Rekontruksi Karakter Masyarakat Melalui Pendidikan Pesantren di Era 4.0

ADMINPESANTREN Jumat, 19 November 2021 06:39 WIB
261x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Muhammad Amin*

Era 4.0 merupakan era dimana masyarakat dituntut untuk bertransformasi dari manual menuju digital. Hal semacam itu berdampak pada pola hidup masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Dulu, orang-orang desa dikenal dengan masyarakat yang marginal, kolot, kurang update, namun saat ini pelabelan semacam itu sudah tidak relevan lagi seiring dengan perkembangan zaman. Kecanggihan teknologi mempermudah semua orang untuk mengakses informasi, baik yang bersifat regional, nasional, dan bahkan international.

Kecanggihan teknologi tidak hanya memiliki dampak positif saja, melainkan juga berdampak negatif terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat, terutama bagi kaula muda yang masih labil dan cenderung tidak dewasa dalam menggunakan teknologi. Seperti halnya mereka yang aktifitasnya hanya melototi layar SmartPhone bermain game online, aplikasi hiburan, dan nonton konten-konten yang sama sekali tidak bermanfaat bagi dirinya. Pada akhirnya informasi dan tontonan tersebut menjadi referensi dalam melakukan aktifitas sehari-harinya meskipun tidak sesuai dengan standar etika yang berlaku.

Akhir-akhir ini, banyak berita beredar di stasiun televisi dan media sosial tentang problematika yang sangat memilukan dan memalukan, setelah dianalisis secara komprehensif masalah tersebut merupakan sebab akibat dari penggunaan media informasi, seperti terjadinya kontak fisik antar individu disebabkan kesalah pahaman dalam menyikapi informasi yang beredar melalui Whatsapp, Facebook, Twitter, dll. Hal semacam itu tentunya butuh terhadap penyegaran pikiran agar tidak mudah baper dalam bermedia sosial yang tentunya melalui penanaman karakter religius.

Karakter religius sangat urgen dalam kehidupan, berfungsi sebagai filter dari ancaman-ancaman perubahan zaman yang dipelopori oleh kecanggihan teknologi. Tanpa adanya filter yang kuat, manusia akan mudah terhanyut oleh derasnya serangan-serangan negatif dari kelompok orang yang sengaja ingin menghancurkan golongan tertentu dengan cara-cara mutakhir melalui tontonan-tontonan yang bersifat hiburan, hingga akhirnya kelompok yang diserang akan merasa nyaman dan tanpa disadari pola pikir dan tindakannya berubah secara darastis.

Sebagai contoh kasus, banyak dari kalangan pemuda melakukan tindakan a moral seperti seks bebas, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, tindak kriminal berupa pencurian, penganiayaan, dan bahkan membunuh orang tuanya. Adapun dampak negatif dari teknologi informasi sebagai berikut:

1. Pelanggaran Hak Cipta atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Salah satu dampak dari perkembangan teknologi digital adalah pelanggaran hak cipta atau hak kekayaan intelektual (HKI) yang dilakukan oleh individu tertentu. Sangat banyak karya berhak cipta yang ada di internet, diambil dan digunakan tanpa meminta izin pencipta. Misalnya pembajakan musik, pembajakan film, pembajakan buku cetak juga merupakan contoh pelanggaran hak cipta. Tindakan tersebut, sangat merugikan pencipta.

2. Beredarnya informasi digital yang tidak sesuai dengan fakta (hoax)

Informasi digital yang tidak sesuai dengan fakta atau kebenaran yang dikenal dengan istilah hoax merupakan dampak negatif di era digital. Hal tersebut terjadi karena rendahnya literasi informasi digital masyarakat. Penyebaran hoax dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, dengan memutarbalikkan fakta tertentu hingga membuat kegaduhan publik. Maka dari itu, untuk menghindari hoax, masyarakat harus dibiasakan untuk memilah informasi tersebut dari berbagai sumber digital yang jelas dan terpercaya.

3. Adanya budaya malas gerak (mager) karena pengaruh penggunaan teknologi digital

Salah satu dampak negatif yang dirasakan adalah adanya budaya malas gerak (mager) yang terjadi karena pengaruh penggunaan teknologi digital. Di era digital yang semakin canggih, masyarakat tidak pernah lepas dari alat teknologi digital seperti gadget. Berbagai platform digital yang sudah tersedia di dalam sebuah gadget, membuat penggunanya merasa kecanduaan tanpa memperhatikan waktu dan kesehatan. Oleh karena itu perlu komitmen dari pengguna teknologi digital untuk membagi waktu dalam menggunakan teknologi digital dan melakukan aktivitas yang bergerak.

4. Adanya penipuan digital yang mengatasnamakan orang lain

Penipuan digital terjadi karena adanya penyalahgunaan data pribadi yang dilakukan oleh oknum dengan kecanggihan teknologi digital. Biasanya korban disebut dengan istilah korban cybercrime. Modus penipuan digital beragam, ada yang mengatasnamakan dengan survei untuk mendapatkan data pribadi, penjualan produk dari harga diskon yang besar, website e-commerce yang tidak resmi, dan sebagainya. Agar tidak terjadinya korban penipuan digital, jangan pernah sembarangan untuk memberikan data pribadi ke orang lain.

5. Pornografi, perjudian, penipuan, tayangan kekerasan.

Berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi seperti TV dan internet banyak menayangkan dan menampilakan tindakan-tindakan pornografi, perjudian, penipuan, dan tayangan kekerasan yang dengan cepat ditiru para penikmatnya.

Selanjutnya, dalam Media Informasi, KOMINFO menyebutkan bahwa terdapat empat dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi yaitu, konten negatif, kecanduan, bullying, dan child predator. Bahaya yang cukup sulit dihindari dari empat ancaman tersebut adalah konten negatif. Terkadang anak-anak mengakses konten negatif bukan karena mereka tertarik, melainkan terpapar secara tidak sengaja. “Coba sekarang teman-teman googling konten-konten Islami di google. Di hasil pencarian, coba lihat konten apa yang muncul,”.

Kasus-kasus yang diungkapkan di atas tidak bisa disikapi dengan tenang dan santai, karena hal itu merupakan suatu permasalahan yang sangat serius, jika dibiarkan akan memiliki dampak negetif terhadap karakter masyarakat. Untuk mengantisipasi terjadinya tindakan-tindakan negatif yang merupakan sebab akibat dari ketidak dewasaan dalam pemanfaatan kecanggihan teknologi, penulis telah memaparkan di muka bahwa sangat dibutuhkan yang namanya penanaman karakter religius dalam diri masyarakat terutama bagi kaula muda.

Salah satu cara yang paling efektif dalam rangka penanaman karakter religius yaitu dengan cara memaksimalkan peran pesantren. Mengapa demikian? Karena pesantren merupakan satu-satunya tempat yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan berdasarkan konsep teoritisnya saja, melainkan juga mengajarkan tata cara menginternalisasikan pengetahuan yang diajarkan berdasarkan pemberian contoh teladan dan pembiasaan. Jika ditinjau dari perspektif teori psikologi belajar, maka lengkap sudah dan tidak bisa dibantahkan, karena pendidikan di pesantren meng-cover tiga aspek sekaligus; Kognitif (kemampuan intelektual), Afektif (perasaan dan emosi/sikap), Psikomotorik (perilaku/tindakan). Lebih jelasnya lagi, pesantren mengajarkan santri menjadi manusia yang “Berilmu Amaliyah Dan Beramal Ilmiah”, maksudnya santri dibekali dengan ilmu yang memadai dan dirangsang untuk mengamalkannya, sehingga tindakan-tindakannya berdasarkan ilmu-ilmu yang diketahuinya.

Langkah-langkah penanaman karakter religius di pesantren, penulis mengklasifikasi menjadi lima bagian:

  1. Kebertahapan, artinya proses perubahan, perbaikan, dan pengembangan dilakukan secara bertahap. Seseorang tidak bisa dituntut untuk berubah sesuai yang diinginkan secara tiba-tiba dan instan, namun ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan sabar dan tidak terburu-buru. Orientasi dari kegiatan ini terletak pada proses, bukan pada hasil. Sebab proses pendidikan itu tidak langsung dapat diketahui hasilnya secara instan, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga hasilnya nanti akan paten.
  2. Kesinambungan, artinya perlu adanya latihan yang dilakukan secara terus-menerus. Seberapapun kecilnya porsi latihan, yang penting latihan itu berkesinambungan. Sebab proses yang berkesinambungan inilah yang nantinya membentuk rasa dan warna berpikir seseorang yang kemudian akan menjadi karakter anak yang khas dan kuat.
  3. Momentum, artinya mempergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalnya menggunakan momentum bulan Ramadhan untuk mengembangkan atau melatih sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawanan, dan lain-lain.
  4. Motivasi Intrinsik, artinya karakter akan terbentuk secara kuat dan sempurna jika didorong oleh keinginan sendiri, bukan karena paksaan dari orang lain. Jadi proses merasakan sendiri dan melakukan sendiri adalah penting. Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa mencoba sesuatu akan berbeda hasilnya antara yang dilakukan sendiri dengan yang hanya dilihat atau diperdengarkan saja.
  5. Pembimbing, artinya perlunya bantuan orang lain untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada dilakukan seorang diri. Pembentukan karakter ini tidak bisa dilakukan tanpa seorang guru atau pembimbing.

Penanaman karakter religius agar maksimal harus dilakukan dengan cara-cara yang tepat, yakni dengan internalisasi pendidikannya melalui peneladanan, pembiasaan, penegakan aturan, dan pemotivasian. Hal ini dimaksudkan agar pesantren memiliki nilai diferensiasi dari lembaga-lembaga pendidikan lain yang notabenenya lebih mementingkan pada sisi kognitifnya saja. Berbeda dengan pesantren yang memiliki ciri utama kombinasi antara kecerdasan akal dengan hati nurani.

Dari uraian di atas sangatlah jelas pesantren dan peranannya dalam merekonstruksi karakter masyarakat yang saat ini berada pada fase kehancuran yang tidak lain merupakan sebab akibat dari kecanggihan teknologi yang cendrung disalah gunakan.

Oleh sebab itu, upaya optimalisasi peranan pesantren harus senantiasa ditingkatkan oleh kelompok-kelompok orang yang mempunyai peran serta dalam mengelola pesantren, yakni dengan menjaga nilai-nilai kepesantrenan (tradisi para salafunas sholih), sehingga mampu menghasilkan output yang berguna bagi kehidupan masyarakat luas serta menyebarkan misi “memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat”.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Penulis dapat dihubungi via email ibnoe.khozien@gmail.com