Semangat Resolusi Jihad Melahirkan Pemuda Milenial Berjiwa Nasionalis

ADMINPESANTREN Selasa, 17 Agustus 2021 06:02 WIB
571x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Moh. Ahmadi

Dewasa kini, cinta tanah air adalah perasaan yang harus dimiliki oleh setiap individu manusia, kecintaan ini seringkali bermuara pada konsep “Hubbul Wathon minal Iman”, begitulah slogan yang pantas untuk menggambarkan kewajiban kita mencintai tanah air sebagaimana beriman kepada agama. Korelasi antara jihad dan perang kemerdekaan mempertahankan tanah air ini pernah dikobarkan oleh kaum santri saat mengusir penjajah dari bumi nusantara. Peran pesantren yang besar dalam memperjuangkan bangsa, menjadi salah satu unsur atas lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia. Jika dilihat dari perspektif sejarah, pesantren secara silih berganti selalu menjadi garda terdepan dalam melakukan perlawanan menentang atas kebijakan-kebijakan kolonialisme, baik secara fisik maupun diplomatis. Sikap inilah yang harus ditunjukkan oleh pesantren dalam menumpas segala bentuk kedzaliman yang mencoba mempengaruhi generasi  bangsa.

Peranan kaum pesantren itu terlihat nyata antara lain seperti perang Padri (1821-1828) yang dipimpin Tuanku Imam Bondjol, perang Diponegoro (1825-1830), hingga perang Aceh (1873-1903) adalah bukti nyata keterlibatan kaum santri dalam perjuangan mempertahankan tanah air. Pesantren sebagai basis perlawanan selanjutnya diteruskan pada era Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari melalui penyatuan umat Islam pada organisasi Masyumi untuk melahirkan ulama sekaligus pejuang kemerdekaan. Melalui Kiai Hasyim tercetuslah fatwa Resolusi Jihad. Resolusi jihad menjadi pintu utama dalam merebut kemerdekaan Indonesia secara totalitas.

Pada tanggal 22 Oktober 1945, Nahdlatul Ulama mengeluarkan seruan Resolusi Jihad sebagai jawaban atas dikirimnya utusan Presiden Soekarno yang menanyakan bagaimana hukum dalam agama Islam membela tanah air saja dan bukan membela agama Allah. Lalu melalui Resolusi Jihad inilah Kiai Hasyim menjawab membela tanah air dari ancaman penjajah adalah perang suci alias jihad dan wajib hukumnya untuk setiap muslim pada daerah tersebut.

Resolusi Jihad adalah salah satu bukti bahwa umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia ini tidak akan tinggal diam dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tanpa adanya Resolusi Jihad ini, Indonesia tidak pernah ada dan penjajahan mungkin akan berlangsung sampai hari ini. Dengan Resolusi Jihad tersebut, semangat umat Islam menjadi berkobar untuk berperang melawan sekutu pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya.

Lantas bagaimana dengan pemuda saat ini?. Apakah semangat resolusi jihad yang digelorakan oleh pendiri-pendiri bangsa betul tersampaikan. Pemuda saat ini lebih dikenal dengan generasi TikTok, padahal dia adalah aset bangsa yang diharapkan mampu membawa negeri ini ke jenjang yang lebih baik.

Berdasarkan hal ini, maka diperlukan adanya penanaman pemahaman religius dan juga nasionalis pada pemuda bangsa dengan pengkaderan, yakni dengan pendidikan pesantren. Pesantren diharapkan mampu menjadi ujung tombak kaderisasi pemuda bangsa dengan misi yang dimilikinya yaitu mengkader umat untuk menjadi tafaqquh fiddin. Pesantren memiliki peran yang sangat strategis di dalam mendidik dan membina pemuda-pemuda bangsa agar memiliki kualitas iman, ilmu, amal dan berakhlak mulia, sehingga dapat melahirkan pemimpin berkualitas, milenial, berjiwa nasionalis memiliki keilmuan, cendekiawan, politikus dan profesional yang mampu berkiprah sesuai dengan kadar ilmu dan keahlian masing-masing. Selain itu Pesantren memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam pemberdayaan dan pengembangan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pedesaan yang bermukim di area pesantren, karena dengan keberadaan pesantren akan dapat mempengaruhi pada sikap dan perilaku masyarakat, sehingga tidak sedikit dalam pengembangan masyarakat, terutama masyarakat pedesaan melibatkan pesantren.

Pesantren harus menjadi lembaga yang konsisten dalam mengembangkan pembelajaran dan menjadi tempat kajian keislaman yang mampu beradaptasi dan memberi manfaat sesuai kebutuhan umat. Kerena dengan hal ini, pesantren akan tetap lestari dengan segala ciri khasnya, dan menjadi rujukan yang selalu dibutuhkan bangsa dalam meneruskan perjuangan ulama dahulu yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk membangun Republik Indonesia ini. Maka dengan alasan inilah, pesantren menjadi satu-satunya lembaga yang paling ideal dalam memberikan pengkaderan pada pemuda bangsa dengan pemahaman keagamaan yang mapan dan penanaman cinta tanah air sebagai bentuk manifestasi dari semangat resolusi jihad.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, sekaligus alumni Pasca Sarjana Universitas Hasyim Asy'ari Jombang Jawa Timur.

Bahan Bacaan:

  1. Buku: “Sikap Keislaman dan Kebangsaan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari”.
  2. Buku: “Resolusi Jihad, Perjuangan Ulama: dari Menegakkan Agama Hingga Negara”.
  3. Jurnal: “Potret Pendidikan Karakter Pondok Pesantren Salafiah”
  4. Buku: “Pembaharuan Pesantren”