Islam Ada Saatnya Berkawan Juga Melawan

ADMINPESANTREN Ahad, 14 November 2021 06:14 WIB
184x ditampilkan Galeri Headline Resensi

Oleh: Moh. Makinun Amien*

Judul Buku: Musuh Besar Umat Islam

Penulis: KH. Lutfi Bashori

Penerbit: Pustaka Muba

Cetakan: 2019

Diskripsi Fisik: xxxii, 304 hlm; 20,5 cm

ISBN: 978-602-53753-1-6

Suatu ketika Rasulullah diajak orang-orang kafir untuk menyembah berhala bersama mereka, dengan tawaran dilain waktu mereka juga akan menyembah Allah bersama Umat Islam. Rasulullah menolak dengan tegas ajakan mereka, bahkan Allah menurunkan ayat al-Kafirun. Yang artinya: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. (hal: 59). Dengan sederhana dapat dipahami bahwa dalam urusan akidah merupakan hak paten tidak bisa ditawar dengan apapun.

Dalam buku “Musuh Besar Umat Islam” karya KH. Lutfi Bashori ini menjelaskan secara sistematis tentang musuh umat Islam sejak dulu hingga sekarang, ayat al-Qur’an sebagai sumber utama Islam pun juga tak luput menjelaskan bahwa orang kafir adalah musuh yang nyata (Q.S. an-Nisa’ 101). Berbagai macam propaganda mereka lakukan agar umat Islam mengikuti Agama mereka, lihat (Q.S. al-Baqarah. 120). Aktivitas tersebut mungkin tak akan terjamah oleh mata telanjang. Jika kita amati, sudah tidak sedikit umat Islam yang termakan hasil propaganda tersebut, dari cara berpikir, bertindak, dan berucap sudah tidak lagi memancarkan nilai ke-Islam-an yang penuh dengan kerahmatan.

Seperti yang diuraikan dengan jelas dalam buku, tentang musuh umat Islam saat ini bisa dipetak menjadi dua bagian; Internal dan Eksternal. Pertama, Internal Umat Islam: sudah bukan hal yang asing istilah dari Islam Liberal dan Radikal, kelompok ini yang merong-rong umat islam, baik dari pemikirannya dengan fartwa kontra produktifnya dan dari tindakannya, hingga membuat islam tercitarakan jauh dari karahmatan. Dua kelompok tersebut berkembang pesat di bumi Nusantara.

Kedua paham itu masih beranak pinak paham lain, umpama liberal yang mengandung banyak paham seperti; Sinkretisme, Pluralisme, skularisme, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan kelompok radikal dengan terorisnya, ISIS, Al-Kaedah, dan yang sejenis. Sehingga, Islam bukan hanya tercitrakan negatif, dengan kelompok yang mengatasnamakan muslim dinamis dengan ketidak sadarannya melalukan sesuatu yang mendekati kemurtadan dalam beragama. Seperti yang ada pada (hal: 180), dilatar belakangi dari tiga pokok; ucapan, perbuatan, dan keyakinan.

Musuh Umat Islam yang Kedua, dari Eksternal umat Islam (non muslim) atau kita kenal dengan istilah Kafir adalah musuh nyata umat Islam seperti penggalan makna ayat di atas. Banyak macam jenis kafir yang diantaranya adalah kaum Majusi (penyembah api), kaum Paganis (Penyembah patung, batu, dan yang sejenis), juga kaum Trinitas. Jika kita Tarik pada konteks ke Indonesiaan yang menyandang predikat muslim terbesar dunia, dan hidup bersama dengan ragam Agama, menjadikan menarik ketika kita telisik, cara berislam umat di Indonesia yang berazaskan Pancasila sebagai pemersatu dari segala.

Islam sebagai agama kerahmatan tidak terbatas hanya untuk golongan tertentu saja, melainkan global untuk semuanya. Begitu pun dengan umat nya, tidak membatasi interaksi dengan umat yang mempunyai keyakinan berbeda, kucuali dalam urusan akidah. Apapun alasannya, termasuk dalam konteks bernegara. Jika semua agama dikatakan benar, tapi hanya bagi setiap pengikutnya. Maka kebenaran tersebut menjadi salah bagi pengikut agama yang berbeda.

*Penulis adalah Ketua Sterring Committee Pekan Ngaji 7 sekaligus mahasiswa pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya.