Santri kok Pacaran?

ADMINPESANTREN Jumat, 11 Juni 2021 06:47 WIB
1440x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Linda Asiawati*


Santri, yang terlihat pasti identik dengan kitab kuning tak berharokat, ilmu agamanya yang mantap, tata kramanya yang role model , peci yang selalu tersemat, dan tentu saja sarung menjadi penanda utama. Oh, satu lagi, pakaian santri masih terbilang kolot, gak asik, gak gaul, gak keren, dan semacamnya lah.


Lalu, apa yang tampak akan menjadi perbandingan jika ada sedikit saja kesalahan atau kekeliruan baik dalam tingkah laku, pengetahuan, dan adab berpakaian. Karena mungkin dari kebanyakan orang lupa bahwa santri juga manusia, tidak sempurna.


Tidak jarang telinga ini mendengar suatu pernyataan atau pertanyaan yang bentuknya seperti “Santri kok pacaran?” dan atau kalimat itu bisa disebut cemoohan?


Sekilas saya juga sependapat. Bayangin saja, seorang santri, ilmu agamanya yang bisa dibilang lebih menguasai ternyata punya pacar. Iya, pacar. Punya kekasih. Istilahnya kalau dalam KBBI berpacaran itu diartikan dengan menjalin hubungan cinta kasih dengan lawan  jenis, tetapi belum terikat perkawinan. Dan di zaman yang sekarang, pacaran itu bukan lagi hal tabu, justru seperti menjadi sesuatu yang lumrah dan harus ada. Bahkan jika dulu anak 90-an, masih SD, tidak mengerti apa itu pacaran, lantas anak sekarang, masih TK, sudah mengerti dan sedikit banyak ikut andil dalam melumrahkan yang namanya pacaran.


Dan yang menjadi pertanyaan adalah, Santri. Kenapa Santri bisa pacaran? Jawabannya simple. Santri juga manusia, punya hasrat, dan punya perasaan. Itu jawaban simple yang saya punya. Namun ketika mengajukan pertanyaan “Kenapa pacaran?” pada beberapa santri yang saya temui, jawabannya beragam. Pertama, ada yang menjawab sebenarnya pengen serius mau nikahin, tapi karena takut keduluan yang lain jadi ikat aja dulu dengan pacaran. Soalnya belum cukup usia mau menghadap penghulu. Kedua karena punya pacar itu nggak kesepian, ada yang merhatiin, kalo cewek ada yang gombalin sampai bikin senyum-senyum sendiri. Pokoknya bikin seneng dan hati berbunga-bunga, deh. Ketiga alasannya karena saling cinta, mau sehidup sesurga sampai akhir dan gak mau sama yang lain. 


Eh, dikira jodoh milih sendiri kali ya? Ngerasa paling tahu apa yang terbaik buat dirinya. Dan ketika ditanya, “emang nggak tahu hukum pacaran?” jawabannya rata-rata bukan nggak tahu, justru tahu banget. Tapi tetap mau pacaran karena mereka jalaninnya dengan cara “Pacaran Syar’i” katanya. Ada ya pacaran syar’i? Kalau dianalogikan sama kan dengan babi muslim? Boleh dimakan? Yang namanya babi tentu haram.


Tapi yang lebih miris adalah ketika tittle santri menjadi dasar makanan empuk untuk disalahkan. Ketika ada santri yang berpacaran apakah benar yang disalahkan adalah tittle santrinya? Bukankah semuanya kembali kepada pribadi masing-masing. Pembahasan ini sama halnya dengan permasalahan yang sempat marak diperbincangkan tentang “perempuan berhijab” tapi masih melakukan dosa, berpacaran, berdua-duaan dengan non-mahram, dan banyak lagi yang dipermasalahkan karena hijabnya. Hal ini yang salah adalah hijabnya kah? No. yang patut disalahkan adalah pribadinya. Hijab tidak bisa disalahkan, ia adalah sesuatu yang menjadi kewajiban bagi seorang muslimah.


Lalu bagaimana dengan Santri? 
Tittle santri hanya menjadi simbol bahwa seseorang itu pernah mengenyam pendidikan di sebuah pesantren. Lantas yang bukan santri memangnya tidak tahu hukum pacaran? Tidak bisa belajar agama lebih dalam dan luas? Padahal belajar agama itu tidak melulu di lingkungan pesantren. Husain misalkan. Dia tidak pernah nyantri, tapi tahu baca kitab, tidak pernah nyantri tapi kontennya selau membahas tentang agama. Jadi, apakah belajar agama harus di pesantren? Tidak, kan? Mari kembali ke topik awal. Dan apakah yang bukan santri lantas bebas berpacaran? Tidak ada hukum dan batasan?


Oh, no. yang namanya pacaran jelas dilarang. Dalam Al-Quran  Surat Al Isra ayat 32 sangat jelas Allah berfirman. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”  Mendekati zina saja dilarang, apalagi zinanya? Padahal ketika Allah melarang memakan harta secara dzalim, Allah berfirman, “Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil” (An Nisa; 29), Atau ketika Allah melarang penghianatan dalam Quran Surat Al Anfal ayat 27, “Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” Disitu Allah langsung melarang, tidak seperti zina yang mendekatinya saja dilarang.


Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar pun menegaskan, “Jangan dekati zina! Artinya, segala sikap dan tingkah laku yang dapat membawa kepada zina janganlah dilakukan. Hendaklah dijauhi!” Alasannya adalah sebagaimana Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran juz 15 menegaskan “Al-Quran melarang walau hanya mendekati perbuatan zina, dalam rangka untuk menunjukkan sikap kehati-hatian dan tindakan antisipatif yang lebih besar.”


Jadi kenapa disini penulis membahas zina? Karena pacaran merupakan bagian dari cara mendekati zina, suatu jalan yang bisa menjerumuskan pada zina. Di atas sudah dijelaskan bukan definisi pacaran dalam KBBI.
Perasaan itu sesuatu yang fitrah jika cara menanggapinya benar. Dan pacaran itu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan. Maka perasaan itu tidak lagi menjadi fitrah, justru menjadi fitnah jika cara menanggapinya adalah dengan berpacaran.


Kembali lagi ke Santri. Apalagi ketika pertanyaan dilanjut setelah “Santri kok pacaran?” adalah, “Santri mana sih dia? Emang gurunya gak ngajarin hukum pacaran?” nah, melenceng kan? Merembet kan? Pesantrennya yang menjadi sasaran empuk. Padahal, lagi-lagi yang perlu dipertanyakan adalah pribadinya sendiri. Karena pesantren menfasilitasi guru untuk mengajar, dan tentu saja setelah guru mengajar dan sudah menyampaikan ilmu-ilmunya, semuanya kembali kepada yang menerima. Mendengar dan disimpan dalam hati lalu dibiarkan lusuh, atau mendengar, disimpan dalam hati dan mau mengamalkan? Pilihannya ada pada pribadi itu sendiri.


Jadi, tittle Santri harusnya tidak perlu menjadi alat atau bahan yang menjadi sasaran untuk disalahkan. Sekali lagi SANTRI hanya simbol. Semuanya tetap kembali kepada pribadi masing-masing. Tapi, hal di atas bisa menjadi pelajaran harusnya bagi santri, bagaimana seharusnya ia menjaga nama baik alamamater dan pesantrennya, menjaga nama baik guru-gurunya dengan cara menghindari sesuatu yang salah di mata manusia. Meski pada dasarnya setiap manusia berbeda cara pandangnya. Tapi setidaknya menjadi santri ada usaha untuk menjaga tittle dirinya sebagai santri dari almamaternya.


*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus Mahasiswi Prodi Pendidikan Matematika di Universitas Madura (UNIRA) Pamekasan. Beralamatkan di Desa Akkor Palengaan Pamekasan.