Kadar Keimanan dan Kualitas Ibadah

ADMINPESANTREN Selasa, 24 Agustus 2021 06:53 WIB
270x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Abdurrohman*

Cerita keseharian saya ini akan menjadi pembuka tulisan ini. Tulisan yang isinya cerita.

Saya kuliah di Mesir memilih tinggal di asrama khusus mahasiswa asing. Berbeda dengan teman-teman yang memilih tinggal di rumah kos. Karena tinggal gratis tidak sama dengan mereka yang bayar mandiri. Ada program setoran al-Qur'an dan hadir pengajian. Kedua sifatnya wajib. Selian itu, harus salat lima waktu berjemaah.

Pernah dalam satu kali kesempatan pengurus asrama buat undang-undang begini: tidak salat berjamaah disanksi bayar 50 le (sekitar 50 ribu) atau jika berulang akan dikeluarkan dari asrama. Apa yang terjadi? Shaf selalu penuh.

Saya yang agak lumayan lama di asrama merasa tidak enak dengan peraturan begini. Masak mau menyembah Allah saja dipaksa-paksa. Allah tidak butuh salat kita. Begitu keluh saya pada teman sekamar yang kebetulan satu pemahaman.

Saya tahu aturan ini ngawur buntut dari pengurus asrama hanya menemui jalan buntu, upayanya menggerakkan penghuni asrama salat berjamaah bersama. "Kalian ini penuntut ilmu yang nantinya akan jadi figur masyarakat, tidak elok meninggalkan salat berjamaah." Begini selalu pesan mereka para kami.

Apakah kalian menjumpai keanehan atau pertanyaan yang perlu diurai dan diberi jawaban sama seperti saya?

Keanehan itu antara lain: saya ingin menyembah Tuhan sendiri, mengapa harus didorong-dorong orang lain yang terkesan dipaksa-paksa? Saya ini orang beriman atau bukan? Lalu di mana bukti keimanan saya, jika hal yang paling mendasar seperti salat saja masih lalai? Jangan-jangan pas dulu masuk Islam yang baca syahadat bukan saya tapi orang tua saya. Duh, jadi rumit begini ya.

Ayo kita lanjut.

Perintah agama semacam salat ini adalah satu paket dengan perintah mempercayai Allah sebagai Tuhan tunggal. Jarak tempuh mencapai titik: Allah sebagai Tuhan tunggal, tiap orang berbeda-beda. Ada yang cepat dan mudah. Ada juga yang lama dan berat. Kesiapan jiwa seseorang ikut mempengaruhi. Lihat (QS: Al-An'am 6:125). Proses memang begitu.

Proses pengesaan Allah ini menjadi sangat penting bagi siapa yang hendak memeluk Islam. Sehingga setelah ia memeluk Islam benar-benar siap menjalankan syariat Islam yang kita kenal sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt, Tuhan alam semesta. Segala bentuk ajaran agama Islam menjadi mudah dijalankan karena modal iman yang kuat, sejalan dengan makna kata Islam, yaitu tunduk dan patuh. Artinya bila seseorang sudah memeluk Islam, ia akan tunduk dan patuh menjalankan syariat Islam penuh dengan keluasan hati. Maka di sini akan lahir yang namanya: Ubudiyah Lillah, ibadah hanya kepada Allah. Jadi tidak perlu ada intervensi pihak luar demi menunaikan salat berjemaah, misalnya.

Bermodal iman yang kuat saja, apakah cukup supaya tidak lalai menjalankan atau bosan dengan kontinuitas ibadah yang itu-itu saja?

Yang jelas iman kepada Allah tidak cukup. Seorang muslim perlu memperluas cakrawala ilmu pengetahuannya. Orang bodoh tak bisa beribadah dan hanya bermodalkan iman kepada Allah sebagai Dzat yang wajib disembah. Mungkin saja lahirnya tampak ia khusuk beribadah, tapi kebodohannya menghalangi ia untuk sampai kepada tuhannya. Makanya kita diharuskan belajar fikih; ilmu halal-haram.

Selain itu orang beriman perlu paham dan mengerti bahwa sejatinya syariat Allah itu bukan untuk kepentingan-Nya, melainkan kepentingan makhluk-Nya. Dengan kata lain, Allah tidak butuh tegaknya syariat. Kita sendiri sebagai orang beriman yang akan memetik buahnya dari tegaknya syariat.

Ambil contoh salat, misalnya. Perintah salat ini luar biasa manfaatnya bagi umat beriman. Allah Maha Mengetahui, pengetahuan yang amat detail. Melalui Alastu bi rabbikum (pada waktu azali) Allah mengetahui bahwa mahkluk akan selalu rindu dan ingin berhubungan erat dengan penciptanya. Itu fitrah mengendap dalam setiap jiwa umat manusia.

Setelah iman didapat, maka perlu adanya penghubung yang berkelanjutan antara makhluk dan Khalik. Di sinilah perintah salat hadir sebagai dahaga bagi umat beriman yang sedang merindukan Sang Pencipta.

Untuk membuktikan tidak perlu jauh-jauh. Buktikan pada diri sendiri.

Kita yang sehari-hari kadang sibuk sana-sini dengan urusan duniawi yang serba materialis. Di tengah lelah dan letih tak berkesudahan, tiba-tiba azan berkumandang. Sudah masuk waktu salat. Bergegas berwudhu lalu salat sunah dua rakaat kemudian diam sejenak menunggu muazin mengumandangkan iqamah. Adakah yang pernah melakukan demikian? Bukankah di sana ada ketenangan batin yang entah tidak tahu datangnya dari mana. Bukankah sekian menit sebelumnya kita capek pikiran, letih badan, lalu sekian menit setelahnya ada ketenangan entah bagaimana bisa terjadi.

Inilah peran atau buah dari perintah salat, jika dilaksanakan penuh kesadaran dan kesabaran.

Tegaknya syariat ini juga sebagai – jika boleh diistilahkan – ajang uji kompetensi keimanan seseorang. Terjaganya syariat ini menjadi bukti kesetiaan orang beriman kepada Allah Swt.

Tegaknya syariat yang disebut sebagai ibadah kepada Allah, bukanlah sebuah alat atau medium mencapai suatu maksud atau tujuan. Melainkan ibadah, seperti perintah salat, puasa dll, adalah maksud dan tujuan itu sendiri. Jika syariat dinilai sebagai alat mencapai tujuan atau maksud tertentu, tidak perlu lagi menjalankan syariat jika tujuan dan maksud tersebut telah sukses dicapai. Pada akhirnya boleh menanggalkan salat dan lain semacamnya. Perintah ibadah salat bukan alat mencapai maksud atau tujuan tertentu, melainkan salat sendiri yang menjadi tujuan akhir.

Penegasan ini menjadi jawaban tegas pada anggapan sesaat sementara orang menganggap dirinya telah gugur dari taklif agama, sebab ia telah mencapai kedekatan dengan Allah yang belum dicapai oleh makhluk lain semisalnya. Tak ada yang lebih takwa dan dekat kepada Allah dari Rasullullah. Nyatanya Rasulullah tidak pernah mengklaim dirinya telah gugur dari taklif. Justru sebaliknya, orang yang mencapai takwa dan dekat bersama Allah, mereka senantiasa merasa lalai terhadap kewajiban-kewajiban yang semestinya di-ibadah-kan kepada Allah Swt. Selama nyawa dikandung badan, taklif tetap berlangsung.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus anggota aktif IMABA Mesir.