Waqaf Tunai; Mengentaskan Mental Menerima Apalagi Meminta

ADMINPESANTREN Jumat, 26 Februari 2021 06:55 WIB
347x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Mohammad Izul Ridho*

Ketika mendengar seruan gerakan wakaf nasional, teringat di dalam benak akan seruan jihad fi sabilillah untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang diserukan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asyari untuk mempertahankan kemerdekaan tatkala Belanda dan Sekutu hendak mengambil alih Indonesia lagi. Seruan gerakan wakaf nasional merupakan seruan kepada umat muslim. Kata wakaf diambil dari kata ‘waqaf’ dalam bahasa arab, yaitu satu kata yang menjadi istilah dan digunakan dalam berbagai literatur kajian Islam untuk memyebut akad pemberian harta benda bergerak atau tidak bergerak yang ditujukan untuk kemanfaatan umat Islam (kemanfaatan umum) secara ikhlas. Dari sini dapat dipahami bahwa seruan wakaf nasional ini sebagai seruan atas nama agama untuk kepentingan negara dan bangsa khususnya umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia.

Banyak hal yang melatar belakangi seruan gerakan wakaf ini, di antaranya adalah kondisi ekonomi yang semakin tidak menentu akibat pandemi covid-19 yang menyebabkan semakin tingginya jumlah pengangguran dan angka kemiskinan. Anjloknya kondisi ekonomi negara juga membuat penerimaan pajak yang menurun dan beban negara untuk memenuhi dan melindungi kebutuhan rakyat semakin berat. Sehingga untuk mengatasi hal itu di pertengahan pandemi melanda bangsa Indonesia, pemerintah memilih untuk menyetujui hutang kepada negara asing dan bank dunia dengan bunga yang juga tidak normal. Kondisi semacam ini mirip dengan pepatah lama "Sudah jatuh masih tertimpa tangga pula".

Selain kondisi ekonomi yang kian buruk dan tidak menentu, besarnya potensi dana wakaf umat muslim Indonesia juga menggiurkan negara untuk mengambil peran mengelola dana tersebut. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia menurut beberapa data penelitian memiliki potensi aset wakaf sebesar Rp. 2.000 triliun dan potensi wakaf uang tunai mencapai Rp. 188 triliun per tahunnya. Besarnya potensi ini belum dikelola dengan baik dan maksimal. Saat ini hanya dikelola terbatas pada lingkup sarana ibadah saja, semisal pada pembangunan masjid, makam dan pelaksanaan beberapa kegiatan keagamaan.

Setiap kebijakan pemerintah pasti direspon oleh masyarakat, jika seruan Jihad Resolusi Hasyim Asyari direspon masyarakat dengan penuh semangatnya dan membangkitkan pemuda dan rakyat kala itu untuk turun ke medan perang. Namun berbeda dengan seruan gerakan wakaf uang tunai kali ini, meskipun wakil presiden yang juga memiliki trah sebagai ulama ikut andil menyerukan gerakan ini. Muncul berbagai respon di tengah masyarakat, ada yang mendukung dan mencibir "nyinyir". Umat muslim masih belum satu suara mengenai pentingnya seruan ini.

Setidaknya ada dua penyebab yang membuat umat muslim belum satu suara atau masih adanya kelompok atau manusia bagian dari Rakyat Indonesia yang nyinyir pada seruan ini di tengah kondisi ekonomi yang kian tidak menentu. Pertama, menurun atau hilangnya kepercayaan umat kepada negara untuk mempercayakan dana mereka dikelola negara, di antara sebabnya adalah sistem yang masih memungkinkan untuk terjadinya praktek korupsi dan masih banyaknya pejabat yang doyan melakukan korupsi. Terbukti dana bantuan sosial untuk menanggulangi dampak dari pandemi yang dikorupsi oleh pejabat tinggi negara sekelas menteri.

Kedua, mental umat saat ini bisa dibilang "bermental meminta dan menerima" walaupun mereka sebenarnya sudah berkecukupan. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya umat Islam yang sangat berebutan bansos dari pemerintah walaupun sebenarnya mereka tidak termasuk dalam kategori fakir maupun miskin. Hal ini berbeda dengan mental umat ketika hadratus syaikh menyerukan jihad atau ketika umat Islam menghadapi perang Tabuk. Mental umat Islam kala itu bermental memberi walaupun keadaan mereka sendiri sedang pas-pasan atau bahkan kekurangan. Umat yang bermental meminta dan menerima menunjukkan pula begitu jelasnya kepincangan mayoritas muslim Indonesia dalam berislam.

Contoh lain dari keadaan umat yang merefleksikan Islam sesungguhnnya yang harus menjadi barometer dalam berislam adalah ketika peristiwa perang Tabuk diserukan oleh Rasulullah, hampir semua sahabat dan penduduk Madinah meinfaqkan harta yang dimiliki untuk seruan tersebut, bahkan ada beberapa sahabat yang hanya meninggalkan separuh dari enam kilo gandum yang didapatnya untuk keluarga yang ditinggalkan berangkat berjihad. Sehingga hampir seluruh sahabat yang berkisar 3000 orang dapat membiayai akomodasi perang mereka sendiri khususnya makanan. Dari kekompakan umat Islam kala itu, sumbangan Utsman yang cukup besar dapat digunakan untuk mempersiapkan alat-alat perang, dan sumbangan Abu Bakar yang tak kalah besarnya dapat digunakan untuk membeli kuda perang dan kendaraan perang.

Terakhir, selain istilah wakaf dalam kajian fikih Islam, terdapat beberapa istilah yang digunakan terhadap pemberian yang ditujukan untuk kemanfaatan umat, di antaranya adalah kata infaq, sodaqah dan hibbah yang kesemuanya memiliki batasan dan konsekuensi hukum fikih yang berbeda. Menurut pendapat penulis sendiri gerakan yang diserukan oleh bapak presiden ini lebih tepatnya menggunakan istilah hibbah karena dana yang dikumpulkan nantinya dapat digunakan lebih umum. Namun sepertinya istilah wakaf yang dimaksud adalah kata wakaf dalam bahasa Indonesia yang maknanya dalam KBBI lebih umum dari istilah waqaf dalam istilah kajian fikih. Wallahu a'lam bi al-Shawab.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Berasal dari Jember Jawa Timur.

Sumber Gambar: Republika.co.id