan cara berdakwah melalui pertunjukan wayang kulit. Beliau bisa pula beragama dengan berdakwah tiada tuhan selain Allah. Beliau pun bisa bersikap dengan berdakwah secara perlahan-lahan melalui apa yang disukai oleh objek dakwahynya yang mayoritas buta terhadap agama Islam.

Oleh sebab itu, kita harus bisa menggali pemahaman sejarah yang terpendam dari sisa-sisa peninggalan umat terdahulu. Kita harus bisa memahami agama dengan cara beribadah dan muthala’ah dari kitab ke kitab lainnya dan berharap ridho para guru. Kita harus bisa bersikap moderat terhadap menyikapi suatu masalah yang baru dengan memberi pemahaman halus pada lawan bicara kita. Jika ini sudah terpenuhi, maka kita sudah siap untuk perang ideologi dengan orang-orang yang menjadi benalu di pohon besar ini. Jadi sesungguhnya kita tidak perlu berkoar-koar dengan adanya masalah baru-baru ini. Cukup diami, pelajari, dan sikapi secara islami. Perang yang berbau persenjataan juga bisa dicegah dengan adanya kecerdasan yang diawali dengan pemahaman. Indonesia sudah memiliki banyak orang-orang pintar, tapi Indonesia sedikit memiliki  orang-orang yang bertindak kebenaran.

Maka, dengan adanya tiga faktor tadi, kita sudah pasti menguasai terhadap peradaban Barat yang mulai mencekik orang Timur dan mulai menguasai segala aspek kehidupan. Yakinilah bahwa suatu saat nanti jika ketiga faktor tersebut berkumpul, maka Islam akan menggapai masa keemasan yang tak terbayangkan. Lebih-lebih di masa 4.0 ini, kita harus berperang melalui media. Kita siapkan pemuda yang unggul untuk menghadapi tahun 2045 mendatang. Kita masuki pemerintahan, kita masuki perdagangan, kita masuki hal-hal yang berbau media, tujuannya hanya satu, agar peradaban Barat bisa ditumbangkan lalu digantikan dengan peradaban Islam yang memanusiakan manusia. Wallahu a'lam bisshawab.

*Penulis adalah anggota Majelis Musyawarah Kutubuddiniyah (M2KD) sekaligus siswa kelas XII Madrasah Aliyah Mambaul Ulum Bata-Bata.

sumber gambar: pelajaransejarahislam.blogspot.com