Dunia publik relations yang perannya sangat penting dalam sebuah instansi, tentunya tidak bisa jauh bahkan tidak bisa dipisahkan dari kegiatan media relations, kedua-keduanya adalah simbiosis mutualisme yang saling memberikan manfaat. Media relations merupakan tulang punggung dari publik relations untuk memberikan informasi pada publiknya yang sangat luas, baik itu internal maupun eksternal. Maka dari itu, keberadaan sebuah media sangat dibutuhkan oleh praktisi publik relations. Adapun pengertian dari media sendiri adalah alat yang berbentuk apapun yang digunakan untuk memberikan informasi kepada siapa pun.

Untuk saat ini banyak sekali bentuk dan jenis media, dan hal ini akan semakin bertambah jumlahnya seiring dengan perkembangan zaman yang begitu pesat terutama dalam bidang teknologi dan informasi. Dahulu media sangatlah sederhana dan terbatas namun semakin lama semakin berkembang hingga ditemukannya pesawat telepon, telepon seluler dan sebagainya, hingga saat ini orang bisa memilih untuk menggunakan media apa saja. Dengan semakin banyaknya bentuk dan jenis maka semakin beragam atau semakin komplek pula keberadaan media relations.

Media itu sendiri sudah ada sejak manusia ada, konon menurut sejarah saat Nabi Adam diturunkan di bumi bagian barat dan hawa di Timur, Nabi Adam menggunakan angin sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada Hawa kalau beliau ada di Barat. Media angin yang digunakan Nabi Adam sungguh sangat unik jika dilihat dari kacamata zaman sekarang. Karena untuk saat ini, sepertinya tidak ada satu orang pun yang bisa menggunakan angin secara langsung sebagai media dalam komunikasi jarak jauh. Begitu pula dengan media relations yang sudah digunakan sejak berabad-abad silam. Bahkan, ada yang sangat unik jika dilihat dari kacamatan zaman sekarang, namun saat itu istilahnya belum ada.

Media Relations Nabi Sulaiman

Adanya media relations dikarenakan adanya instansi atau perusahaan untuk memberikan informasi kepada publiknya. Begitu pula dengan media relations Nabi Sulaiman yang digunakan untuk memberikan informasi pula kepada semua stakeholdernya. Seperti yang tercatat dalam sejarah, Nabi Sulaiman bukan hanya seorang Nabi, tapi beliau juga seorang raja yang sangat berkuasa saat itu. Kekuasaannya yang begitu luas tentunya membutuhkan media relations baik itu internal maupun eksternal dalam memberikan informasi. Kekuasaan Nabi Sulaiman tidak hanya bangsa manusia saja. Selain mengusai bangsa manusia beliau juga mengusai bangsa jin dan hewan. Karena beliau memang memiliki mukjizat bisa menaklutkan bangsa jin, angin dan hewan serta memahami bahasa hewan.

Dari mukjizat inilah kerajaan yang dipimpin Nabi Sulaiman memiliki media relations yang unik yang tidak dimiliki kerajaan manapun di dunia ini sampai hari kiamat. Media relations kerajaan Nabi Sulaiman unik karena memang publik dari kerajaan tersebut tidak seperti kerajaan-kerajaan lainnya yang pernah ada di seluruh dunia. Dari berbagai publik tersebut, Nabi Sulaiman bisa menggunakan bangsa yang berbeda sebagai media relationsnya untuk menghadapi publik dari bangsa yang berbeda pula. Bukti tersebut seperti kisah Nabi Sulaiman saat mengajak Ratu Bilqis penguasa negeri Saba` (Yaman) yang menyembah matahari untuk menyembah Allah Swt. Kabar tentang adanya kerajaan Bilqis beliau peroleh dari seekor burung hud hud (sejenis burung pelatuk) yang datang terlambat saat adanya pertemuan antara Nabi Sulaiman dengan bangsa hewan dan jin.

Dalam ajakan tersebut Nabi Sulaiman tidak datang langsung ke negeri tersebut. Tapi, beliau menyuruh seekor burung hud hud (yang membawa berita) sebagai media relationsnya untuk menyampaikan surat tersebut. Sebagai burung yang ditugaskan menjadi media relations burung hud-hud benar-benar menyampaikan surat tersebut dengan meletakkannya di istana ratu Bilqis yang sangat megah. Setelah meletakan surat tersebut burung hud hud tidak langsung pulang, tetapi ia mengintai atau menyelidiki apa reaksi ratu Bilqis selanjutnya. Hal ini dilakukan oleh burung hud hud untuk menjaga kepercayaan Nabi Sulaiman terhadap dirinya. Setelah mengetahui rencana ratu Bilqis untuk mengirim utusan terbaiknya ke kerajaan Nabi Sulaiman. Burung hud hud pun pulang dan memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam sepenggal kisah di atas sudah sangat jelas adanya praktik media relations yaitu adanya saling membutuhkan antara instansi (kerajaan) dengan media (burung hud hud). Nabi Sulaiman menyuruh burung Hud hud menguji kejujurannya pada burung tersebut sebagai media tanpa menyuruh yang lainnya untuk menemani atau menyuruh bangsa lain. Percayanya Nabi Sulaiman pada berita tersebut sudah menggambarkan adanya kepercayaan pada suatu media yang kredibel yang diperankan oleh burung hud-hud. Begitu pula dengan burung hud hud untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, ia melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh dengan menggali semua informasi yang diperlukan sehingga Nabi Sulaiman semakin mantap pada dirinya.

Selain itu, kekredibelan burung hud hud sebagai media bisa dilihat dari berita yang ia peroleh yang benar-benar baru sehingga tidak diketahui oleh seorang raja yang kekuasannya sangat luar biasa. Selain baru, berita tersebut sangatlah penting, sehingga dari berita tersebut terjadinya peristiwa besar yang melibatkan kedua wilayah. Jika dilihat dari konteks saat ini, burung hud hud adalah media besar yang sangat kredibel sehingga berita-beritanya dipercaya oleh semua golongan. Kegiatan media relations Nabi Sulaiman dengan burung Hud hud ini terdapat dalam al-Qur`an surat An-naml ayat 20 sampai 27. Kegiatan media relations yang dilakukan Nabi Sulaiman dengan burung hud hud bisa dijadikan contoh untuk kegiatan media relations saat ini.

 

foto penlis Sihabuddin
Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan lulusan tahun 2010 Asal Kadur. Saat ini sedang menempuh pendidikan tahap akhir di Pascasarjana (S2) Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Facebook