Tulisan ini sebagai serial lanjutan dari tulisan saya sebelumnya dengan judul Demitologisasi, dari Mitos ke Sains [I].

Ketika masih hidup di lingkungan pesantren atau semasa mengenyam pendidikan di  pesantren, mungkin kita sering menganal leksikal ‘barokah’. Mulai dari ujung barat sampai ujung timur, barokah sering dimaknai sebagai: buah dari hasil perbutan baik kita lantaran tidak melanggar undang-undang pesantren, semisal patuh terhadap guru, beribadah dengan baik, tidak menyakiti antar santri, belajar dengan tekun, tidak mencuri, puasa sunah, dan lainnya.

Jika sudah mematuhi undang-undang pesantren dengan baik dan benar niscaya kelak akan memetik buahnya berupa barokah itu sendiri. Sebaliknya, andaikan tidak mematuhi undang-undang pesantren siap-siaplah beralamat mendapat balak/tidak mendapat barokah—pemahaman umumnya seperti itu. Ada andagium lama menarik ‘mencuri jarum di pesantren, bakalan mencuri kuda ketika sudah berhenti/keluar dari pesantren”.  Andagium ini bisa dimaknai, betapa dahsyatnya balasan balak ketika mencuri di pesantren.

Leksikal barokah, tidak barokah/balak, jika dihadapkan pada masyarakat yang sudah bersentuhan dengan sains modern, meraka pasti bertanya-tanya, apa itu barokah? Tak masuk ke logika akal?. Kenapa ini bisa terjadi.

Budi Hardiman dalam bukunya yang berjudul Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida akan mencoba untuk menjelaskan gejala tersebut. Masyarakat modern (masyarakat sains) cenderung menggunakan epistemologi memahami terlebih dahulu baru timbul rasa percaya (memahami ke percaya), sedangkan masyarakat tradisional cenderung memakai epistemologi percaya, barulah memahami (percaya ke memahami). (hal. 248).

Ringkasnya, masyarakat modern meletakkan rasa kritis di dalam pemahaman mereka terhadap gejala-gejala alam, berupa sesuai dengan logika, setelah itu barulah mereka dapat mempercayainya. Bebeda dengan masyarakat tradisional—iman (percaya) baru memahaminya. Sehingga, jika dihadapkan dengan penjelasan ‘barokah’, mereka tidak mempercainya lantaran tidak sesuai dengan cara berfikir masyarakat modern, karena tidak masuk kedalam logikanya.

Di sinilah teori demitologisasinya Bultmann mencoba untuk menjembatani akan hal itu, ia mencoba untuk memahami atau memberi pemahaman kembali hal-hal yang di luar nalar kepada masyarakat modern. Melalui teori demitologisasi, saya mencoba untuk mementaskan kembali apa itu barokah.

Mementaskan Barokah

Barokah atau berkah dalam Quran sering dikaitkan pada kelangengan kebaikan, banyak, dan bertambahnya kebaikan, begitupun di sunnah, yang sering dikaitkan pada pahala dan kebaikan.

Ketika ada salah santri yang tidak pernah melanggar undang-undang pesantren, mengimplementasikan  wejangan sang guru, dan belajar dengan giat, misalnya. Dia akan mendapakan kebaikan kelak ketika keluar/lulus dari pesantren—bak seorang petai yang memanen gabah.

Secara logika. Pertama, patuh terhadap undang-undang bercirikan orang tersebut pasti taat terhadap peraturan, tak mau ambil konsekuensi melangar. Kedua, jika ada santri yang selalu mengambil sisi positif wejangan dari sang guru, pasti ia selalu menegrjakan hal-hal yang baik. Ketiga, jika semenjak di pesantren sudah haus akan belajar, apalagi jika sudah keluar dari pesantren—sederhananya seperti ini.

Ini sebenarnya berbicara tentang mebangun kebiasaan, pembentukan karakter, dan nilai-nilai positif semejak di bangku pesantren, hematnya adalah pemupukan kebaikan semejak  usia dini. Jika pemupukan kebaikan dikerjakan semejak usia dini maka akan berdampak baik setelahnya, sebaliknya jika nilai-nilai dan tingkah lakunya sudah tak terpuji terpupuk semanjak dini (semisal mencuri) bukan tidak mungkin kelak ia akan semakin mencuri hal yang lebih besar.

foto penlis Kanzul Fikri
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Wakil Ketua IMABA (Ikatan Mahasiswa Bata-Bata) Wilayah Jabodetabek periode 2016-2017.
Facebook