Lebaran di Lubang Biawak

MAJID Selasa, 11 Mei 2021 06:21 WIB
949x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Khotibul Umam*

Sebentar lagi bulan Ramadhan akan segera pergi. Setelah sebulan penuh menjalani puasa Ramadhan, shalat tarawih, witir dan ibadah lainnya, dengan harapan semua ibadah tersebut dapat semakin memperkokoh ketakwaan kita sesuai dengan ayat Al-Qur’an ‘La’allakum tattaqun’. Setelah itu umat Muslim di seluruh dunia akan merayakan hari raya Idhul Fitri atau biasa disebut di Indonesia dengan lebaran.

Seiring mulainya bergulir bulan Syawwal mulai waktu maghrib tanggal satu, bukan berarti semangat ibadah menjadi kendur di malam lebaran, namun seharusnya justru semakin meningkat sebagai manifestasi ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Imam Nawawi berkata dalam Al Majmu’ bahwa disunnahkan menghidupkan malam Idul Fitri dan Idul Adha dengan shalat atau amalan ketaatan lainnya. Ulama Syafi’iyah beralasan dengan hadits Abu Umamah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha, hatinya tidak akan mati tatkala hati-hati itu mati.” Dalam riwayat Syafi’i dan Ibnu Majah disebutkan, “Barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha karena Allah dan mengharapkan ganjaran dari-Nya, hatinya tidak akan mati tatkala hati-hati itu mati.” Dari sisi riwayat, hadis keutamaan menghidupkan malam hari raya ini memang dhaif, namun demikian menurut para ulama  hadits tersebut masih termasuk dalam kategori dapat diamalkan karena berkaitan dengan keutamaan ibadah.

Seperti yang telah diketahui, hari raya merupakan hari kemenangan, hari suka cita dan bergembira sehingga kadang tidak terasa terselip senda gurau yang kurang berguna. Karena itu, menurut Sayyid Ali Al-Khawash, sufi asal Kairo, guru Syekh Abdul Wahab As-Sya’rani, hikmah dari menghidupkan malam hari raya adalah nur ibadah pelakunya dapat memancar sepanjang hari dan terhindar dari kelalaian akibat begitu bahagianya di hari tersebut. Lain halnya orang yang menghabiskan malam hari raya untuk tidur semalam suntuk atau melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat lalai dari Tuhannya, maka ia akan terjerumus dalam kelalaian di sepanjang hari.

Di Indonesia, tradisi malam lebaran dirayakan dengan meriah, terkhususnya malam kemenangan setelah berpuasa selama sebulan penuh di bulan suci Ramadan. Setiap daerah memiliki cara masing-masing melaksanakan tradisi malam takbiran. Di kampung penulis, malam lebaran akan dipenuhi dengan pesta kembang api dan petasan (mercon), yang mungkin sudah mulai terdengar di malam sepanjang Ramadan. Saat mendekati Lebaran di malam takbiran, bunyi petasan diikuti dengan kembang api semakin semarak bahkan dari sejak setelah maghrib. Suaranya akan bergemuruh dai seluruh pelosok kampung tanpa henti mula dari yang bunyinya sedang sampai yang memekikkan telinga seperti halnya bom, bahkan ada juga yang digantung di lampion (lukben) untuk diledakkan di udara.

Selain itu, beberapa tahun belakangan lebaran juga dirayakan dengan takbir keliling menggunakan kendaraan baik roda dua maupun bak terbuka (truck & pick up), mereka datang dai pelosok-pelosok desa dan berkeliling ke pusat kota dengan mengumandangkan takbir, baik bertakbir secara langsung dan mengiringinya dengan bedug atau alat musik pukul lain atau yang tidak mau buang tenaga langsung membawa sound system buat nyetel rekaman takbiran, paling sering suaranya Almarhum Uje. Tradisi lebaran di wilayah Indonesia lain mungkin berbeda-beda; seperti meriam karbit di Pontianak, Ronjok Sayak di Bengkulu atau Tumbiluhote di Gorontalo.

Secara khusus, memang tak ada hukum yang mengatur perayaan malam lebaran dalam Islam. Hukum asal dari macam-macam perayaan tersebut boleh dilakukan asal tidak merusak dan tidak membuat lalai dari beribadah kepada Allah, asalkan tidak sampai terjebak dalam lubang biawak. Tentu, yang dimaksud “lubang biawak” di sini adalah merujuk pada hadis yang artinya, “Kalian benar-benar akan mengikuti jejak langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga andaikan mereka masuk ke lubang biawak, maka kalian tetap akan mengikuti mereka juga” Kami (para sahabat) bertanya: “Ya Rasulallah, adakah yang dimaksud dengan mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”

Dengan memperhatikan keadaan diri dan sekeliling; diri kita, masyarakat di lingkungan kita dan masyarakat dunia Islam secara keseluruhan, telah tampak jelas jika kebanyakan dari kita memang tengah terjebak di dalam lubang biawak, dalam arti telah benar-benar jauh dari sunah-sunah Nabi tapi malah dekat atau bahkan menyatu dengan ‘sunah-sunah’ orang-orang non-muslim, terutama Yahudi dan Kristen, dalam berbagai sisi kehidupan yang kita jalani. Bagaimana tidak, jika malam lebaran telah berubah seperti perayaan malam tahun baru dengan pesta kembang api berisik sampai suara takbir dari masjid dan surau pun tak terdengar, jika malam lebaran juga telah dirayakan dengan kebablasan dan tidak sepantasnya, penulis beberapa tahun lalu pernah ikut rombongan takbir keliling menggunakan bak terbuka, memang awal berangkat musik yang diputar adalah takbiran, tapi lambat laun malah berupah menjadi musik dangdut atau DJ, parahnya lagi semua yang mendengarkan lantas joget-joget lepas baju seperti sedang berada di konser atau diskotik. Itupun dilakukannya semalaman dan  keesokannya mereka pun lalai untuk sholat shubuh apalagi untuk sholat sunnah Idul Fitri. Naudzubillah…

Memang tidak semua tempat akan sama dengan apa yang dialami oleh penulis. Tetapi setidaknya kita bisa lebih menyadari makna sebenarnya dari Idul Fitri tidak hanya sekedar perayaan. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa. Idul fitri berasal dari dua kata "id" dan "al-fitri". Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu, yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Ada juga yang mengatakan, kata id merupakan turunan kata Al-Adah, yang artinya kebiasaan. Hal ini karena masyarakat telah menjadikan kegiatan ini menyatu dengan kebiasaan dan adat mereka.

Sementara kata fitri memiliki dua makna yang berbeda menurut beberapa pendapat. Kata fitri bisa berarti "berbuka puasa" dan "suci" Adapun fitri yang berarti buka puasa berdasarkan akar kata ifthar (sighat mashdar dari aftharo – yufthiru) dan berdasar hadis Rasulullah SAW yang artinya: ”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya." Dalam riwayat lain: "Nabi SAW. makan kurma dalam jumlah ganjil." (HR Bukhari).

Sedangkan kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya:“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq ‘alaih).

Marilah kita merayakan lebaran dengan suka cita, penuh kegembiraan tapi tetap tidak kebablasan apalagi sampai ke lubang biawak. ‘Di Hari Kemenangan’ ini semoga kita benar-benar menang dari hawa nafsu kita dan umat Islam dari orang-orang yang memusuhi Islam. Yuk manfaatkan momen Idul Fitri dengan sebaik-baiknya walaupun tahun ini harus berbeda dengan adanya pandemi Covid-19 sehingga di beberapa belahan dunia harus mengalami pembatasan dalam beribadah. Semoga tidak akan mengurangai kekhusyukan kita dalam beribadah kepada Allah demi mencapai derajat hamba-Nya yang bertaqwa. Aamien!

* Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, aktif sebagai tenaga kependidikan di Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Ulum I Bata-Bata.

sumber gambar: kompasiana.com