Ajak Berpendidikan Berbasis Kearifan Lokal

ADMINPESANTREN Ahad, 21 Maret 2021 12:07 WIB
186x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren

Bata-Bata — Secara konsep Pekan Ngaji memang banyak membawa perubahan bagi siapapun yang menikmati dan memahaminya secara akurat, seperti Ngaji Pendidikan Millenial hari ini, yang mengangkat tema “Pendidikan Menyenangkan Berbasis Kearifan Lokal dan Bermutu” dengan Bapak Muhammad Karim, M.Pd sebagai penyaji.

Ngaji kali ini panitia khususkan kepada para asatidz yang memang meyandang pekerjaan sebagai tenanga pengajar di bawah naungan PP. Mambaul Ulum Bata-Bata. Namun antusias santri yang begitu semangat dalam mengikuti seminar juga banyak, sehingga ada sebagian santri yang ikut nikmat mendengarkan pemaparan materi di aula Madrasah Barat tersebut pada (21/03/21).

Meskipun peserta yang hadir juga menumpuk, panitia tetap menghimbau untuk mematuhi protokol kesehatan, “Kepada semua peserta seminar, kami tetap menghimbau untuk mencuci tangan pakai sabun, memakai masker dan juga menjaga jarak,” ujar Erfan selaku tim media.

Di pertengahan pemaparan, Pak Karim (Pemateri. Red) menyampaikan bahwa ke belakang pendidikan tidak bisa dipungkiri akan semakin millenial meskipun covid-19 sudah musnah, “Meskipun pandemi sudah tidak ada, ke belakang akan banyak sekali madrasah ataupun perguruan tinggi yang akan tetap menggunakan daring. Seperti halnya di Jawa, bahkan di UIN Maliki Malang juga akan tetap seperti itu,” terang Dosen UIN Maliki Malang tersebut.

Pemaparan yang begitu lugas dan tegas tersebut sangatlah nyaman untuk dinikmati dan dipahami oleh peserta, “Pemaparannya lugas, secara gampang saya mampu mengingatnya dan mempraktekannya nanti, In Sya  Allah.” Ujar Fawaid di pertengahan pemaparan.

Di akhir pemaparan, Pak karim menyampaikan bahwa Big Data (Dunia Online) sangatlah dibutuhkan dalam pembelajaran, “Tidak bisa dipungkiri bahwa Big Data sangat berguna dalam belajar mengajar, karena siswa akan jenuh jika pelajaran hanya monoton pada satu fokus. Meskipun realitanya siswa tidak harus diberi kesempatan online, cukup tenaga pengajar saja yang memberikan hiburan dan hal itu hanya bisa didapatkan dengan cara browsing,” pungkas pria dengan kelahiran Bojonegoro tersebut. (And)