Pilar-Pilar Filantropi dalam Islam

ADMINPESANTREN Jumat, 13 Agustus 2021 06:45 WIB
512x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Muhammad Ali Ridho*

Setiap ibadah dalam agama kita mempunyai stressing yang berbeda-beda. Ada ibadah yang disebut ibadah qolbiyah, sekalipun anggota badan tidak banyak ikut berperan, harta tidak dikeluarkan di dalamnya, tetapi hal itu tetap dinilai ibadah.

Kita bisa saja duduk santai di tempat kerja, menjamu tamu tapi di hati kita terbisik lafadz Allah, kita bisa saja berdiri di depan pantai, menikmati luasnya pemandangan hampar membiru, hati kita berucap, “bukan main indahnya laut ini, subhanallah yang telah menciptakan semuanya". Hal yang seperti ini berpahala, karena kita tidak mengagumi laut, tetapi mengagumi yang menciptakanmya, ini bisa disebut wisata rohani, ibadah qolbiyah.

Adapula ibadah qolbiyah wa badaniyah, selain hati, anggota badan juga ikut berperan, adapun harta tidak terlalu berperan, seperti halnya berpuasa di bulan Ramadan. Asal hati kita punya keinginan dan mau mengerjakan, menjauhi larangan-larangan dalam puasa, ibadah itu bisa terlaksana.

Shalat walaupun ada unsur harta namun tak seberapa, unsur yang paling dominan adalah hati dan badan, kita cukup berniat dalam hati kemudian badan mengerjakan sesuai dengan petunjuk yang ada maka kita telah dihitung melakukan ibadah.

Kemudian ada pula ibadah yang disebut qolbiyah-badaniyah wa maliyah, hati, jasmani, dan harta. Ketiga komponen ini sama-sama berperan, seperti halnya ibadah haji. Dalam hal ini hati berniat, badan melaksanakan, harta dikeluarkan baru terlaksana ibadahnya.

Hati ingin betul pergi haji, badan sehat, namun uang tidak punya, selamat melamun!.  Uang banyak, badan sehat, namun hati kurang semangat, maka hartanya dibawa berlibur ke New York, London, Paris, Korea dan tempat-tempat lainnya.

Selanjutnya ada ibadah yang justru yang ditekankan adalah harta, yang kerap disebut ibadah maaliyah. Memang harta yang diminta untuk dikeluarkan dalam melaksanakan ibadah itu.

Merupakan sesuatu yang sangat memprihatinkan kemiskinan dan kesenjangan sosial di sebuah negara yang kaya dengan sumber daya alam dan mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti Indonesia. Memang benar kesenjangan sosial yang dialami adalah Sunnatullah. Al-Quran menjelaskan hal itu, “Kami lebihkan kamu dari yang lain”. Ada yang kaya ada yang miskin, ada yang alim dan ada pula yang awam.

Namun, kenapa kesenjangan kita permasalahkan? Jika kita cermati lebih jauh, ditemukan bukti-bukti empiris bahwa pertambahan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan bukanlah karena persoalan kekayaan alam yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk (over population), akan tetapi karena persoalan distribusi yang kurang baik dan persoalan-persoalan lainnya. Dari hal itu kita simpulkan bahwa kesenjangan yang terjadi merupakan kesenjangan stuktural.

Kita menyadari bahwa pemerataan bukan menciptakan standar ekonomi dengan standar ala komunisme, yang kita harapkan adanya keadilan, pemerataan, terciptanya peluang dan kesempatan, artinya jikalau yang kaya semakin kaya, kenapa yang miskin tidak bisa ikut kaya?

Dalam Islam terdapat ibadah yang stressing-nya lebih ke ibadah maaliyah, yaitu anjuran melakukan filantropi (kebajikan) terhadap sesama anggota masyarakat dalam bentuk harta. Hal itu dikemas dalam berbagai bentuk seperti zakat, infaq, shadaqah dan memberikan harta terbaik yang dimiliki untuk kepentingan public (wakaf).

Apa salahnya jika kita meluangkan sedikit harta yang kita miliki untuk orang-orang yang membutuhkan. Seperti halnya dalam masa pandemi saat ini. Banyak saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan uluran tangan dari orang-orang yang memilki jiwa sosial yang tinggi. Bukan mental pejabat yang justru mengambil keuntungan dari bansos yang menjadi hak rakyatnya.

Dalam artian walaupun kita sudah berusaha dengan susah payah untuk mendapatkan harta-harta yang kita miliki. Namun kita harus ingat bahwa ada hak orang lain dalam harta kita yang harus kita berikan pada mereka dalam berbagai bentuk yang ada, baik zakat, infaq maupun shadaqah.

Di akhirat terkait dengan harta yang kita miliki kita akan ditanyakan bagaimana kita memperoleh harta tersebut dan bagaimana pula kita membelanjakannya dengan benar. Dan selain itu keberkahan juga terletak pada orang yang menerima dan mendoakannya. Kita seharusnya bersyukur, ketika dijadikan oleh Allah berfungsi sebagai kran air, yang menyimpan tetapi tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk disalurkan kepada mereka yang memerlukan. Wallahu A'lam Bissawab.

(Ide dan gagasan tulisan ini banyak mengutip dari ceramah Almarhum KH. Zainuddin MZ).

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus alumni Pasca Sarjana Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Jawa Timur.