Sudah menjadi rahasia umum jika masyarakat tradisional cenderung menjelaskan mekanisme alam ataupun lainnya dengan penjelasan di luar nalar.

Misalnya, ketika terjadi petir bergemuruh nyaring dan keras dibarengi kaca rumah bergetar, meraka cenderung berargumentasi: Malaikat sedang bertasbih [biasanya dapat ditemukan di dalam kitab fiqih tradisional], sebagian lagi ada yang berujar Allah sedang murka terhadap mahluknya, ini azab dan bertanda peringatan bagi umatnya.

Argumen-argumen serupa tak hanya terjadi di Indonesia, di semua bangsa pun juga ada. Bangsa Viking di Nordik (sekarang negara-negara Skandinavia) ketika terjadi kilat petir, mereka langsung menyematkan kepada Dewa Thor yang sedang berkelahi dengan Dewa Odin dan raksasa Jord di atas awan, palu Dewa Thorlah yang memercikan petir. Mitodologi Yunani pun menjelaskan hal yang serupa, ‘palingan Dewa Zeus lagi marah’.

Miris memang ketika melihat hasil dari jawaban di atas, simpel, tanpa penelitian, dan mudah dipatahkan oleh argumen-argumen ilmu sains modern. Masyarakat yang lahir di milenium kedua dan telah mempelajari ilmu sains, pasti mereka menanggapi dengan ‘sinis’—ketiga jawaban di atas itu adalah ‘mitos’, tidak benar, mana mungkin petir hasil dari percikan dari dewa-dewa, dan murka Tuhan.

Masyarakat modern [yang mengenyam pendidikan dengan benar] memiliki metode atau epistemoligi tersendiri yang berbeda dengan masyarakat tradisional dalam menyikapi gejala-gejala alam.

Jika ada pertanyaan yang disungguhkan kepada masyarakat modern, kenapa ada petir? Pasti mereka menjawab: Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif yang saling berbenturan, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. [lihat: Petir – Wikipedia bahasa Indonesia].

Lantas yang jadi pertanyaannya adalah, kenapa terjadi cara pandang yang berbeda dalam menyikapi gejala alam, antara masyarakat tradisosinal dan masyarakat modern? Kenapa ada kesenjangan dikotomi antara mitos dan sains? Apakah mitosnya yang salah dan sainslah yang benar atau sebaliknya?

Demitologisasi Bultman

Sebelum lebih jauh, saya akan menjelaskan sedikit siapa itu Bultmann. Rudolf Karl Bultmann, nama lengkapnya. Ia lahir di Jerman pada 1884 dan meninggal pada 1976, hermeneutikawan yang sering dicerca pada zamannya, karena telah merumuskan teori demitologisasi.

Ia mencoba untuk menjelaskan atau mementaskan kembali dari pemahaman mitos ke pemahaman sains yang pada akhirnya mengilhami hermeneutikawan setelahnya: Paul Ricoeur.

Mitos, merupakan suatu dongeng, legenda atau pun kisah yang menjelaskan sesuatu sejarah masa lalu yang sudah lampau, bisa juga dikatakan dengan cerita-cerita purba, dari suatu tradisi, baik itu berasal dari Mesopotamia, Mesir Kuno, Yunani Kuno, Mohenjo Daro, atau pun trasisi kuno lainnya.

Tak hanya itu, saya juga mendefiniskan mitos bukan hanya pada dongeng saja. Tetapi suatu cara pandang yang sulit diterima dengan logika-logika modern. Cara pandang serupa merupakan ciri khas dari masyarakat tradisional, karena mitos adalah suatu cara analisa untuk mengungkapkan sesuatu gejala alam pada zamannya.

Di zaman itu, mitos merupakan disiplin ilmu pengatahuan tercanggih ‘mentereng’ yang dapat membedah dan menangkap apa yang ingin disampaikan oleh alam, itulah epistemologi mereka. Dengan mitos pesan alam dapat dicerna dengan baik dan benar, mitos pulalah alat tafsir paling ‘rasional’ pada masanya.

Seiring berkembanggannya ilmu pengetahuan, ditandai dengan peralihan disiplin ilmu mitos ke disiplin rasional [lihat sejarah Filsafat Yunani] dan ke disiplin sains modern. Maka oleh masyarakat modern, yang sudah terkontaminasi dengan ilmu sains modern, mistos justru cenderung dipandang sebelah mata, dikerdilkan dari khlayak ramai dikarenakan tidak sesuai denga realitas cara kerja alam.

Semenjak sains modern ditemukan, di sinilah sebenarnya letak posisi mitos sering dikambing hitamkan, lantaran sains modern menggunakan pendekatan empiris atau jika meminjam istilah Auguste Comte ‘pendekatan positivisme’ sehingga mitos tidak dapat diterima oleh nalar.

Dikotomis seperti ini, posisi Bultmann sangat berperan penting. Ia moncoba untuk menjembatani antara pemahaman di zaman mitos ke pemahaman sains modern, penjernihan kembali dan pengobjektifan untuk dipentaskan kembali.

Menurutnya metos memiliki maknanya tersendiri, nilai-nilai dan tidak usah di persimpangkan dari peradaban modern. Biarlah mitos ditetapkan seperti akan adanya, tanpa dikerdilkan, cobalah gali kembali dengan demitologisasi tanpa disingkirkan dari lintas sejarah. Toh, adanya sains modern berawal dari mitos-mitos.

foto penlis Kanzul Fikri
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Wakil Ketua IMABA (Ikatan Mahasiswa Bata-Bata) Wilayah Jabodetabek periode 2016-2017.
Facebook