Ngaji Leadership; Mencetak pemimpin Jujur, Cerdas dan Terampil

ADMINPESANTREN Ahad, 21 Maret 2021 22:43 WIB
415x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren

Bata-Bata Sebagai bentuk implementasi dari tema pekan ngaji 6 yakni “Sharing the Usefulness,” sekaligus untuk mempengaruhi, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan kepemimpinan yang handal, Panitia Pelaksana Pekan Ngaji 6 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (Ponpes MUBA) adakan ngaji kepemudaan bertajuk “Leadership for young leader.” Ngaji tersebut digelar Minggu malam, (21/03/21) bertempat di halaman madrasah barat.

Turut hadir dalam pelaksanaan ngaji tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Mauidzul Amin yakni KH. Moh. Amin Rifki dan juga Akhmad Zaini selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan serta beberapa aparatur polisi resort (polres) Pamekasan.

H. Badrut Tamam, S.Psi selaku Bupati Kabupaten Pamekasan masa bakti 2018-2023 yang juga tercatat sebagai alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata ditunjuk sebagai pemateri tunggal dalam ngaji kepemudaan tersebut. Beliau didampingi Ahsan Riadi, MA sebagi moderator.

Sebelum masuk pada materi, Ra Badrut – sapaan akrab Bupati Pamekasan tersebut, menceritakan masa-masa indahnya sewaktu masih menimba ilmu di Pondok Pesantren Bata-Bata, “Waktu itu saya masuk pertengahan tahun 1993.” Dia juga menuturkan bahwa dulunya sama seperti santri pada umumnya, “Sama-sama belajar, ya walupun dulu tidak ada Pekan Ngaji,” tutur politikus PKB tersebut.

Menurutnya, untuk menjadi pemimpin yang luar biasa itu membutuhkan beberapa skill yang mumpuni. “Pemimpin harus punya kapabilitas, dalam artian mampu memprediksikan masalah di masa depan juga mampu dan tahu cara menyelesaikan masalah,” jelasnya. Ia juga menjelaskan beberapa syarat mutlak dari seorang pemimpin, meliputi; kejujuran, keilmuan dan kecekatan. “Jika kita sebagai santri, sudah mempunyai 3 syarat tadi maka bisa dipastikan menjadi pemimpin yang baik,” seru pria lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.

Dia juga mewanti-wanti para santri agar tidak berkecil hati untuk menjadi pemimpin, walaupun berasal dari keluarga menengah ke bawah. Pasalnya finansial bukanlah sebagai halangan dalam dunia kepemimpinan, “Jika uang merupakan syarat mutlak, maka kita terjebak dalam kesalahan berpikir.” Beliau juga mengingatkan, bahwa menjadi pemimpin itu harus siap menerima aspirasi dari masyarakat. “Kritik merupakan sebuah keniscayaan. Tidak ada pelaut handal tanpa melewati ombak besar,” pungkasnya di akhir materi.

Para santri begitu antusias mengikuti ngaji kepemudaan tersebut, terbukti kurang lebih ada ribuan santri yang hadir, tentunya tanpa melupakan protokol kesehatan. “Santri wajib pakai masker, duduknya juga kami design berjarak 1 meter,” ujar Ma’ruf selalu tim medsos Pekan Ngaji 6.

Di penghujung acara, pihak panitia menunjuk KH. Amin Rifki untuk memberikan cenderamata serta beberapa bingkisan kenang-kenangan kepada pemateri serta moderator ngaji kepemudaan tersebut. (Fud)