Childfree dalam Pandangan Islam dan Konstruksi Masyarakat Indonesia

ADMINPESANTREN Jumat, 8 Oktober 2021 07:29 WIB
417x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

*Musyarrofah

Belakangan ini dunia maya dihebohkan dan menjadi perbincangan publik di media sosial tentang pernikahan tanpa anak atau dengan istilah childfree. Hal tersebut juga sempat disuarakan oleh salah satu influencer Gita Savitri dalam salah satu acara wawancaranya di youtube yang menyatakan bahwa salah satu alasan kenapa dia memilih untuk Childfree adalah faktor finansial, trauma, kesiapan mental orang tua untuk memiliki dan mendidik anak. Alasan inipun didukung oleh beberapa childfree community di Indonesia dengan alasan yang hampir sama bahwa kebahagiaan seseorang tidak harus diukur dari memiliki anak dan ingin lebih fokus pada pengembangan diri sendiri.

Prinsip tersebut memang menjadi hak privasi masing-masing yang semestinya tidak dicampuri orang lain, akan tetapi bila prinsip tersebut dapat mempengaruhi orang banyak maka hal ini bisa menjadi polemik. Lantas bagaimana Islam merespon dan menyikapi paham ini? Apalagi di Indonesia prinsip tersebut masih belum bisa diterima oleh masyarakat bahkan menuai kontroversi banyak kalangan. Walaupun Childfree itu sendiri sebenarnya bukanlah istilah yang baru lahir, sebab trend ini sudah ada sejak lama dan berkembang di negara barat seiring dengan meluasnya liberalisme.

Islam memiliki tanggung jawab moral dalam memberikan pencerahan baik itu secara spiritual, ekonomi maupun sosial atas dampak dari hadirnya paham childfree ini. Dari sudut pandang Islam, sudah tentu tidak ada istilah Childfree atau tanpa keturunan dalam pernikahan. Karena sejatinya kaum muslim menikah salah satu tujuannya untuk memperoleh keturunan agar dapat membentuk generasi selanjutnya sehingga bisa terus berjuang untuk mempertahankan eksistensi agama Islam. Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS: an-Nahl: 72)

 

Selain adanya pernikahan, Islam sangat menganjurkan adanya keturunan, sebab salah satu tujuan pernikahan dalam Islam ialah untuk melahirkan generasi yang berkualitas, baik berkualitas secara spiritual, intelektual dan emosional. Secara sederhana memiliki anak turut serta membangun generasi muslim yang beriman agar tidak terjadi kepunahan. Jika melihat data yang dikeluarkan “The World Bank” tren angka kelahiran di dunia terus mengalami penurunan, bahkan pada 2019 angka kelahiran kasar di Indonesia per-1000 penduduk di Indonesia berada pada angka 17,75. Data ini didukung oleh hasil sensus penduduk yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik) dimana ada penurunan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia dari tahun 2000 hingga ke tahun 2020. Pada tahun 2000-2010 laju pertumbuhan penduduk di Indonesia menunjukan angka 1,49%, sedangkan pada tahun 2010-2020 laju pertumbuhan penduduk di Indonesia menunjukan angka 1,25%.

Penurunan kelahiran di Indonesia ini diperkuat dengan munculnya fenomena childfree. Banyak hal yang membuat seseorang memilih chidfree terkait masalah psikologis, ekonomi dan faktor lingkungan. Terkait fenomena ini Islam harus memberi pemahaman pada generasi saat ini bahwa pernikahan adalah ibadah, bukan sekadar tindakan untuk menyenangkan diri sendiri. Hubungan antara Islam dan childfree itu sangat saling bertolak belakang karena Islam sangat menganjurkan adanya keturunan, sebab salah satu tujuan pernikahan dalam Islam ialah untuk melahirkan generasi yang mewarisi kesalehan dan keimanan kepada Allah SWT, beda halnya dengan paham childfree yang bertindak secara deregenerasi, berupaya untuk tidak ingin memiliki keturunan dalam balutan hangatnya ikatan suami istri.

Childfree dalam konstruksi masyarakat di Indonesia menimbulkan pro dan kontra karena bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Apabila keputusan tersebut tidak dapat diterima, tentu dapat menjadi tekanan sosial bagi pasangan, sehingga pandangan masyarakat yang berorientasi pada hadirnya anak dalam pernikahan menjadi salah satu dampak negatif. Stigma negatif yang ditimbulkan dari masyarakat tersebut, dapat menimbulkan tekanan tersendiri. Berbeda dengan Childless, lebih ke dalam kondisi dimana seseorang tanpa anak yang disebabkan karena keadaan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti keguguran, maupun kondisi fisik dan biologis lainnya.

Childless lebih ditoleransi dibandingkan dengan mengambil keputusan untuk childfree. Dampak Childfree memiliki konsekuensi sosial dari masyarakat sekitar, sehingga mengakibatkan beban emosional yang besar pada pasangan. Pasangan harus bersiap menghadapi kritik keluarga besar, kritik masyarakat sekitar bahkan dari berbagai kalangan. Hal ini tidak terlepas dari perspektif budaya kolektif, kultur masyarakat tetap akan menuntut atau mengharapkan seseorang yang menikah memiliki anak. Sehingga salah satu pihak yang perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan childfree ialah keluarga besar. Sebab, di Indonesia pernikahan pada prinsipnya tidak hanya melibatkan dua individu saja, tetapi juga dua keluarga besar.

Masyarakat Indonesia masih kental dengan budaya ketimuran, konstruksi sosial, dan nilai sensibilitas yang tinggi sehingga belum bisa untuk menerima secara gamblang konsep dari childfree ini. Berbeda jika childfree dapat diterima, maka pasangan akan lebih mudah menghadapi tekanan sosial. Namun, memilih untuk childfree bukan berarti tanpa resiko, ditengah konservatifnya masyarakat Indonesia menjadi childfree akan mendapatkan kekerasan secara verbal dari masyarakat dan ketidakstabilan pernikahan.

Maka dari itu, hendaklah kasus diatas tidak dilakukan seorang muslim, sebab hal tersebut tidak sesuai dengan anjuran Islam serta menyalahi filosofi dari sebuah pernikahan. Keturunan merupakan salah satu tujuan dan ungensitas keberadaan anak saleh dalam pernikahan baik dari sudut pandang Islam maupun sudut pandang masyarakat Indonesia.

* Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata