Berbagai Corak Tradisi Keilmuan Pesantren yang Melekat Hingga Kini

ADMINPESANTREN Jumat, 17 September 2021 07:22 WIB
358x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Afifah Al Husen*

Memaparkan pengertian tentang pesantren dalam kerangka yang menyeluruh dan lengkap, amatlah tidak mudah, apalagi pada saat jaman sekarang ini. Di samping karena faktor dinamika perubahan sosial yang sangat cepat yang berlangsung dewasa ini, pesantren sendiri memang merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam yang unik. Pengamatan terhadap pesantren secara tidak tajam dan kurang mendalam seringkali berujung pada kesimpulan yang kurang tepat. Pesantren selalu atau seringkali menampakkan wajahnya yang tidak mudah ditebak arah gerakannya, tetapi selalu ingin memberikan kesan yang baik.

Definsi Pesantren paling umum dan paling sederhana bisa diartikan sebagai tempat belajar ilmu-ilmu agama Islam. KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa disebut dengan Gusdur memperkenalkan pesantren sebagai a place where santri (student) live. Senada dengan ini, Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo mengemukakan definisi pesantren dengan sedikit perluasan, yaitu the word pesantren stems from santri which means one who Islamic knowledge. Usually the word pesantren refers to place where the santri devotes most of his or her time to live in and acquire knowledge. Definisi ini sesungguhnya juga masih sederhana dan belum cukup memadai untuk memahami pesantren dalam arti yang sebenarnya. Terdapat beberapa unsur penting dan substansif yang harus disebutkan sehingga sebuah lembaga pendidikan Islam dapat disebut pesantren.

Pesantren tidak luput dari tradisi keilmuannya, hal yang terpenting dalam pesantren adalah tradisi keilmuannya. Pesantren dikenal luas sebagai lembaga pendidikan Islam yang sangat kuat melakukan pemeliharaan terhadap literatur-literatur keislaman klasik. Istilah klasik merujuk pada periode sejarah Islam abad pertengahan terutama pada sekitar abad 13 sampai abad 19 M. Masyarakat pesantren menyebut literatur klasik tersebut dengan istilah kitab kuning. Jargon yang sering dikemukakan adalah al Muhafazhah ‘ala Qadim al Shalih waal Akhdz bi al Jadid al Ashlah (Memelihara tradisi yang baik dan mengambil cara baru yang lebih baik). Semua literatur kitab kuning ini ditulis dalam bahasa Arab kuno tanpa tanda baca serta pada umumnya merupakan produk abad pertengahan Islam dan ditulis pada kertas koran berwarna kecoklatan atau sedikit kuning. Kitab kuning juga pada umumnya tidak dijilid secara rapi atau terlepas-lepas.

Dalam kurun waktu yang panjang, masyarakat pesantren telah mengonsumsi kitab kuning sebagai pedoman dan tuntutan berpikir dan bertingkah laku. Kitab kuning telah menjadi bagian yang menyertai perjalanan dan kultur dalam pesantren. Menurut masyarakat pesantren, kitab kuning merupakan formulasi final dari ajaran Islam dengan dua sumber utama, yaitu Al Qur’an dan hadis. Kitab-kitab ini ditulis oleh para sarjana Islam yang biasa disebut dengan Ulama dengan kualifikasi ganda yaitu keilmuan ketuhanan yang tinggi dan moralitas pribadi yang luhur. Kitab kuning juga ditulis dengan pena atau jari-jari yang memantulkan cahaya ketuhanan. Para penulis kitab tersebut sering kali dipandang seperti tokoh legendaris dan penuh kharisma. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika kitab kuning tersebut kemudian dianggap memiliki tingkat sakralitas yang tinggi seakan minor cacat. Sebagian orang menyebutnya sakralisasi teks-teks Islam sekaligus sakralisasi tokoh agama. Kitab-kitab ini pada gilirannya memberikan pengaruh yang sangat besar bagi cara pandang, kepribadian para santri dan sikap hidup mereka sehari-hari.

Kitab-kitab klasik yang menjadi kajian utama di pesantren meliputi banyak bidang keilmuan Islam. Beberapa di antaranya adalah tajwid (tata cara membaca Al-Qur’an), tafsir, hadis (tradisi nabi), tauhid, (teologi), fiqh (Hukum Islam), Usul Fiqh (Teori Fiqih atau Hukum Islam), Nahwu-Sharraf (Gramatika bahasa Arab), balaghah (Sastra Arab), sejarah Islam, akhlaq (Etika Islam), tasawuf (mistisisme), serta mantiq (logika). Namun, dari sejumlah ilmu Islam yang dipelajari di pesantren, hukum Islam menjadi ilmu yang paling dominan dipelajari di pesantren disusul kemudian akhlak-tasawuf (etika-mistisme). Kenyataan ini juga dikemukakan dalam banyak penelitian para peneliti luar. Martin Van Bruinessen, peneliti Islam dan pesantren yang terkenal dari Belanda, misalnya, menyatakan bahwa inti pendidikan di pesantren sebenarnya terdiri dari karya-karya fiqh. Fiqh yang boleh dikatakan, membentuk tradisi dan kebudayaan masyarakat pesantren. Popularitas dan dominan Fiqh ini dapat dimengerti karena Fiqh adalah ajaran-ajaran praktis yang mudah diamalkan. Fiqh dalam pengertian umum adalah pengetahuan tentang hukum-hukum Islam yang diproduksi berdasarkan ijtihad (penelitian serius) para ahli yang disebut Mujtahid terhadap dua sumber utama Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadis. Akan tetapi Fiqh yang dipelajari di pesantren pada umumnya adalah Fiqh yang telah diwarnai oleh pemikiran-pemikiran sufisme.

Dalam analisisnya terhadap tradisi keilmuan pesantren, K.H Abdurrahman Wahid mengemukakan bahwa pada awalnya, tradisi keilmuan yang masuk di pesantren adalah melalui jalur Persia dan anak benua India yang berorientasi kuat pada tasawuf (mistisme). Kitab-kitab tasawuf menjadi mata pelajaran utama di sana. Dalam perkembangan yang cukup panjang, sejak abad ke-13 sampai ke abad 19, manifestasi keilmuan ini lalu bercampur dengan pandangan-pandangan tradisi dan mistik Jawa atau penduduk setempat. Perubahan orientasi pesantren kemudian terjadi pada abad ke-19, yaitu ketika terbuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Islam untuk belajar di Timur Tengah, terutama Saudi Arabia. Mereka yang kemudian menjadi ulama-ulama besar, seperti Kiai Nawawi banten, Kiai Arsyad Banjar (dari Banjarmasing Kalimantan Selatan), dan Kiai Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Jombang membawakan orientasi baru yang lebih bercorak Fiqh dan Fiqh yang berkembang tetap mendapat pengaruh sufisme yang sangat kuat. Sampai hari ini corak keilmuan fiqh sufistik ini menjadi mainstream hampir seluruh pondok pesantren.

*Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, sekarang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember (UIN KHAS Jember)