Kaum perempuan dan segala bahasan yang berkenaan dengan dirinya sangat sering menjadi topik aktual dalam berbagai forum, dari forum formal sampai pada forum-forum tidak formal sekalipun. Hal tersebut tentunya serah dengan perkembangan waktu, upaya yang mengatasnamakan sebagai bagian dari kebangkitan kaum perempuan muncul di permukaan. Dari yang bersifat ‘menuntut’ atau bahkan ‘gugatan’ akan peran, fungsi dan potensi kaum perempuan untuk juga diakui dan tidak lagi diposisikan sebagai second class dalam kehidupan masyarakat sosial.

Ada yang muncul dengan rumusan persamaan gender dan lain sebagainya. Kendati bahasan ini sejatinya bukanlah ‘barang baru’dalam kajian keilmuan, lebih-lebih dalam kajian islam. Karena hampir setiap pemikir islam di masa lalu selalu memiliki bahasan ekslusif tentang perempuan. Namun, diakui atau tidak semenjak begitu gencarnya isu ‘kesetaraan’ ini muncul dengan segala bentuk dan jenisnya, justru kaum perempuan mengalami kekacauan peran (role confusion).

Akhir-akhir ini kaum perempuan dihadapkan pada satu kondisi yang sangat dilematis. Dari dari sisi, perempuan dengan peran dan potensinya sangat diharapkan untuk menjadi ‘pemeran’ yang dipuja, akan tetapi dalam sisi yang lain justru dilecehkan baik dalam lingkungan keluarga, komunitas kelembagaan atau bahkan pemerintahan. Tidak sedikit kaum perempuan yang menjadi magnet dalam dinamika estetik kultural, ekonomi bahkan politik praktis sekalipun. Dan yang lebih mencengangkan akhir-akhir ini adalah mayoritas kasus di kalangan para elit justru tidak lepas dari peran serta kaum perempuan, bisa dilihat dalam beberapa kasus besar yang menimpa para elit.

Dari kasus lama sampai pada kasus yang baru, semua memberikan indikator dan bahkan kesimpulan yang sama yakni adanya peran serta kaum perempuan dalam kasus-kasus besar di negeri ini. Tidak sedikit kaum perempuan yang menjadi target agresifisme kalangan elit dengan perilaku hewaniyahnya (animal behaviour). Terseretnya kaum perempuan dalam mecetak dan menciptakan kultur vulgar mengakibatkan dampak yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat seperti distabilitas dan membuminya prinsip serba bisa dan serba boleh.

Diakui atau tidak, trend kehidupan kaum perempuan indonesia akhir-akhir ini mengantarkan kaum perempuan itu sendiri pada lubang keterjajahan yang bersifat artifisialistik, hal ini dialami oleh kaum perempuan yang konsentrasi atau kaum perempuan yang mempunyai akses besar terhadap kualitas dan kuantitas keangkuhan gaya hidup modernisme dan kapitalisme yang oleh sebagian disebut sebagai sebuah kebangkitan. Tidak sedikit kaum perempuan yang telah terperangkap masuk dalam virus dan bias pertukaran nilai-nilai dan orientasi yang notabeni hanya bersifat kemasan atau bungkus yang tidak lagi mengutamakan esensi dan substansi, kualitas estetika, moral atau bahkan sama sekali tidak menunjukkan aktualitas tanggung jawab kaum perempuan sebagai pilar keluarga, peradaban dan pembangunan bangsa melalui pola asuhnya terhadap anak-anak mereka sebagai generasi masa depan yang diharapkan mampu mengisi masanya.

Perubahan sosial-kultural, desakan-desakan industrialisasi dan style kehidupan yang mengalami perubahan di berbagai sendi dan serba buram menjadikan pola sudut pandang yang krisis tujuan membangun, menyelamatkan dan berkonsentrasi secara spiritual sudah melangkah begitu cepat dan jauh. Kaidah-kaidah normatis yang awalnya diakui sebagai sebuah pijakan, akhir-akhir ini justru semakin digiring pada lubang inferior dan tidak jarang hanya diposisikan sebagai dagelan birokratis, atau bahkan hanya disebut sebagai norma yang berlaku untuk kalangan agamawan dan tidak lagi menjadi kekuatan normatif-integratif yang berlaku universal sebagai kontrol dan pengendali dinamika sosial, khususnya berkenaan dengan kaum perempuan.

Namun, semua yang dipaparkan di atas bukan berarti menafikan fakta bahwa tidak sedikit dari kaum perempuan yang telah berhasil menunjukkan prestasi-prestasi yang cemerlang dan berangkat dari etos dan cita-cita tentang kepeduliannya terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. Seperti dalam penanganan kasus-kasus sosial dan peran kaum perempuan dalam dunia pendidikan yang begitu dirasakan manfaatnya. Akan tetapi, keberhasilan para kaum perempuan tersebut masih belum berimbang dengan para kaum perempuan yang gagal membangun jati dirinya sebagai wanita yang mempunyai integritas moral yang agung, termasuk banyaknya angka yang menunjukkan kegagalan kaum perempuan meng-agamakan keberhasilan yang diraihnya.

Munculnya ketidak berimbangan pola sudut pandang memang tidak jarang menjadikan seseorang kesulitan untuk membedakan antara mana yang merupakan prestasi dan bentuk penghargaan dengan mana yang merupakan bagian dari lingkatan setan yang tidak jarang dianggap sebuah penghargaan. Tidak sedikit kaum wanita yang terjebak dengan hanya bisa menentukan pilihan yang tepat, namun justru tidak benar dan sangat menyimpang dari tuntunan yang semestinya dipatuhi.

Pola kesetaraan, emansipasi yang didengungkan berbalik arah dari arah dan tujuan awalnya. Jargon kesetaraan dan emansipasi yang seharusnya membebaskan wanita dari perbudakan malah menjadi corong yang begitu besar dan kuat menjerumuskan kaum perempaun pada konteks perbudakan baru. Dengan demikian, adanya ambisi yang berlebihan (over oriented) dalam memahami kesetaraan dan emansipasi telah mengakibatkan kaum perempuan dan para pendengung isu gender dan emansipasi tersebut pada jurang kesalahan yang amat dalam.

Pemahaman akan kesetaraan dan emansipasi seharusnya tidak dipahami dengan dasar egoisme dan ambiguitas, sehingga tidak berubah arah dari tujuan awal menjadi sebuah malapetaka dikemudian hari bagi kaum perempuan. Pemahaman yang utuh akan tugas pokok, peran dan fungsi kaum perempuan sangatlah menjadi pilihan mutlak untuk tetap melindungi kaum perempuan dari kesalahan massal seperti yang marak terjadi akhir-akhir ini.

foto penlis Ahmad Khusairi
Santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Asal Situbondo