Islam Mengangkat Harkat dan Martabat Perempuan

ADMINPESANTREN Senin, 10 Januari 2022 11:45 WIB
229x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren Pekan Ngaji 7

Bata-Bata — Pelaksanaan The International Event Pekan Ngaji 7 sudah memasuki hari keenam. Sudah berbagai seminar yang terlaksana mulai dari malam pembukaan hingga sekarang. Kali ini panitia menghadirkan Ngaji Keadilan Gender dengan tajuk “Kerjasama Laki-laki dan Perempuan Prespektif Tafsir Mubadalah”. Seminar yang bertempat di mushalla putra tersebut berjalan sukses, Senin (10/01/22).

Pemateri yang dihadirkan oleh pihak panitia yaitu Dr. Imam Nakha’i, M.HI. yang merupakan Komisioner Komnas Perempuan. Beliau didampingi oleh Abdul Basit, S.Pd sebagai moderator.

Dalam penyampaian materinya, Dr. Imam Nakha’i banyak mengulas bagaimana kisah-kisah kelam perempuan di masa jahiliyah terdahulu. Nasib perempuan sebelum datangnya Islam seperti benda yang bebas diperlakukan apa saja oleh pihak laki-laki. Banyak tradisi-tradisi yang menyakitkan bagi kaum perempuan.

“Semisal, perempuan tidak dianggap sebagai manusia. Mereka layaknya benda yang bisa diwariskan dan bisa dihibahkan. Lebih parahnya lagi, keberadaan mereka di masa jahiliyah dianggap sebagai titisan syetan, sedangkan laki-laki diciptakan oleh Tuhan,” ucapnya di pertengahan materi.

Bahkan yang lebih miris, ketika orang tua melahirkan anak perempuan, dia akan menguburnya hidup-hidup. Sebab bagi mereka perempuan yang lahir pada masa itu dianggap hina atau pembawa aib bagi keluarga.

“Sebagaimana yang terjadi pada kisah Umar bin Khattab ra. Sebelum memeluk agama Islam, beliau pernah membunuh anak perempuannya sendiri demi menutup aib keluarganya karena mempunyai kedudukan terhormat di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara, dalam pandangan agama Islam, perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki. Islam membawa perubahan dan mengangkat derajat perempuan menjadi lebih manusiawi. Dalam Islam, perempuan juga mendapatkan hak warisan dan tidak lagi diwariskan. Perempuan juga bukanlah aib keluarga, bahkan turut memiliki peran penting dalam keberlangsungan sebuah keluarga.

“Islam adalah agama yang berkeadilan. Tidak ada yang dibeda-bedakan. Kedudukan semua umat manusia sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya. Hal itu jelas sebagaimana yang terekam dalam Alquran, surah Al-Hujurat ayat sebelas,” pungkasnya.

Ansori, salah seorang audien menanyakan perihal keadilan antara suami dan istri yang sudah bercerai serta hak pengasuhan terhadap anak yang dimiliki keduanya.  “Jika anak tersebut belum tamyiz, maka hak pengasuhan jatuh kepada ibunya. Jika, anak tersebut telah lewat masa tamyiz, biasanya 7 tahun, maka anak tersebut diberikan pilihan antara ikut bapak atau ibunya,” jawab Dr. Imam Nakha’i saat sesi dialog interaktif. (Ari)