Akhlaq; Kunci Utama Memanusiakan Pendidikan

ADMINPESANTREN Selasa, 9 November 2021 06:00 WIB
353x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Samsul Arifin*

Pendahuluan

Dalam hidup, manusia haruslah memiliki pegangan yang menjadi penghubung antara dia dan Tuhannya. Tujuan pendidikan, sebenarnya tidak lepas dari tujuan akhir hidup manusia itu sendiri, yaitu beribadah kepada Allah. Sejak lahir, manusia telah memiliki sifat sosial. Untuk mengembangkan sifat sosialnya dengan baik, maka pendidikan merupakan media yang efektif untuk melatih seseorang agar lebih peka terhadap masalah sosial kemasyarakatan serta memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan masyarakat yang belum baik.

 Terdapat dua hubungan interaksi yang menjadi keniscayaan pada diri manusia, yaitu, interaksi sosial secara vertikal (memanjang) dan horizontal (membentang). Keduanya harus benar-benar dijaga, dipererat dan dipelihara dengan baik. Oleh karenanya, terdapat dua unsur pokok yang tidak bisa terlepas dalam mencapai kesuksesan pendidikan, yaitu ilmu dan amal. Membentuk perilaku, karakter, budi pekerti yang baik merupakan tujuan dan peran utama pendidikan, yang diharapkan mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang tangguh, bijak, continue dan profesional.

Ada tiga potensi dalam tahap-tahap penguasaan yang merupakan tujuan khusus pendidikan, yaitu potensi intelektual, potensi jasmani, dan potensi karakter. Bimbingan ketiga potensi ini terjadi pada proses pendidikan, sementara inti dari proses pendidikan adalah belajar mengajar. Pendidikan intelektual merupakan peningkatan intelektualitas dan latihan secara teratur untuk selalu berpikir positif dan benar. Pendidikan jasmani merupakan usaha untuk menguatkan, menumbuhkan serta memelihara kesehatan organ-organ tubuh dengan baik. Dengan itu peserta didik diharapkan selalu sehat dan mampu menghadapi berbagai macam penyakit. Pendidikan karakter yaitu usaha untuk meluruskan naluri dan kecenderungan fitrah yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain dan membentuk rasa kasih sayang yang mendalam. Dengan demikian seseorang akan selalu melakukan kebaikan, menjauhi keburukan serta perbuatan yang dapat merugikan orang lain, dan akan selalu terinspirasi untuk meningkatkan kemajuan dan kemaslahatan di muka bumi ini.

Peserta didik dalam dunia pendidikan merupakan komunitas sosial yang berada dalam proses perkembangan dan tidak lepas dari peran seorang pendidik sebagai sosok pribadi yang memiliki potensi, motivasi, cita-cita, pengalaman, perasaan dan aktualisasi diri. Lembaga pendidikan yang baik, tidak hanya menuntut peserta didik melakukan sesuatu, tetapi juga memberikan keteladanan kepada peserta didik.

Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab atas anak didiknya. Pendidik memiliki kedudukan yang sangat penting. Lembaga pendidikan yang unggul adalah yang mengunggulkan dan meninggikan derajat pendidiknya. Sehingga, interaksi sosial terpenting dalam pendidikan, yaitu interaksi yang baik antara pendidik dan peserta didiknya.

Secara garis besar, pendidik ada empat. Pertama: Allah SWT. Sebagai pendidik pertama, Allah menginginkan hambanya menjadi baik di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah mengutus para Rasul-Nya untuk menyampaikan risalah dari Allah demi kepentingan hamba-Nya. Kedua: Rasulullah sebagai pendidik kedua. Rasulullah membawa peraturan yang disyari’atkan Allah dan mensucikan manusia dari akhlak-akhlak yang tidak elok. Ketiga: orang tua sebagai pendidik ketiga. Orang tua merupakan orang pertama yang menjadi panutan dalam keseharian anak dan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam mendidik dan mengusahakan keberhasilan anak di dunia dan akhirat. Keempat: orang lain sebagai pendidik keempat. Sebagai contoh dalam Al-Quran diinformasikan tentang kisah Nabi Musa yang diperintah untuk mengikuti nabi Khidir dan mengambil hikmah kehidupan darinya.

Akhlaq sebagai Kunci Memanusiakan Pendidikan

Hanya saja, saat ini memanusiakan pendidikan menjadi sangat penting. Dengan artian, seseorang yang berpendidikan dituntut untuk tidak hanya sekedar memiliki ilmu mengambang di lisan dan ter-save dalam otak, tapi bagaimana ilmu itu dikirim dan diproses dalam hati, lalu disalurkan ke seluruh elemen-elemen tubuh, dan diwujudkan dengan adanya aksi. Sebab, sebanyak apapun pengetahuan yang didapat, jika tidak disalurkan pada semua elemen-elemen tubuh, apalah artinya. Pengamalan ilmu pengetahuan suatu keharusan. Suatu keharusan juga bagi orang yang berilmu untuk memberikan ilmu pengetahuannya kepada orang yang membutuhkan. Rasulullah SAW menyamakan ilmu dan petunjuk yang beliau bawa dengan hujan lebat yang membasahi bumi:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ (متفق عليه)

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala’, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah. Di antara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. perumpamaan itu adalah seperti orang yang paham agama Allah dan dapat memanfaatkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya". (HR. Bukhari No. 77 & Muslim No. 4232)

Dari seluruh uraian di atas, ada yang paling penting darinya, yang menjadi ruh dari segalanya, yaitu, akhlak dan budi pekerti yang baik. Akhlak menjadi begitu fundamental peranannya ketika berinteraksi dengan sesama manusia, lingkungan, bahkan tuhan. Sebagaimana Rasulullah saw diutus ke muka bumi ini salah satu misi yang diembannya adalah untuk menyempurnakan akhlak dan budi pekerti manusia, dengan suri tauladan yang baik, bukan dengan sekedar anjuran ataupun perintah saja. Allah SWT. berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم : ٤)

Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S. al-Qolam [68]: 3)

Penutup

Pendidikan memang merupakan kebutuhan dan hak setiap orang. Bahkan dengan segala kemajuan di era digital ini, manusia dituntut untuk selalu berimajinasi, berkreasi, dan berinovasi demi mewujudkan cita-cita pendidikan yang beradab dan berperi kemanusiaan. Di samping itu, manusia dituntut untuk memanusiakan, mengimplementasikan, dan mengaplikasikan keilmuannya dengan hiasan akhlak dan budi pekerti yang luhur, sebagaimana Motto Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, “Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya dari pada Kecerdasan”. Wallahua’lam bis shawab.      

* Santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, pengurus Klasik, dan duduk di kelas 12 MA Intensif.