Memupuk Semangat, Menebarkan Manfaat di Era Pandemi

ADMINPESANTREN Selasa, 12 Oktober 2021 06:02 WIB
354x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Samsul Arifin*

Hal yang paling ditakuti oleh mayoritas orang adalah hilangnya nyawa, baik nyawa diri sendiri apalagi orang yang sangat dicintai. Terbukti, ketika kita bertanya pada sesama; teman, keluarga, maupun tetangga, tentang keadaan mereka yang terkena musibah, misal kecelakaan yang sangat parah namun belum mati, mendengar kabar itu kita pasti bilang: “Alhamdulillah beruntung belum mati.” Padahal terkena musibah kok malah bilangnya alhamdulillah? Allah berfirman dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 156;

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Bagi saya sebagai orang Madura yang bilang innalillah baru ketika sampai meninggal. Jika tidak, bilangnya beruntung atau alhamdulillah. Dari sini dapat dipahami bahwa hembusan keluar masuknya nyawa merupakan anugerah besar yang diberikan oleh Allah. Hal itu terbukti, tidak ada satupun yang mampu membuat nyawa ataupun mengembalikannya, meski secanggih apapun teknologi yang digunakan. Oleh karena itu, kita harus menjaganya dengan sungguh-sungguh, merawatnya secara intensif dan memproyeksikannya sebagaimana mestinya.

Kendati demikian, ada segelintir orang ketika sudah memiliki masalah ini dan itu hingga membuatnya depresi dan frustasi. Akhirnya, menginginkan bunuh diri saja. Padahal, apakah seberharga itukah masalahnya hingga mau menukarnya dengan nyawa? Apalagi orang yang sayang pada kita tidak menginginkan hal itu terjadi. Terlebih orang tua pada anaknya. Jadi, meski kita banyak ditinggal orang-orang yang kita cintai, jangan malah memperkeruh keadaan. Karena hal itu malah akan membuat orang yang kita cintai sangat menyayangkan sekali terhadap kondisi kita yang kerdil, mudah menyerah, tak punya arah. Apakah itu yang diinginkan oleh mereka? Buktikan jika kita benar-benar sayang pada mereka dengan mewujudkan apa yang mereka sukai dan harapkan pada diri kita. Sebagaimana kita ketahui dalam hadits Nabi bahwa ketika sudah mati, maka semua amal akan terputus kecuali tiga hal. Salah satunya adalah anak yang saleh dan salehah yang tak kunjung putus mendoakan kedua orang tuanya. Sebenarnya itulah salah satu harapan orang tua pada anaknya, karena siapa lagi yang akan membuat kuburannya dingin dan sejuk dengan limpahan pahala, dan siapa lagi yang akan kontinu mendoakan kecuali sang anak.

Dalam hidup kebergantungan satu sama lain di antara kita tak bisa dipungkiri dan kita tidak bisa menghindarinya. Sebagian orang yang hartanya banyak, melimpah-ruah terkadang enggan membagi sepeserpun untuk mereka yang mau makan saja sangat susah. Ia sangat takut sekali pada dirinya sendiri hingga enggan membelanjakannya. Apakah itu orang yang kaya, banyak harta dan sangat bergantung padanya? Padahal kaya itu berarti tidak butuh dan ketergantungan pada sesuatu mulai mengurang. Semakin banyak yang kita keluarkan, maka kita semakin kaya. Jadi, kaya itu bukan seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa banyak yang kita keluarkan. Lebih parah lagi yaitu, orang mati kelaparan sedang tetangganya orang-orang kaya semua. Ini merupakan hal yang sangat miris sekali, bagai orang yang mati kehausan di tengah lautan dan seperti ayam mati di lumbung padi. Kita belum dikatakan kaya jika orang-orang di sekitar kita sengsara dan menderita karena hanya sesuap nasi saja. Kita memang punya hak terhadap harta kita, namun orang lain juga punya hak pada harta kita. Sehingga, syari’ah pun mewajibkan mengeluarkan harta ketika sudah sampai batas kewajibannya, yang disebut dengan zakat. Shadaqah pun sangat dianjurkan oleh syari’ah. Nabi pernah bersabda;

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَصَدَّقُوا وَدَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ، فَإِنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ عَنِ الْأَعْرَاضِ وَالْأَمْراضِ، وَهِيَ زِيَادَةٌ فِي أَعْمَالِكُمْ وَحَسَناتِكُمْ

Hadits di atas menjelaskan tentang faidah mengeluarkan shadaqah, yakni agar terhindar dari musibah hendaklah untuk berbagi antar sesama. Meski secara lahiriyah harta berkurang namun hakikatnya ia selalu bertambah. Itulah sebenarnya orang yang kaya harta.

Sekarang kita berada dalam hiruk-pikuk covid-19, pandemi yang belum jua usai, hingga membuat banyak masyarakat kebingungan hanya sekadar untuk bertahan hidup. Sehingga akibatnya, kejahatan semakin merajalela terjadi di mana-mana, terlebih pencurian. Ekonomi yang kian krisis ditambah lagi dengan banyaknya orang yang kita sayangi dipanggil berpulang ke Rahmatullah. Anak ditinggal ayahnya, ditinggal ibunya, istri ditinggal suaminya dan sebaliknya. Begitu banyak ujian yang kita alami. Ini bukan hanya tugas personil saja, bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu, tapi merupakan tanggung jawab kita bersama apalagi yang masih memiliki banyak nikmat yang dianugerahkan oleh Allah. Kita syukuri nikmat itu dengan cara membagikannya pada mereka yang membutuhkan.

Saling membantu, gotong royong antar sesama, alhamdulillah masih kental terlebih masyarakat kami di Madura, apalagi di pedesaan. Namun, kadang di antara kita mau membantu, mambagikan harta, ketika keadaan masih longgar, tenang, normal dan ekonomi stabil. Dan ketika kondisi sudah krisis, kebingungan terjadi di mana-mana, sedikit di antara kita yang masih mengingat sesama, membantu atau menolongnya, yang dipikirkan malah diri sendiri. Padahal, itu adalah kesempatan besar memperoleh pahala yang lebih banyak dan derajat kebaikan yang lebih tinggi. Harusnya kita gunakan kesempatan besar itu sebaik mungkin untuk mencapai perubahan yang lebih besar. Cobalah memandang kesempitan sebagai kesempatan bukan malah kesempatan sebagai kesempitan. Perubahan suatu kelompok butuh kerja sama dan sama kerja dari masing-masing personil kelompok tersebut. Allah berfirman dalam surah Ar-Ra’du ayat 11;

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Banyak kebaikan-kebaikan yang bisa kita lakukan terlebih di masa pandemi yang belum kunjung usai ini, malah kesempatan besar membantu sesama. Dengan kita mematuhi protokol kesehatan, itu sudah termasuk kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun untuk orang lain.

Situasi yang serba tak pasti dapat memengaruhi kesehatan kita, baik fisik maupun psikis. Terlebih dahulu bangun kesehatan diri kita sendiri. Jagalah fisik kita dengan meningkatkan imunitas tubuh. Tidak perlu latihan yang terlalu berat, sederhana saja tapi jadikan sebagai rutinitas, aktivitas kita setiap hari. Semisal dengan berjalan kaki di sekeliling rumah, minum air lebih banyak, mengatur waktu tidur dengan lebih baik. Psikis juga sangat perlu dijaga. Lakukan hal-hal yang membut kita senang, stres mengurang, dan nyaman. Misal dengan membaca buku, komik, bincang-bincang dengan teman, bersua dengan teman lama, no-tube, dll, asal membuat kita senang dan nyaman.

Bukan hanya psikis, tapi juga ada yang tak kalah pentingnya, dan itu diajarkan dalam Islam, yaitu spiritual [kerohanian]. Ketika spiritual semakin matang, maka kekuatan doa semakin meningkat pula. Kematangan spiritual mengalahkan segala kejelekan. Terbukti dengan tidak banyaknya santri [terlebih di pondok penulis sendiri sejauh ini tidak ada yang terkapar covid-19] yang terjangkit virus corona apalagi pesantren salaf yang berpegang teguh pada kesalafannya serta mengamalkan amalan-amalan yang warid dari nabi ataupun dari para ulama’. Sehingga, banyak sekali kita temukan amalan-amalan untuk terlindungi dari penyakit, virus dan semacamnya. Tinggal bagaimana keyakinan kita. Allah sendiri berfirman dalam hadits qudsi;

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ

Ketenangan dapat kita peroleh dengan kekuatan spiritual, yaitu dengan banyak beribadah, berdzikir dan mengingat Allah. Allah berfirman dalam surah Ar-Ra’du ayat 28;

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Untuk menangani mereka-mereka yang masih terjangkit virus corona, bisa kita bantu dengan kekuatan sebagaimana penulis sebutkan di atas; fisik, psikis dan spiritual. Misal, mengirimkan makanan kepada mereka yang kebetulan menjalani isolasi mandiri di rumah, membuat mereka senang, nyaman, tak ada tekanan apa-apa. Kita bisa mengajaknya main-main, berbincang, main game, dll. Memberi peringatan untuk mematuhi protokol kesehatan, atau juga dengan memperbanyak doa untuk sesama, istighatsah bersama, membaca burdah bersama, dll. Agar hasilnya maksimal kita harus sinergikan tiga kekuatan di atas.

Cara lain juga yang bisa kita lakukan adalah dengan membeli di toko lokal, restoran, atau rumah makan lokal. Apalagi mereka para pedagang kaki lima, menjual gorengan di pinggir jalan ditambah lagi ia sudah tua, cobalah membelinya di sana, karena terkadang sesuap nasi pun mereka menunggu pembelian kita atau juga dagangannya laku di samping mereka memiliki keluarga. Dengan kita membelinya di sana, secara tidak langsung kita sudah membantu mereka. Dan juga hal itu akan membuat ekonomi stabil sekaligus merata.

Bagi mereka yang tidak punya apa-apa, hidup sendirian, lebih-lebih anak yatim, kita bisa melakukan kebaikan padanya dengan mengadakan acara santunan yatim, memberikan pendidikan, atau juga dengan mengasuhnya. Kita galangkan dana untuk mereka sebagai biaya pendidikannya atau juga sebagai modal untuk usaha. Bukan hanya memberi mereka makan saja, karena hal itu akan habis dalam waktu dekat, dan akan membuat mereka merasa nyaman sesaat dan tidak dapat mandiri. Oleh karena itu, cara yang lebih efektif dan efesien dalam rentang waktu yang panjang sebagaimana penulis katakan, memberi mereka pendidikan atau modal untuk usaha, agar menyadari betapa pentingnya berjuang dan berusaha serta dapat mandiri. Semisal, kita belikan mereka alat sesuai bakat mereka masing-masing, seperti mesin jahit bagi yang bakat menjahit, dan sebagainya. Dengan ini, kita tidak hanya membantu mereka sekadar untuk hidup dengan berpangku tangan pada orang lain, tapi juga menjadikannya mandiri, dan cara itu juga dapat mengentaskan kemiskinan.

Jika kita tidak punya materi atau barang yang bisa diberikan, bukan berarti sudah tidak punya kesempatan melakukan kebaikan. Semisal, dengan kita membentuk komunitas atau kelompok untuk menggalangkan dana, seperti meletakkan wadah penyediaan bagi yang mau menyumbang. Dapat dengan membuat mereka tenang, senang, nyaman, percaya diri atau juga dengan mengajarkan mereka sesuai bakat diri kita sendiri, seperti melukis, dll, serta masih banyak sekali kebaikan yang bisa kita lakukan.

Terakhir! Tetaplah berjuang kawan dan terus semangat. Kondisi demikian, tak lain dan tak bukan kecuali untuk menguji ketangguhan diri kita dan kesungguhan kita dalam berjuang. Hidup mandiri, tidak hanya berpangku tangan pada orang lain. Bantu mereka yang membutuhkan. Karena kita sama-sama makhluk tuhan, hidup bersosial, satu sama lain punya hukum kausalitas antara hak dan kewajiban. Cobalah memberi sebelum menerima. Berikan hal paling berharga dan paling bermanfaat sebelum kita mati. Maka kita akan hidup setelah mati. Guru sekaligus motinator saya, RKH. Moh. Thohir pernah berdauh; “Jangan Sampai Meninggal Sebelum Mati, Bahkan Hiduplah Setelah Mati.” Wallahu a’lam bis shawab.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, siswa kelas 12S1 Madrasah Aliyah Mambaul Ulum Bata-Bata.