Mukjizat Susunan Al-Qur’an

ADMINPESANTREN Jumat, 10 September 2021 06:25 WIB
518x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Khoirut Tuqo Syafiuddin*

Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara malaikat Jibril AS, serta beribadah dengan membacanya. Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan salah satu rahasia kemukjizatan Al-Qur’an dapat terlihat jelas dalam pembahasan munasabat.

Perlu kita ketahui bersama bahwa Al-Qur’an diturunkan secara beransuran selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, dan bisa dikatakan mustahil dalam kurun waktu demikian ada suatu kitab atau perkataan yang di dalamnya tidak ada perbedaan, bahkan seluruh ayat dalam Al-Qur’an saling melengkapi dengan ayat yang lain. Begitulah Al-Qur’an, seandainya bukan wahyu maka akan terjadi banyak perbedaan di dalamnya.

Al-Qur’an dalam kurun waktu yang lama telah menantang semua penolaknya untuk mendatangkan sepuluh surat, -bahkan satu surat- yang serupa dengan Al-Qur’an. Namun yang terjadi tidak ada satu orangpun -baik dari bangsa Arab itu sendiri atau lainnya- yang mampu menandingi Al-Qur’an, dan dari sekian lama pula Al-Qur’an menantang para penolaknya untuk mendatangkan kesalahan yang ada di dalam Al-Qur’an, tapi semua sanggahan dan penyerangan terhadap Al-Qur’an justru semakin mengangkat kekuatan mukjizat Al-Qur’an.

Di antara keberkahan itu muncullah suatu ilmu yang disebut dengan munasabat yang dimana para ulama’ berusaha dengan sepenuh hati, -dengan ketelitian dan ketekunan- untuk menunjukkan bagaimana hubungan atau keterkaitan antara satu ayat dengan lainnya, antara satu surat dengan yang lainnya, antara akhir surat dengan awal surat setelahnya, dan begitulah seterusnya. Hal inilah yang sering memicu kita sendiri untuk bertanya-tanya, kenapa ayat ini berada setelah ayat itu, kenapa setelah surat ini ada surat itu, dan semua itu terjawab dalam ilmu Munasabat.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian Munasabat adalah ilmu yang membahas tentang keterkaitan antara surat-surat atau ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an, atau dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hikmah di balik susunan Al-Qur’an[1]. Hal ini sangat sesuai sekali dengan lafadz Munasabat sendiri yang diambil dari bahasa Arab dan memiliki arti “serupa dan tidak ada perbedaan”[2], sehingga dengan ilmu ini kita dapat mengetahui bahwa Al-Qur’an memang benar-benar wahyu dan tidak ada perbedaan di dalamnya.

Ilmu ini berpondasikan ijtihad para ulama’ yang benar-benar memahami Al-Qur’an. Oleh sebab itu tidak ada batasan bagi siapapun yang berkemampuan untuk menghasilkannya, dan mungkin saja satu cendekiawan muslim dapat menemukan Munasabat suatu bagian dari Al-Qur’an yang tidak ditemukan oleh yang lain.

Namun untuk memenuhi kebutuhan para penikmat keislaman dan menghindari setiap orang angkat bicara tanpa ada pondasi hukum di baliknya, maka para ulama’ menaruh beberapa syarat untuk Munasabat yaitu, satu: teliti dalam pemaknaan, dua: sesuai dengan struktur kata dan kalimat, tiga: sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang benar, empat: masuk akal (logis), lima: tidak memaksakan dan tidak dibuat-buat. Syarat ini sesuai dengan perkataan Imam Az-Zarkasyi “Munasabat merupakan hal yang logis, ketika dituangkan maka dengan mudah akal akan menerimanya”[3].

Selanjutnya untuk memperjelas apa yang telah penulis jelaskan di atas, maka penulis akan langsung masuk dalam pembagian beserta contohnya, sebagai berikut:

A. Munasabat Al-Ayat adalah hubungan erat dalam satu ayat, atau hubungan erat di antara satu ayat dengan yang lainnya.

Maka dari pengertian di atas, Munasabat Al-Ayat dibagi menjadi dua:

1. Hubungan erat dalam satu ayat, dibagi menjadi dua yaitu:

a. Kesesuaian lafadz ayat dengan makna dan keadaan yang dijelaskan ayat contoh:

قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّى تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ (يوسف:85)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bagaimana kesesuaian kata dengan keadaan Nabi Ya’qub AS, di dalam ayat terdapat kata (تَاللَّهِ) yang merupakan salah satu lafadz qosam yang jarang sekali digunakan, karena huruf qosam Ta’ merupakan huruf qosam yang jarang digunakan, dan lafadz (تَفْتَأُ) yang termasuk dari أخوات كان yang paling jarang digunakan, dan lafadz (حَرَضًا) merupakan lafadz yang paling jarang digunakan dalam makna hancur.

Dengan lafadz yang digunakan ayat ini Allah menunjukkan bagaimana keanehan sikap Ya’qub AS, yang menunjukkan kekhawatirannya terhadap para putranya.

b. Kesesuaian penutup ayat dengan kandungan isi yang dijelaskan ayat

 وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّار ٌ   (إبراهيم : 34)

Ayat ini Allah tutup dengan firmannya (إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّار ٌ ) dikarenakan ayat ini menceritakan bagaimana sifat manusia yang telah Allah kasih kenikmatan dan selalu mengingkari kenikmatan yang Allah berikan, dan di dalam ayat yang lain:

 وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (النحل :18)

Allah tutup ayat ini denga firmannya: (إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ) karena dalam ayat ini menjelaskan bagaimana sikap Dzat pemberi kenikmatan yang selalu mengampuni dan selalu menyayangi makhluk-Nya.

2. Hubungan erat di antara satu ayat dengan ayat lainnya

Hubungan ini menunjukkan di antara satu ayat dengan ayat lainnya memiliki keterikatan yang sangat kuat, bisa saja ayat yang pertama terlalu umum sehingga datanglah ayat yang kedua untuk merinci keumuman tersebut, atau semacamnya, dan Ulama membaginya sebagai berikut:

a. Ayat yang kedua merupakan sebab dari ayat yang pertama

لَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (24)

Dalam ayat yang kedua Allah menjelaskan sebab dari berpalingnya mereka (Ahlu Al-kitab) dari hukum-hukum Allah, dan hal itu terjadi dikarenakan keyakinan mereka bahwa mereka tidak akan masuk neraka, kecuali beberapa hari saja, sebagai mana firman-Nya: (ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ)

b. Ayat yang kedua merupakan tafsir dari ayat yang pertama

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) (المعارج:19-21)

Dalam ayat yang pertama Allah menjelaskan manusia dengan kata (هَلُوعًا) dan setelah itu Allah jelaskan apa maksud dari kata itu dengan firmannya (إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا)

c. Ayat yang kedua merupakan penguat (Taukid) dari ayat yang pertama

وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَاقَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (39) (غافر: 38-39)

Diulanginya lafadz (يَاقَوْمِ) di ayat yang kedua merupakan Taukid lafdzi dari lafadz (يَاقَوْمِ) di ayat yang pertama, serta makna dari ayat yang kedua merupakan taukid (penguat) makna dari ayat yang pertama.

d. Ayat yang kedua merupakan pengganti (Badal) dari ayat yang pertama

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (الفاتحة:6-7)

Dalam ayat yang pertama Allah menurunkan lafadz As-sirat Al-mustaqim, barulah di ayat yang kedua Allah jelaskan bahwa As-sirat Al-mustaqim adalah jalan dari orang-orang yang Allah karuniai kenikmatan, dan bukan jalan dari orang-orang yang Allah murkai, dan bukan jalan dari orang-orang yang sesat.

e. Ayat yang kedua merupakan sifat dari suatu kata dalam ayat yang pertama

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26) الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (27) (البقرة:26-27)

Dalam ayat yang pertama Allah menjelaskan bahwasanya orang-orang fasiq berada di dalam kesesatan, dan di ayat yang kedua Allah menjelaskan sifat-sifat dari orang fasiq yaitu sebagaimana firman-Nya: (الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ).

f. Ayat yang kedua merupakan alasan atas hukum yang ditetapkan dalam ayat yang pertama

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ (178) وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (179) (البقرة:178-179)

Dalam ayat yang pertama Allah menurunkan ketentuan hukum Qisas bagi barang siapa yang membunuh orang lain, dan di ayat selanjutnya Allah menjelaskan hikmah di balik disyariatkannya hukum Qisas yaitu sebagaimana firman-Nya: (وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ) dan ini merupakan alasan atau hikmah di balik disyariatkannya hukum Qisas.

g. Al-i’tiradh

Meletakkan satu jumlah atau lebih -yang tidak ada kedudukannya dalam i’rab- disela-sela pembahasan, dan tujuannya adalah untuk menguatkan perkataan agar pendengar lebih memperhatikan.

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ (75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (76) إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (77) (الواقعة:75-77)

Dalam ayat ini terdapat jumlah Al-I’tiradh di antara qosam (فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ) dan jawab qosam (إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ) dengan firman-Nya (وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ) dan juga terdapat jumlah Al-I’tiradh di antara lafadz (لَقَسَمٌ) dan sifatnya (عَظِيمٌ) dengan firman-Nya (لَوْ تَعْلَمُونَ). Hikmahnya sebagaimana yang dijelaskan oleh imam As-Suyuthi yaitu mengagungkan hal di qasam, dan sebagai perhatian akan keagungan yang tidak banyak orang mengetahuinya.

B. Munasabat baina As-suwar adalah hubungan erat dalam satu surat dan hubungan erat di antara seluruh surat yang ada di dalam Al-Qur’an.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Munasabat baina As-suwar dibagi menjadi dua yaitu:

1. Hubungan erat dalam satu surat, yaitu bagaimana kita melihat kandungan satu surat kemudian kita lihat bagaimana kesesuaian nama surat dengan kandungan surat, atau kesesuaian tema besar satu surat dengan penutupnya dan sebagainya.

Dari penjelasan di atas maka ulama membaginya menjadi tiga bagian yaitu:

a. Kesesuaian awal surat dengan akhir surat

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (المؤونون:1)

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (المؤونون:117)

Di awal surat Al-Mu’minun dijelaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah orang-orang mukmin, dan kebalikan dari orang mukmin adalah orang-orang kafir. Oleh sebab itu, di akhir surat ini dijelaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah beruntung.

b. Kesesuaian awal surat dengan tema umum yang dibahas surat

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (الكهف:1)

Ketika orang-orang musrik menanyakan kepada nabi Muhammad SAW kapan turunnya wahyu yang berkaitan dengan cerita Ashabul kahf tiba-tiba wahyu berhenti turun. Di saat itulah para kaum musrik berbahagia dan mengatakan bahwa tuhan Muhammad sudah tidak menolongnya lagi. Maka turunlah surat Al-Kahf dan yang mengandung pertanyaan dan permintaan kaum musrik, dan di awal surat ini Allah menjelaskan bahwa wahyu tidak berhenti, melainkan Allah yang berkehendak kapan wahyu turun bukan Nabi Muhammad. Hal ini juga yang membantah perkataan mereka bahwa Al-Qur’an buatan Nabi Muhammad. Namun kenyataannya tidak demikian, karena kalau memang Al-Qur’an buatan Nabi Muhammad maka dia bisa mengeluarkannya kapanpun dan dimanapun.

c. Kesesuaian nama surat dengan tema dan kandungan surat

Kesesuaian ini dapat dilihat di Surah Al-Ikhlas. Meskipun dalam surat ini tidak disebutkan kalimat ikhlas namun dalam surat ini dijelaskan cara agar seorang hamba beribadah dengan ikhlas kepada Allah SWT.

2. Hubungan erat di antara seluruh surat yang ada di dalam Al-Qur’an. Membandingkan dua surat dan mencari hubungan di antara kedua surat tersebut. Ulama membaginya menjadi dua yaitu:

a. Tanasub Kulli, yakni hubungan satu surat dengan surat yang lain secara keseluruhan, tanpa memperhatikan bagian-bagian ayat yang berada dalam surat tersebut. Hal ini dapat diketahui dengan cara membandingkan tema dan kandungan kedua surat, seperti:

1). Suatu surat memiliki keserupaan dengan surat setelahnya, misalnya surat Ad-Dhuha dengan surat As-Syarh. Surat Ad-Dhuha secara umum, tujuannya adalah memberikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad SAW akan nikmat Allah SWT yang telah diberikan, begitupun dengan sura As-syarh yang memili tujuan umum yang sama yaitu memberikan kabar gembira akan nikmat Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

2). Makna suatu surat merupakan kebalikan dari makna surat setelahnya. Misalnya dalam surat Al-ma’un, dimana Allah SWT menjelaskan sifat dari orang munafik dengan empat sifat yaitu pelit, meninggalkan solat, riya’, dan tidak berzakat. Sementara di dalam surat Al-kautsar terdapat kebalikan dari semua sifat-sifat ini yaitu sifat dari seorang mukmin yang meliputi, pemberian, mendirikan solat, tidak riya’, dan berinfaq melalui sembelihan qurban.

3). Suatu surat merupakan sebab dan alasan dari ayat setelahnya. Misalnya surat Al-Fiil dan surat Quraisy. Di dalam surat Al-Fiil dijelaskan tentang kehancuran raja Abrahah dan semua tentaranya ketika ingin menghancurkan ka’bah, seakan-akan hal ini dilakukan agar keamanan dan perekonomian para warga Quraisy terjamin, sebagaimana yang ada di dalam surat Quraisy.

b. Tanasub Juz’i yakni hubungan satu surat dengan surat yang lain dari sebagian sisinya saja, yaitu dengan membandingkan dua ayat yang ada dalam surat yang berbeda seperti:

1). Kesesuaian pembuka surat, misalnya: surat Al-Kahf dengan surat Al-Isra’ yang sama-sama dibuka dengan pujian dan syukur kepada Allah, surat An-Nisa’ dengan surat Al-An’am sama-sama dibuka dengan Nida’ , surat Al-Fajr dengan surat Al-Balad sama-sama dibuka dengan Qasam, surat Al-Qomar dengan surat Al-Rahman yang sama-sama dibuka dengan Khabar, dan begitupun seterusnya.

2). Kesesuaian penutup surat. Misalnya surat Al-Fatihah dengan surat Al-Baqarah yang sama-sama ditutup dengan doa.

3). Kesesuaian penutup surat dengan awal surat setelahnya. Misalnya surat Ali ‘Imron yang ditutup dengan Nida’ dengan awal surat An-Nisa’ yang diawali dengan Nida’, surat Al-Waqi’ah yang ditutup dengan tasbih dengan surat Al-Hadid yang diawali dengan tasbih.

Dengan penjelasan di atas ada satu hal yang harus kita ketahui bersama bahwasanya pembagian di atas hanya merupakan sebagian contoh dari Munasabat, karena ilmu ini merupakan ilmu ijtihad, maka pembagiannya akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya keilmuan dan kemampuan ulama dalam mencarinya. Penulis hanya menunjukkan sebagian kecil dari kemegahan ilmu Munasabat dan untuk lebih mendalami ilmu ini maka penulis akan merekomendasikan beberapa buku yang lebih lengkap membahas tentang ini, sebagai berikut:

  1. Riyy Ad-Dzam’an fi Tafsir Al-Qur’an karya dari Abdullah Muhammad ibn Abdullah Al-Mursi As-Sulami, wafat 655 H.
  2. Al-Burhan fi Tanasub Al-Qur’an karya dari Abi Jakfar ibn Ibrahim ibn Az-Zubair ibn Al-Gharnathi, wafat 708 H
  3. Nadzm Ad-Durar fi Tanasub Al-Ayat wa As-Suwar karya dari Burhanuddin Abi Al-Hasan Ibrahim ibn Umar Al-Biqa’i, wafat 885 H.

 

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus mahasiswa semester 5 Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Cairo Mesir.

 

[1] Nadzm Ad-durar J. 1 H. 6

[2] Ash-shahha H. 224 Taj Al-Urus J.4 H. 265

[3] Al-Burhan fi Ulum Al-qur’an J.1 H. 35