Hijrah Dalam Teknologi

ADMINPESANTREN Jumat, 15 Oktober 2021 07:37 WIB
444x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Suud Sarim Karimullah*

Hijrah merupakan suatu proses untuk melakukan perubahan ke suatu arah yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya, yang hijrah dari kehidupan sosial penduduk Mekkah yang masih dihuni oleh orang-orang jahiliah menuju kehidupan sosial penduduk Madinah yang telah menerapkan tatanan kehidupan dengan baik. Dengan adanya peristiwa hijrah inilah, maka umat muslim akhirnya bisa melaksanakan segala ajaran agamanya dengan baik, tanpa takut terganggu dan terkontaminasi oleh berbagai tradisi masyarakat jahiliah.

Jika bersandar atas peristiwa hijrah yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya, maka fenomena hijrah yang lagi trend pada zaman sekarang juga bisa dikatakan sebagai perubahan seseorang menuju kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam Al-Qur’an sendiri, kata hijrah disebutkan di beberapa surah, seperti QS. Al-Baqarah [2] ayat 218, QS. An-Nisâ’ [4] ayat 100, QS. Al-Anfal [8] ayat 74, dan QS. At-Taubah [9] ayat 20.

Hijrah dalam teknologi yang berbasis pada digital adalah perubahan cara pandang, berpikir dan tindakan dari penggunaan media yang masih bersifat manual ke teknologi digital yang lebih modern, yang disertai dengan penguasaan, keahlian dan keterampilan terhadap media tersebut. Selain itu, sangat penting juga untuk melakukan pengawasan dan pengendalian peran teknologi dengan baik dan benar, supaya kemajuan teknologi memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia secara menyeluruh, khususnya generasi muda Indonesia termasuk juga para santri yang merupakan agen risalah kenabian.

Kemajuan teknologi telah membentuk gaya hidup digital (digital life) di kalangan umat muslim modern yang memiliki global mindset dengan memanfaatkan teknologi secara maksimal. Pada era sekarang, kemajuan teknologi yang berdampak terhadap perubahan sosial sedang melaju dengan begitu cepatnya sehingga kita harus bisa mengendalikannya agar tidak hanya menjadi korban yang dengan mudah untuk dimanfaatkan. Bahkan lebih dari itu, kita bisa dijajah oleh kelompok tertentu melalui kejahatan berbasis online (cybercrime). Sedangkan jika kita mampu untuk mengendalikan kemajuan teknologi yang berdampak pada perubahan sosial, maka kita dapat dengan mudah mengendalikan peradaban dan membangun tatanan umat yang jauh lebih baik lagi. Selain itu, kita juga harus ikut serta dalam mewujudkan teknologi baru yang jauh lebih canggih.

Peranan teknologi memasuki era Society 5.0 berimplikasi saat hadirnya pandemi Covid-19, yang dapat ditemukan berbagai larangan untuk berkumpul dan beraktivitas secara massal di luar rumah memaksa semua orang untuk menjalankan segala aktivitas dilakukan secara virtual dengan memanfaatkan berbagai media sosial yang merupakan salah satu hasil dari kemajuan teknologi di era Society 5.0. Pada era Society 5.0 merupakan sebuah era super smart society yang bertumpu pada masyarakat, yang mampu menyelesaikan berbagai problematika sosial kehidupan dengan basis teknologi.

Pada era society 5.0 yang sedang berlangsung sekarang banyak ditemukan dan bermunculan berbagai jenis pekerjaan baru yang memiliki basis terhadap teknologi. Bahkan dalam proses belajar ataupun bekerja terkadang untuk memperoleh sebuah hasil yang memuaskan dan maksimal dilakukan dengan bantuan teknologi sebab lebih efisien dibandingkan dengan cara yang manual. Pada Society 5.0 sendiri adalah suatu konsep yang dipopulerkan oleh pemerintah Jepang pada tahun 2019, yang bertujuan untuk melakukan antisipasi atas berbagai gejolak disrupsi yang diakibatkan oleh revolusi industri 4.0.

Pada era Society 5.0 memiliki pusat terhadap manusia (human centered) dengan berbasis teknologi (technology based) sebagai bentuk pengembangan dari hasil revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi mendegradasi terhadap berbagai peran manusia. Melalui society 5.0 dengan adanya kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan mentransformasi jutaan data (big data) yang dikumpulkan melalui internet pada segala bidang kehidupan (the Internet of Things) dan rekayasa genetik (bioteknologi modern) serta robot yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pada manusia sehingga menjadi hal yang baru, yang akan didedikasi untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh manusia sehingga membuka peluang-peluang bagi kehidupan masa depan yang lebih baik.

Pada era society 5.0, kemajuan teknologi dan perkembangan sosial terjadi sangat luar biasa dan telah mewujudkan sebuah perubahan yang sangat drastis dalam kehidupan sosial yang terjadi saat ini. Perubahan pada mulanya bisa dirasakan melalui sosialisasi, cara untuk berkomunikasi, memperoleh berbagai informasi sampai cara untuk berpikir dan melakukan tindakan atas persoalan yang sedang dihadapi. Kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu berpikir kritis dan inovatif dalam belajar ataupun untuk meningkatkan produktivitas dalam bekerja.

Pemanfaatan Teknologi

Kemajuan teknologi harus dimbangi dengan tingkat intelektualitas seseorang agar segala informasi yang mudah diperoleh tidak dengan secara mudah ditelan dan diterima tanpa membendung dan dilakukan filterisasi terhadap informasi tersebut, sebab tidak menutup sebuah kemungkinan atas berbagai informasi yang tersebar dalam dunia maya merupakan informasi yang tidak real dan tidak benar adanya. Oleh sebab itulah, kita harus lebih selektif dan bijak dalam menerima berbagai informasi yang bertebaran di dunia maya agar menjadi manusia yang bijak dalam menangani persoalan tersebut.

Kemajuan teknologi yang begitu cepat mengakibatkan akses informasi seluruh dunia bisa diketahui dengan melalui sosial media. Kecanggihan teknologi yang dikembangkan atas kemampuan kritis, inovatif dan produktif yang dimiliki oleh manusia benar-benar mendatangkan manfaat tanpa harus mengabaikan dampak buruknya juga. Segala aktivitas manusia menjadi begitu mudah untuk dilakukan hanya dengan memanfaatkan keberadaan teknologi yang sedang mengalami kemajuan saat ini sehingga semuanya lebih efisien. Begitupun kemajuan teknologi bisa untuk dimanfaatkan dengan sebaik mungkin di kalangan para santri. Meskipun santri merupakan seseorang yang tinggal di lingkungan pesantren dengan kehidupan yang serba terbatas dan sulitnya untuk mengakses teknologi.

Pada kehidupan atas keterbatasan tersebut seharusnya tidak dijadikan beban untuk terus berpikir kritis, inovatif dan produktif sehingga tetap selalu berkreasi dan update atas berbagai informasi sebab seorang santri adalah seorang pribadi yang mempunyai kemampuan spiritualitas, intelektualitas dan sikap sosial yang tinggi, maka sangatlah dibutuhkan peran santri untuk ikut andil dalam memberikan pengaruh untuk menyebarkan informasi yang baik dalam dunia nyata ataupun dunia maya dengan tetap berpegang teguh atas nilai-nilai agama dan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, santri pun harus bisa melek terhadap dunia teknologi dan informasi, sebab seorang santri selain menjadi agen risalah kenabian juga menjadi agent of intellectual, agent of change, agent of social control, dan moral force, yaitu orang-orang yang dipersiapkan untuk membina dan menata kehidupan masyarakat dengan baik.

Para santri bisa memanfaatkan teknologi dengan sebaik mungkin untuk menambah wawasan keilmuan tentang Islam dengan tetap selektif ketika hendak mencari sumber referensi. Pada zaman dulu sebelum terjadi kemajuan teknologi secara pesat seperti yang terjadi pada saat ini, sudah banyak ditemukan seorang santri yang inovatif dan kreatif, akan tetapi untuk memperoleh sebuah hasil yang lebih baik, mereka memerlukan waktu yang cukup lama sebab kekurangan akses informasi dan dukungan atas teknologi. Sekarang berkat kemajuan teknologi, para santri semakin berpikir kritis dan inovatif serta melakukan kreasi baru di berbagai aspek yang dapat memudahkan dan menjadikan proses pembelajaran di pesantren berjalan secara kondusif dengan basis teknologi meskipun masih terbatas.

Semangat Berhijrah ke Teknologi

Semangat untuk berhijrah ke teknologi harus dilengkapi dengan bekal yang cukup sehingga tidak asal main hijrah, yang nantinya hanya menjadi sebagai agen penyebar berita hoaks. Pastikan bekal tersebut harus cukup, yang antara lain: pertama, melakukan pengasahan diri terhadap hard skill yang merupakan kemampuan yang biasanya diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan pengulangan secara konsisten. Pada keterampilan ini merupakan faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam berhijrah ke teknologi sehingga bisa memanfaatkan dunia digital dengan baik, yang salah satunya dalam melakukan persaingan ekonomi global melalui penggunaan sosial media, seperti facebook, google, youtube dan yang lainnya.

Kedua, memperkaya diri dengan soft skill yang merupakan keterampilan non teknik, yang memiliki relasi dengan pekerjaan seseorang melalui pembentukan pola pikir secara kritis, kebiasaan secara fokus dan konsisten dengan kemampuan dalam pengaturan waktu (time management) serta bisa berkolaborasi dengan teman sejawat. Ketiga, selalu mencoba hal yang baru dengan memperkaya pengalaman yang disertai dengan praktik sehingga memiliki sifat yang selalu optimis untuk terus berusaha dan mencoba hal baru. Keempat, menguasai berbagai bahasa asing yang merupakan salah satu langkah untuk bisa bersaing di era digital yang terjadi saat ini. Kemampuan dalam berbahasa asing bisa dengan mudah untuk melakukan komunikasi dengan orang luar sehingga akan mendapatkan pengetahuan dan relasi yang lebih luas.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus Divisi Pendidikan DPW Ikatan Mahasiswa Bata-Bata Turki