Nuansa Kemerdekaan Selimuti Acara Penutupan Mosba

ADMINPESANTREN Senin, 16 Agustus 2021 23:42 WIB
811x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren

Bata-Bata –Masa Orientasi Santri Baru (MOSBA) tahun 2021 telah sampai di penghujung kegiatan. Setelah digelar dalam empat kali tahapan, secara resmi kegiatan tahunan tersebut ditutup pada Senin malam, (16/8/2021) di halaman madrasah barat.

Dalam nuansa hari kemerdekaan RI, semua peserta Mosba diwajibkan memakai atribut kemerdekaan berupa baju putih dan songkok nasional dengan pita berwarna merah putih. Para peserta tampak begitu antusias mengikuti acara penutupan tersebut karena didesain dengan baik dan penuh khidmat. “Acara penutupan Mosba tahun ini terbilang unik. Sebab, selain bernuansa keislaman dengan pembacaan ayat suci al-Quran serta shalawat nabi, acara juga dilengkapi dengan upacara pengibaran bendera, mengheningkan cipta, pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, hingga pembacaan pembukaan Undang-Undang Dasar ’45,” ungkap Ustadz Subaidi selaku pengurus bidang Kesantrian.

Selain itu, acara penutupan Mosba kali ini juga diisi dengan amanat upacara yang disampaikan oleh Ketua Dewan Ma’hadiyah, Ustadz Nurul Hidayat. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan bahwa santri baru Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata setidaknya memiliki kemampuan dasar layaknya seorang santri, setinggi dan seperti apapun impian dan cita-citanya. “Kalian boleh menjadi apa saja sesuai dengan impian dan cita-cita kalian. Namun, selayaknya seorang santri, kalian harus memiliki standar kualitas minimum seperti beretika baik, ubudiyahnya baik, baca Qurannya baik, dan baca kitabnya pun baik. Maka dengan itu, kalian siap untuk terjun ke dunia yang lebih luas lagi di masa mendatang,” ujarnya.

Selepas amanat, kegiatan penutupan Mosba diisi dengan materi wawasan kepesantrenan, yang dalam hal ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Ganding Sumenep, KH. Abd. Aziz Hosni. Beliau sebagai alumni senior Ponpes Muba banyak menyampaikan nasehat kepada para peserta Mosba utamanya dalam hal etika menghormati guru. “Santri wajib mematuhi undang-undang pesantren, sebab itu adalah perwujudan seorang santri mematuhi perintah gurunya. Dengan taat pada guru, niscaya ilmu yang didapat akan barokah. Maka sebaliknya, jangan sampai melanggar apalagi menyakiti guru. Sebab, menyakiti guru tidak ada tobatnya,” pesan beliau.

Alumni yang sekaligus masih aktif mengajar di MA. Mambaul Ulum Bata-Bata tersebut juga mendoakan seluruh masyayikh yang telah wafat, pengasuh dan keluarga dhalem Bata-Bata, sekaligus pengurus pesantren. “Semoga para masyayikh yang telah mendahului kita mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga pengasuh beserta keluarga besar Bata-Bata saat ini, diberikan kekuatan oleh Allah untuk terus membimbing kita para santrinya. Dan semoga semua pengurus pesantren diberikan ketabahan oleh Allah dalam menjalankan tugas dan amanah yang diembannya,” tutup beliau di akhir materi.

Sebelum acara ditutup, panitia terlebih dahulu mengumumkan peserta Mosba terbaik dari masing-masing tahapan untuk mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya dari pihak pesantren. (Ans)