5 Alasan Santri Bata-Bata Cocok Kuliah di Al-Azhar

MAJID Jumat, 23 Juli 2021 07:58 WIB
710x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Abd. Rohman*

Bata-Bata adalah salah satu pesantren tersohor di Madura, tepatnya di kabupaten Pamekasan. Lembaga pendidikan ini bernama lengkap Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Didirikan oleh RKH. Abdul Majid bin RKH. Abdul Hamid bin RKH. Itsbat pada tahun 1943 M / 1363 H. Ia lahir dari keluarga yang sedari awal punya peran membangun peradaban umat melalui pendidikan, barangkali genetis yang diwarisi dari pendahulunya ini mengakar kuat untuk selalu mengabdi, ikut berkontribusi dalam menyebarkan Islam yang rahmatan lil ālamin. Menurut hemat penulis, dengan motto pendidikan: memelihara tradisi lama yang baik dan menerima ide-ide baru lebih relevan yang datang di kemudian hari, disinyalir kuat menjadi sebab Bata-Bata hingga hari ini masih akan terus diminati oleh para orang tua untuk menjadi tempat menimba ilmu purta-putrinya. Menurut laporan terakhir dari pengelola di sana, Bata-Bata sekarang menampung kurang lebih 15.000 santri.

Berpagi-pagi sekali Bata-Bata menekankan santrinya terhadap penguasaan gramatikal bahasa Arab. Hal ini menjadi kewajiban mutlak yang tidak bisa ditawar setiap santri, sebagai anak tangga pertama untuk menyelami mutiara turast. Cara ini tak lain kecuali sebagai sarana untuk mempertahankan eksistensi santri; diharapkan mampu menjadi penerus perjuangan visi-misi pesantren di masyarakatnya kelak. Untuk menunjang kemampuan santri berinteraksi dengan melesatnya kemajuan zaman, Bata-Bata menawarkan kegiatan ekstrakurikuler, seperti penguasaan bahasa asing (Arab, Inggris, Mandarin, Korea, Jepang, Jerman, Spanyol, Perancis, Turki, Rusia), pengembangan bakat dan minat (bela diri, pramuka, kaligrafi, tarik suara, lukis, taruna), dan lain sebagainya. Sejenak penulis ingin memberi catatan di sini, bahwa diakui atau tidak, tantangan santri ke depan tidaklah mudah. Ada banyak hal yang tidak bisa dipungkiri, salah satunya kehidupan ini dinamis; perubahan-perubahan besar acapkali terjadi tanpa kita bersiap-siap diri. Oleh karenanya, tidak pada tempatnya jika santri hanya bergumul dalam dunianya saja. Santri tetap setia dengan sarung dan pecinya, namun cara berpikirnya harus terbuka, tidak boleh terjebak dalam kungkungan pemikiran jumud yang tak mampu berbuat banyak pada tantangan-tantangan baru kehidupan kita hari ini. Untuk mencapainya, Bata-Bata sudah membekali santri dan memberi peluang sebesar-besarnya dengan cara membuka akses ke perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, via rekan-rekan IMABA (Ikatan Mahasiswa Bata-Bata).

Untuk itu penulis ingin mengenalkan al-Azhar, di mana ia saat ini sedang menempuh pendidikannya di sana. Kiranya penting diketahui oleh orang tua atau adik-adik santri yang sebentar lagi atau akan lulus dari Madrasah Aliyah atau Sekolah Menengah Kejuruan. Ada hal menarik yang saya rasa bukan sebuah kebetulan, yaitu adanya kesamaan al-Azhar dengan Bata-Bata. Sehingga hemat penulis, lulusan Bata-Bata sangatlah cocok melanjutkan studinya di al-Azhar Kairo, Mesir.

1. Paham keislaman

Al-Azhar punya tiga pilar yang harus dipahami oleh santrinya. Pertama, akidah beraliran Ahlussunnah wal jamaah yang bermuara pada dua imam besar: Imam Asy’ari dan Imam Maturidi. Kedua, menganut salah satu rincian fikih Madzāhib al-Arba’ah: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Ketiga, menapaki jalan penyucian jiwa yang dikenal dengan tasawwuf, sebagai penengah seorang muslim antara ia sebagai hamba Allah dan ia sebagai makhluk yang diberi ‘hak veto’ terkait kehidupan yang ia kehendaki. Sejak awal al-Azhar mengenalkan tiga pilar ini sebagai rambu-rambu bahwa paham keislaman di luar tiga pilar ini tidak akan anda jumpai dalam tubuh al-Azhar dan sebagai notifikasi bahwa ia tidak melahirkan alumni yang menolak Asyā’irah, enggan bermadzhab dan mencemooh suluk tasawwuf. Bagi santi Bata-Bata tiga hal ini bukan suatu yang asing. Safinah an-Najah, Sullam at-Taufiq dan Bidāyah al-Hidāyah merupakan kitab-kitab pegangan kajian wajib selama menjadi santri aktif, adalah representasi dari tiga pilar al-Azhar itu.

2. Sistem pendidikan

Secara garis besar sistem pendidikan di Bata-Bata dibagi dua: formal dan non-formal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang kegiatan belajar-mengajarnya di sekolah atau madrasah, sesuai dengan jenjang pendidikan tiap santri mulai dari MI s/d MA/SMK. Pendidikan non-formal adalah penddidikan yang kegiatan belajar-mengajarnya ditempuh di luar sekolah, seperti musala, asrama atau di badan otonom.

Jika suatu saat Anda berjodoh dengan al-Azhar, model sistem pendidikan sorogan ala pesantren akan anda jumpai di sini. Mahasiswa al-Azhar selain diupayakan untuk hadir mengikuti perkuliahan di kampus, ia dituntut pro aktif dalam kegiatan keilmuan yang ada di pelataran-pelataran Masjid al-Azhar, jamak dikenal dengan istilah Talaqqi. Nilai lebih kegiatan belajar-mengajar di luar kampus ini, selain guru-guru yang diamanahkan mengajar adalah ulama senior dan merupakan para pakar yang amat mumpuni di bidangnya, di sana para santri al-Azhar lebih banyak mempunyai waktu berdialog dengan gurunya, jika diperlukan. Nilai lebih lainnya, sangat leluasa memilih bidang keilmuan yang anda senangi, tentunya dengan waktu yang tepat juga. Karena kadang talaqqi ini waktunya berbenturan dengan jam kuliah di kampus.

3. Sanad keilmuan

Sanad keilmuan ini menjadi penting karena ia bagian dari agama. Jika tidak demikian, siapapun bebas mengemukakan apapun atas nama agama. Kurang lebih demikian yang disampaikan ulama kenamaan, Ibnu Mubarak. Kekacauan di tengah masyarakat kadang terjadi akibat ‘oknum’ tak betanggung jawab menyampaikan paham keagamaan yang absurd. Hal ini terjadi akibat masyarakat ini memberi panggung terhadap orang-orang yang tidak jelas sanad keilmuannya. Sehingga apapun ia sampaikan, tanpa adanya pertimbangan kemaslahatan jangka pendek atau jangka panjang. Sehingga masyarakat dihadapkan pada model keagamaan yang keras dan ketat. Model keagamaan seperti ini melenceng jauh dari prinsip agama yang menginginkan kemudahan dan penuh welas asih.

Berbicara sanad keilmuan ini, penulis sedikit mengetahui silsilah sanad keilmuan pengasuh Bata-Bata, RKH. Abdul Hamid AMZ. Allāh yarham. Semasa masih aktif di Bata-Bata, di tengah-tengah kajian tafsir Jalailain saya mendengar RKH Moh. Thohir Abd. Hamid bercerita kisah-kisah hikmah dan inspriratif pengasuh dengan gurunya semasa beliau nyantri di Mekah. Sesampainya di Mesir nama guru pengasuh yang disebut dalam cerita-cerita itu, namanya sangat familiar dalam sanad kelimuan guru-guru di al-Azhar. Ada Syaikh Sa’d Sa’d Jawisy, beliau pakar ilmu hadis yang memang lama menimba ilmu di Mekah, pernah penulis dengar menyebut nama guru pengasuh di cerita itu. Ada Syaikh Usamah al-Mansi, ulama Mekah, anak asuh dari Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani Allāh yarham, sering datang ke Mesir mengisi hataman kitab-kitab hadis juga sering menyebut nama guru pengasuh yang saya dengar.

4. IMABA (Ikatan Mahasiswa Bata-Bata) Mesir

DPW IMABA Mesir masih seumuran jagung, baru berdiri 1 tahun yang lalu dan resmi dideklarasikan beberapa bulan kemudian. Walaupun masih cukup belia, namun IMABA Mesir tergolong DPW luar negeri yang paling banyak anggotanya dengan jumlah 46 orang: 43 laki-laki dan 3 perempuan. Punya organisasi kealmamateran di tanah rantau adalah sesuatu yang amat dibutuhkan. Organisasi ini bagi kami bak keluarga, tempat pulang dan berteduh dari terik matahari. Sesakali kita ngumpul bareng, bersenda gurau, berkisah masa-masa di pesantren dulu sampai ketawa-ketawa. Tradisi kacoan tak bisa kami sudahi, itu seakan sudah menjadi sifat bawaan dari sananya. Setiap santri bawaannya selalu ingin menunjukkan ia orang kota, yang lain ndeso, kolot nan katrok. Padahal kenyataannya sama saja. Bahkan jika mau buka-bukaan sejatinya ia sendiri paling ndeso. Namun sekali lagi, tradisi-tradisi seperti ini punya nilai kekeluargaan yang luar biasa. Tak melulu kami ngumpul miskin faedah, ada kalanya kami harus serius, berdiskusi dan bertukar pandangan. Tapi yang paling penting dari semua itu, bahwa kenyataan hidup di negeri orang itu tidak mudah. Ada banyak proses administratif yang perlu pendampingan. Maka menjadi penting setiap mahasiswa yang datang ke Mesir ada senior yang membantu mendampingi pengurusan kebutuhan-kebutuhannya, seperti mencarikan tempat kos yang layak. Nah, dengan adanya IMABA Mesir ini santri Bata-Bata yang hendak melanjutkan studi ke al-Azhar tak perlu merisaukan kemungkinan-kemungkian tak menyenangkan.

5. Biaya hidup yang murah

Sering kali RKH. Moh. Thohir Abd. Hamid berpesan pada santri, “kemiskinan adalah beban bagi pendidikan, tapi kemiskinan bukan alasan untuk tidak berpendidikan,” begitulah bunyi pesannya. Sejatinya sudah ada solusi nyata dari pemerintah, yaitu dengan banyaknya tawaran-tawaran beasiswa, baik itu difasilitasi oleh al-Azhar atau pemerintah sendiri. Tinggal bagaimana adik-adik santri menciptakan peluang dan meraihnya. Di al-Azhar sendiri biaya pendidikan itu tidak ada alias gratis, tidak dipungut biaya sepeser pun. Jadi mahasiswa yang tinggal di Mesir hanya butuh biaya hidup dan sewa kos sebesar 500 ribu per bulan, itu sudah termasuk makan, air dan listrik. Murah sekali. Nominal itu jauh di bawah biaya yang dibutuhkan kawan-kawan yang sedang kuliah di kota-kota besar lainnya.  Jika boleh berkata, kuliah di Mesir itu murahan, tapi kualitas tidak ‘rumahan’. Tinggal tugas beratnya, bagaimana ia memanfaatkan waktu di Mesir sebaik mungkin. 

*Penulis adalah mahasiswa Pasca Sarjana Al-Azhar University Kairo Mesir.