Relevansi Adab Makan Rasulullah dengan Kesehatan

ADMINPESANTREN Selasa, 16 November 2021 06:19 WIB
264x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri

Oleh: Khairul Anam*

Manusia memang butuh makan demi bertahan hidup. Namun, siapa sangka jika adab makan yang keliru justru mengakibatkan hidup menjadi lebih singkat. Oleh karena itu, adab makan ala Rasulullah dan telah diwariskannya sejak dahulu dapat menjadi acuan menjalani kehidupan manusia yang lebih menyehatkan.

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, agama yang senantiasa membimbing semua penganutnya ke jalan yang diridhoi dengan tuntunan sang baginda Nabi. Tiada yang tidak bisa kita contoh dari kepribadian seorang baginda Rasul. Sosok yang tampak begitu bersahaja, namun tetap tegas dan disiplin dalam urusan agama. Banyak hal yang telah Rasulullah ajarkan kepada umat manusia. Di antaranya adalah tuntunan bagi umatnya di saat hendak menyantap makanan. Diriwayatkan dengan shahih bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لاَ آكُلُ وَأَنَا مُتَّكِئٌ

Aku tidak akan makan sambil bersandar”. (HR. Bukhari no. 5399)

Beliau juga pernah bersabda:

إِنَّمَا أَجْلِسُ كَمَا يَجْلِسُ الْعَبْدُ, وَاَكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ

“Sesungguhnya aku duduk sebagaimana layaknya seorang hamba duduk. Aku juga makan sebagaimana seorang hamba makan”.

Diriwayatkan dari Ibnu Majah dalam sunan-nya:

أَنَّهُ نَهَى اَنْ يَأْكُلَ الرَّجُلُ وَهُوَ مُنْبَطِحٌ عَلَى وَجْهِه

Rasulullah pernah melarang seseorang makan sambil menelungkup”.

Kata ‘bersandar’ dalam hadits pertama di atas ditafsirkan (sebagian ulama) dengan makna bersila. Ada juga yang menafsirkan bersandar pada sesuatu. Ada juga yang menafsirkan bahwa artinya adalah bersandar ke samping.

Salah satu dari tiga pengertian itu, bersandar ke samping ialah yang disinyalir berbahaya dilakukan saat makan. Sebab hal itu bisa menghalangi proses masuknya makanan secara alami dalam kondisi yang wajar sehingga akan sulit mencapai lambung bahkan bisa berakibat menekan lambung dan lambung tidak siap menerima makanan. Adapun dua penafsiran lainnya, termasuk cara duduk orang-orang yang sombong, berkebalikan dengan duduknya seorang hamba. Oleh sebab itu, Rasulullah bersabda:

اَكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ

Aku makan sebagaimana seorang hamba makan”

Diriwayatkan juga bahwa beliau pernah makan sembari duduk tawarruk di atas kedua lututnya, telapak kaki kirinya diletakkan di punggung telapak kaki kanannya. Beliau melakukan itu karena ketawadhuan beliau terhadap Rabb-nya, demi menjaga adab di hadapan-Nya, demi menghormati makanan dan orang yang makan bersama beliau.

Cara duduk yang beliau lakukan itulah merupakan cara duduk yang paling bermanfaat dan posisi duduk terbaik pada saat makan. Salah satu alasan dikatakan posisi duduk terbaik ketika makan karena pada saat itu, seluruh organ tubuh berada pada posisinya yang alami sebagaimana diciptakan oleh Allah SWT. Posisi semacam itu juga merupakan cara duduk yang beradab baik dengan makanan yang ada di depannya terlebih lagi dengan Rabb-nya (adab-adab yang mulia).

Selain itu, makanan akan terkonsumsi dalam kondisi terbaik karena posisi duduk yang diambil juga merupakan posisi terbaik saat makan (posisinya sangat alami seperti ketika diciptakan). Itu hanya bisa terjadi tatkala seseorang duduk dengan tegak lurus.

Sedangkan cara duduk yang terburuk saat makan adalah dengan bersandar ke arah samping, dengan alasan yang telah disebutkan di atas. Usus kecil dan berbagai organ metabolisme akan menyempit dalam kondisi demikian, sementara lambung sendiri tidak berada pada posisi yang alami, karena posisinya justru tertekan ke lantai.

Sedangkan kalau yang dimaksudkan dengan bersandar di sini adalah bersandar di atas bantal atau kasur yang berada di bawah pinggul saat orang duduk, maka artinya bahwa Rasululllah saat makan tidak sambil menduduki bantal dan sejenisnya seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang sombong dan mereka yang gemar makan. Akan tetapi yang beliau lakukan adalah makan dengan duduk seperti yang dilakukan oleh seorang hamba.

Adapun kebiasaan beliau ketika mengambil makanannya adalah dengan menggunakan tiga jarinya (shohih Muslim 2032). Sikap seperti itu merupakan cara terbaik dalam makan. Sebaliknya jika makan dengan menggunakan dua jari atau satu jari amatlah tidak nyaman bagi orang yang makan, tidak menyenangkan dan akan lama untuk bisa membuat kenyang. Sementara organ-organ pencernaan juga tidak merasa nyaman saat menyambut suap demi suap makanan yang terpaksa ditelan.

Lebih dari itu, jika seseorang menyantap makanan dengan lima jari, apalagi ditambah dengan telapak tangan, akan menyebabkan makanan menyerbu lambung dan organ-organ percernaan, sehingga lambung dan organ-organ percernaan harus bekerja dengan begitu keras. Bahkan bisa jadi seluruh organ tersebut akan kepayahan dan menyebabkan kematian atau setidaknya menyesakkan lambung dan organ percernaan lainnya sehingga lambung sendiri tidak mampu menahannya dan pada akhirnya tidak merasa enak dan nyaman.

Cara makan terbaik adalah cara makan Rasulullah atau siapa saja yang mengikuti cara beliau, yaitu makan dengan duduk (tegak lurus) dan dengan tiga jari. Perlu diketahui juga, setiap orang yang memerhatikan segala sesuatu yang dimakan Rasulullah ketika makan, pasti akan ditemukan bahwa Rasulullah tidak pernah menggabungkan dua unsur makanan yang saling berlawanan seperti antara jenis makanan berserat kasar dengan yang berunsur pencahar, antara yang sulit dicerna dengan yang mudah dicerna, antara makanan panggang dengan makanan yang dimasak, antara yang segar dengan yang sudah didendang atau yang dikeringkan.

Beliau juga tidak menyantap makanan di saat panas, makanan yang dihangatkan, berbau amis, terlalu asin dan makanan-makanan yang diawetkan. Semua jenis makanan tersebut memang berbahaya dan dapat mengganggu kesehatan dan kondisi yang prima.

Beliau terkadang menyempurnakan gizi makanan lain selagi beliau mampu, seperti: saat beliau menyantap mentimun dengan kurma atau menyantap kurma dengan minyak samin. Beliau juga biasa meminum jus kurma untuk menetralisir makanan-makanan yang tajam.

Rasulullah juga melarang tidur sesudah makan. Beliau menyatakan bahwa itu termasuk penyebab kerasnya hati. Oleh karena itu, medis sudah menyatakan bahwa “Jika ingin menjaga kesehatannya, seseorang setelah bersantap malam hendaknya ia berjalan beberapa langkah agar makanan yang dimakannya diproses dengan baik.” Dalam hal ini para dokter muslim menganjurkan agar supaya dibawa sholat.

Semua yang sudah dijelaskan di atas adalah bagian dari pada Sunnah Rasulullah yang semestinya dijalani oleh umat muslim. Pola hidup yang teratur ala Rasul tentunya akan berdampak positif bagi kesehatan. Tiada hal yang diwariskan oleh Rasulullah kepada umatnya menyalahi fitrah kesehatan bagi secara teoritis apalagi dikerjakan dengan praktis. Wallahu a’lam bis shawab.

* Penulis adalah pengurus Asrama Kelas Akhir Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata