Menyingkap Tabir di Balik Akhlak Mulia Sayyidina Rasulillah Saw

ADMINPESANTREN Jumat, 20 Agustus 2021 07:47 WIB
690x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

*Nafiah Zaini

Merendahkan hati bagi pencari ilmu hampir mendekati kata wajib, sebab kerendahan hati itulah yang akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah swt. Orang yang berilmu akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di hadapan Allah swt. dibandingkan orang yang tidak berilmu. Kedudukan itu diperoleh karena ilmu yang begitu mulia dan berharga, namun di sisi lain ada hal yang lebih memantapkan hati dan jiwa, ketika ilmu itu dihiasi dengan akhlak mulia.

Akhlak yang baik sudah semestinya melekat dalam kehidupan setiap orang, maka sikap baik juga semestinya harus selalu beriringan saat mengenyam pendidikan. Buktinya Rasulullah saw. tidak hanya mewariskan ilmu untuk memajukan Islam dan peradaban. Sebagai qudwah hasanah, Rasulullah selalu menanamkam sikap positif di setiap sudut kehidupan.

Belajar dari sebuah riwayat sayyidina Abdullah bin Abbas ra. saat beliau pergi mendatangi orang alim di rumahnya, orang alim itu berkata kepada sayyidina Abdullah ibn Abbas: “Wahai sepupu  (anak paman) Rasulullah, seharusnya aku yang mendatangimu,” maka sayyidina Abbas menolak dan memberi sebuah pernyataan, “ilmu itu tidak datang sendiri, melainkan kita yang harus mendatanginya.”

Suatu ketika sayyidina Abdullah ibn Abbas mengambil tali pengikat kuda milik gurunya, bermaksud menuntun kuda itu, sayyidina Zaed selaku guru sayyidina Abdullah berkata: Tidak perlu wahai sepupu Rasulullah. Begitulah perintah yang harus kami lakukan terhadap guru kami. Jawab sayyidina Abdullah. Seketika itu juga sayyidina Zaed turun dari kudanya dan langsung mencium tangan sayyidina Abdullah sebagai bentuk penghormatan terhadap keluarga Rasulullah saw. dan iapun berkata: begitulah perintah yang harus kami lakukan terhadap keluarga Rasulullah saw.

 

Kerendahan hati Baginda Nabi Muhammad saw.

Salah satu cerminan Akhlak mulia Rasulullah saw. kepada Dzat Yang Maha Kuasa.

Rasulullah saw. bersabda: "Addabani rabby fa ahsana ta'dibi"

Allah telah mendidikku, maka akhlakku pun menjadi lebih baik. Sebagai insan yang paling sempurna lagi mulia, Rasulullah saw. masih tetap memohon agar akhlaknya selalu baik dan diperbaiki, lalu bagaimana dengan kita yang bukan siapa-siapa?

Saat Rasulullah saw. mi`raj ke langit, Allah menperlihatkan segala hal yang ada di alam jagat raya, mulai dari hal yang bisa terlihat oleh manusia biasa seperti kita, dan begitu pula beliau melihat hal yang tidak bisa kita lihat, sebut saja alam malakut atau alam ghaib, seperti surga, neraka, malaikat dan perkara ghaib lainnya. Atas izin Allah swt. Rasulullah mampu melihat Dzat Yang Maha Agung ketika sampai di Sidratul Muntaha.

Dengan segala hal yang telah Rasulullah saw. saksikan, beliau berdoa agar selalu bertambah pengetahuannya. Dalam Al-Quran disebutkan potongan ayat yang merupakan doa Rasulullah saw: "Waqul rabbi zidny ilma". Doa ini merupakan bentuk kerendahan hati Sayyidina Rasulillah saw. terhadap Allah swt. yang telah menciptakan alam dan seluruh isinya. Adab dan akhlaknya begitu mulia menghiasi hati dan jiwanya.

Guru-guru mulia di pesantren selalu mengajarkan sikap tawadu` atau rendah hati. Bagaimana kita harus bersikap kepada sesama, kepada yang lebih muda dan kepada yang lebih dewasa, terlebih sikap santri terhadap para guru dan keluarganya. Akhlak guru-guru mulia memperlihatkan kesederhanaan yang luar biasa, sehingga mampu menghipnotis mata hati santrinya saat melihat dan mendengar kalam-kalamnya.

Ada sebuah pepatah ulama yang tidak asing terdengar di kalangan para santri: "al-adab qabla at-taallum", yang artinya: mendahulukan adab sebelum belajar. Sungguh ilmu tanpa akhlak tidak berarti apa-apa. Hal ini mengingatkan penulis pada motto pesantren yang tertera di gedung Aula Bata-Bata: Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya dari pada Kecerdasan. Begitulah guru-guru mulia dalam mendidik santri-santrinya, motto yang ditempel di dinding pesantern ternyata tidak hanya sebuah kata-kata tanpa ada filosofinya. Motto itu sangat relevan sekali dengan akhlak yang diajarkan Rasulallah saw. kepada para sahabatnya.

Pendidikan pesantren memang sangat cocok bagi kita yang ingin mendalami ilmu agama dan perbaikan karakter, karena tidak hanya ilmu agama saja yang akan kita peroleh di sana, ilmu sosial, ilmu teknologi, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu canggih lainnya pun akan kita dapatkan, yang terpenting dari semuanya adalah pendidikan karakter dan kerendahan hati.

Tempat, Arah dan Waktu Adalah Sifat Makhluk, Bukan Sifat Bagi Khalik

Dalam kitab Isra` Mi`raj karangansyekh Saad Al-`Aqqad yang diampu oleh guru mulia syekh Ala` Muhammad Mushtafa Na`imah waktu daurah Sya`ban 2021, di sana beliau memberi penjelasan tentang penggalan ayat Al-Isra':  "Linuriyahu min ayaatina".

Maksud ayat di sini adalah, Allah telah memperlihatkan segalanya kepada kekasihnya saw. sehingga atas izin-Nya, Rasulullah saw. mampu melihat dzat Allah swt. di Sidratul Muntaha. Namun mengapa Allah tidak menyebutkan: "Linuriyahu min dzaatina" karena ini adalah salah satu bentuk menjaga adab terhadap Allah dan Rasulnya bagi orang-orang yang berpikir, agar dapat pula melihat hikmah dan sebab di baliknya. Sebab andaikan Allah menyebutkan "Linuriyahu min dzaatina" maka orang-orang akan beranggapan bahwa Allah berada di suatu tempat dan Allah berada di tempat tertentu, sedangkan Allah swt. maha suci dari setiap tempat, arah dan waktu.

Salah satu sebab mengapa Rasulullah saw. dalam hadis menyebutkan: “La tufaddhiluuni 'alaa Yunus Ibn Matta". Hadis ini juga menunjukan sikap rendah hati Rasulullah saw. Itulah sebabnya mengapa sabda Rasulullah dalam hadis tersebut hanya menyebutkan khusus nabi Yunus, tidak menyebut nabi Ibrahim, nabi Musa atau nabi-nabi yang lainnya. Lalu apa hikmah yang terkandung di dalamnya? Hikmah yang terkandung di dalamnya sangat mengejutkan, dan ini merupakan penafsiran dari penggalan ayat Al-Isra' di atas.

Ketika Allah mempersilahkan Rasulullah saw. naik sampai ke langit ke tujuh pada malam Mi`raj, di sana Rasulullah saw. berada sangat dekat dengan Allah swt. di tempat yang sangat tinggi. Begitupun yang terjadi kepada nabi Yunus as. Dimana nabi Yunus as. pernah berada dalam perut ikan paus di kedalaman air laut, di sana nabi Yunus as. berada sangat begitu dekat dengan Allah swt. di tempat yang sangat rendah. Di dua tempat yang berlawanan, Rasulullah saw. dan nabi Yunus as. sama-sama berada sangat dekat dengan Tuhannya. Karena tempat, arah dan waktu adalah sifat bagi makhluk, bukan sifat bagi khalik. Maha suci Allah dari setiap tempat, arah dan waktu.

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari kerendahan hati Rasulullah saw., dari sana kita jadi tahu dan belajar lebih dewasa dalam mengambil sikap, lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih teliti dalam berucap. Belajar memilah dan memilih bahasa yang tepat ketika berinteraksi, mungkin ada saatnya kita boleh bercanda tapi berlebihan juga ada batasnya. Semua  kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula, dan Rasulullah saw sudah mewariskan segalanya.

Cairo, 27 Juli 2021

* Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, dan saat ini aktif sebagai Korwil Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kairo Mesir.