Ulama, Santri dan Nasionalisme

ADMINPESANTREN Selasa, 31 Agustus 2021 06:46 WIB
640x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Muhammad Tadhorruila Robby*

Ulama dan santri adalah dwi tunggal pejuang Islam yang tidak terpisahkan. Suatu kesatuan yang melambangkan bahwa Islam tidak pernah absen dalam upaya menegakkan Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI). Fakta sejarah mengatakan, berkat keduanya lahirlah embrio persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Indonesia kemudian bangkit, bermodalkan perjuangan umat yang terus berkobar dan membesar, hingga akhirnya berdaulat serta terbebas dari cengkeraman para penjajah asing.

Atas dasar itulah, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, enam tahun silam mengeluarkan keputusan mengenai penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Pengambilan tanggal tersebut dikarenakan adanya resolusi jihad yang dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai jawaban kaum ulama dan santri atas kembalinya tentara sekutu dan NICA. Momen bersejarah ini menjadi bukti bahwa ulama dan santri merupakan barisan terdepan dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa dan negara.

Kendati demikian, persatuan dan kesatuan tidak akan pernah tercapai kecuali dengan adanya kesadaran bersatu dalam membela tanah air tanpa melihat latar belakang seseorang. Kesadaran itu yang kemudian kita kenal dengan istilah nasionalisme atau paham nasional. Ulama dan santri tampil dengan identitas pesantrennya mengajarkan arti nasionalisme yang sesungguhnya.

Mengapa demikian? Sebagaimana kita ketahui, saat ulama mendirikan sebuah pesantren maka para santri dari berbagai daerah datang berbondong-bongdong ingin menimba ilmu. Hal itulah yang menyebabkan munculnya rasa persatuan dan kesatuan tekad, menghilangkan etnosentrisme menjadi timbulnya rasa nasionalisme. Para santri diajarkan bahwa status sosial yang disandang oleh seseorang bukanlah untuk dipertentangkan, melainkan perbedaan suku dan ras bahkan adanya keragaman strata sosial digunakan untuk saling mengenal. Dalam al-Quran surah Hujurat ayat 13, Allah berfirman yang artinya, “Wahai manusia! Sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (Q.S.[49]:13).

Ulama dan santri merupakan benteng nasional perjuangan Indonesia. Mereka ditempa untuk memiliki rasa tanggung jawab dalam melihat realita penjajahan. Melalui ajaran hadis كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ, ulama dan santri merasa berkewajiban untuk berpartisipasi aktif dalam berjuang melawan penjajah asing. Di saat itu, imperialisme Barat dengan mottonya tiga G: golden, gospel, and glory, mulai bergerak menjajah bangsa lain. Imperialisme merupakan ciptaan Paus Alexander VI di tahun 1494 M, lewat Perjanjian Tordesillas (1494 M), dengan tujuan utamanya menyebarkan agama Katolik secara paksa.

Hal ini dijawab oleh para ulama dan santri dengan melancarkan perlawanan sabil atas dasar agama. Pada awalnya gerakan nasionalis adalah gerakan yang didasari oleh kesadaran membela kebenaran agama. Pilihan motivasi gerakan ini sebagai jawaban terhadap penjajah yang menggunakan agama Katolik atau mission sacre sebagai simbol penjajahannya. Fakta tersebut berkesimpulan bahwa rasa nasionalisme sesungguhnya dapat diartikan sebagai gerakan yang dimotivasi oleh keyakinan agama. Sementara Islam dengan ulama beserta santrinya berada di garda terdepan dalam membela agama mayoritas tersebut. Artinya, ulama dan santri adalah jiwa-jiwa yang paling nasionalis.

Seiring berjalannya waktu, hakikat nasionalisme menjadi rancu karena diartikan sebagai gerakan membela bangsa dan tanah air an sich, tanpa memedulikan agama. Gerakan sekularisme mencoba mengagendakan pemisahan agama dan politik, sehingga melahirkan metode penulisan sejarah yang meniadakan agama sebagai sumber atau motif peristiwa sejarah. Akhirnya terjadilah deislamisasi penulisan sejarah yang sangat bertentangan dengan fakta historisnya. Oleh karena itu, mari sejenak mengingat masa lalu kita akan kebesaran perjuangan ulama dan santri dalam menegakkan NKRI.

Perjuangan dari masa ke masa

Sejarah adalah hal yang bersifat urgen bagi kehidupan. Hanya dengan sejarah kita bisa melakukan sesutu yang lebih baik dari pada sebelumnya, begitu juga dengan santri. Mereka dapat memahami betapa pentingnya persoalan sejarah, upaya merefleksikan perjuangan di masa mendatang sangat bergantung oleh keteladanan para pendahulunya.

Penjajah Kristen Katolik dari Portugis menguasai Malaka pada 1512 M. Ketika Portugis mendirikan benteng di Sunda Kelapa tahun 1523 M, Portugis hanya dapat bertahan sampai 1527 M. Sebab, pada 22 Juni 1527 atau 22 Ramadhan 933 H, Sunda Kelapa berhasil direbut kembali oleh Syarif Hidatullah atau Sunan Gunung Jati bersama menantunya Fatahillah. Selain itu, Sultan Babullah (1570-1583 M) juga berhasil mengusir Portugis dari tanah Ternate pada tahun 574 M. Hal ini menjadi fakta bahwa ulama bukan hanya sekadar mengajar di surau-surau pesantren, melainkan sebagai motor penggerak perjuangan bangsa Indonesia.

Selanjutnya, pada abad ke-17 M, datanglah gelombang kedua imperialisme Barat, yakni Protestan Belanda. Bukannya menciut, perjuangan ulama dan santri semakin berapi-api. Katakanlah perlawanan Sultan Agung (1613-1645 M) bersama Dipati Ukur dari Tatar Ukur. Sultan Agung yang terkenal sebagai ulama tersebut melancarkan serangan terhadap VOC Belanda yang sedang bercokol di Batavia (nama setelah Jayakarta). Kesultanan Banten juga mengikuti jejak Kesultanan Mataram Islam. Atas prakarsa Sultan Ageng Tirtayasa (1653-1699 M), Kerajaan Banten juga melakukan perlawanan terhadap VOC.

Perang demi mempertahankan keyakinan agama terus berlanjut, Pengeran Diponegoro turut melancarkan serangan terhadap kompeni Belanda. Perang Padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol (1821-1837 M) pun akhirnya pecah. Perang Batak yang dipimpin oleh Sisingamangaraja XII pada 1872-1907 M tak bisa terelakkan pula. Disusul kemudian dengan Perang aceh (1873-1914 M) hingga muncullah tokoh-tokoh pejuang Islam lainnya, sebut saja Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, bahkan dari kalangan wanita seperti Cut Nyak Dhien yang mampu memporak-pondakan tentara Belanda.

Masa kebangkitan nasional sebenarnya juga dipelopori pertama kali oleh organisasi modern Islam, seperti halnya Sarekat Dagang Islam, Jamiat Khair, Nadhatul Ulama dan juga Muhammadiyah. Sarekat Dagang Islam yang kemudian beralih nama menjadi Sarekat Islam merupakan pihak yang mensosialisasikan istilah nasional pertama kali serta menyuarakan Indonesia merdeka. Di masa kemerdekaan, ulama dan santri tidak mau tertinggal dalam perumusan proklamasi, Undang-Undang Dasar, Pancasila, hingga larangan paham komunis, yang itu merupakan bukti nyata perjuangan mereka di Bumi Nusantara ini.

Sinergi kita

Sebagai generasi penerus, kita wajib melanjutkan estafet perjuangan mereka. Diawali belajar bersungguh-sungguh dalam memahami agama. Membangun moral dan akhlak islami, dan memahami sejarah perjuangan mereka yang sudah tiada. Masa depan adalah hilir masa lalu, karenanya dibutuhkan pengetahuan tentang masa lalu supaya merefleksikannya di masa yang akan datang. Juga dengan membina kesatuan umat Islam, karena musuh kita bisa menang atas Islam disebabkan politik adu dombanya. Intinya, lakukan segala sesuatu yang telah para leluhur wariskan kepada kita. Jangan hanya membanggakan sejarah kita dahulu tanpa adanya bukti nyata perjuangan kita sebagai generasi penerus. Ingat! Jiwa yang lama segera pergi, bersiaplah para pengganti, mari berjuang dari bawah. Think global act local.

 *Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, duduk di kelas 11 IPA 1 MA Mambaul Ulum Bata-Bata.